Sepekan Uji Coba Buka, Eco Green Park di Kota Batu Sepi Pengunjung - Tugujatim.id

Sepekan Uji Coba Buka, Eco Green Park di Kota Batu Sepi Pengunjung

  • Bagikan
Burung Pelican, satu dari ribuan unggas koleksi Eco Green Park. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Burung Pelican, satu dari ribuan unggas koleksi Eco Green Park. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

BATU, Tugujatim.id – Eco Green Park menjadi 1 dari 3 wahana wisata di Jatim Park 2 yang dibolehkan buka meski Kota Batu masih berada di taraf PPKM Level 3. Buka sejak 11 September 2021 dengan berbagai protokol kesehatan ketat ternyata masih belum mampu mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung.

Manager Operasional Eco Green Park, Deny Rinasari sepekan buka, angka kunjungan ke Eco Green Park terbilang miris. Jika biasanya disana bisa menerima kunjungan 1.000-2000 orang, kini masih tidak lebih dari 100 orang saja.

Menurut dia, mayoritas pengunjung banyak memilih putar balik lantaran Eco Green Park memberlakukan pembatasan usia masuk, khususnya anak-anak di bawah usia 12 tahun. Padahal rata-rata pengunjung datang untuk merekreasikan anak-anaknya.

”Rata-rata pangsa pasar wisata disini kan keluarga dan anak. Kalau si anak gak boleh masuk ya mereka juga gak mau. Akhirnya ya banyak yang putar balik,” ungkapnya pada tugumalang.id, Minggu (19/9/2021).

Burung pemakan bangkai, satu dari ribuan unggas koleksi Eco Green Park. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Burung pemakan bangkai, satu dari ribuan unggas koleksi Eco Green Park. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Dia berharap pandemi bisa segera berakhir sehingga aktivitas ekonomi pariwisata di Kota Batu bisa kembali normal. Bagi Eco Green Park, keberadaan pengunjung sangat penting bagi keberlansungan nafas para satwa yang semuanya adalah jenis aves atau unggas ini.

Total ada sekitar 1.200 hewan dan 60 jenis spesies satwa yang pakannya bergantung pada pengunjung disini. Meski begitu, sejak tutup tak beroperasi sejak 2 bulan lalu tak membuat pihak manajemen ikut mengurangi jatah pakan satwanya.

Kata Rini, meski harga sejumlah pakan di pasaran ikut naik, pihaknya tetap menyediakan jumlah pakan satwa seperti hari-hari biasa. Seperti satwa flamingo misalnya, yang menyambut wisatawan sejak di awal pintu masuk dengan keeksotisan warna bulu dan kaki rampingnya.

Flamingo, adalah satwa eksotis pemakan udang. Jika konsentrasi pakan udang ikut dikurangi, maka akan berpengaruh terhadap warna bulu mereka yang ikut memudar. Jika memudar, maka satwa ini jelas tidak memiliki daya tarik.

Selain itu, pakan paling mahal terletak di daging ayam fillet. Biasanya digunakan untuk konsumsi elang dan burung pemakan bangkai yang juga ada di Eco Green Park. Harganya, kata Rina di pasaran kini mulai naik.

”Begitu juga satwa-satwa yang lain, secara pakan tetap kita jaga meski kita tutup. Bagaimanapun mereka juga aset hidup yang harus dijaga. Jadi kami tidak mengurani pakan mereka sedikitpun,” kata Rina.

”Sejak 2 bulan tutup, semua satwa kami masih sehat. Hanya ada beberapa yang sakit karena ada perubahan suhu di Kota Batu. Tapi sudah kita karantina dan obati,” imbuhnya.

Sebab itu dia berharap pemerintah punya sedikit fleksibilitas dalam regulasi pembukaan tempat wisata. Terutama di wisata yang mengandalkan diri dari aset hidup seperti binatang yang harus ikut dijaga.

Kebijakan pembatasan usia ini juga dikeluhkan oleh Taman Rekreasi Selecta yang juga masuk daftar tempat wisata di Kota Batu yang diizinkan buka. Sebab itulah, mereka tetap memilih tutup karena tak ingin berkonfrontasi dengan pengunjung.

Dirut PT Selecta, Sujud Hariadi mengatakan tidak sampai hati membuat kecewa para pengunjung yang sudah jauh-jauh datang, namun pada akhirnya tidak boleh masuk. Kata dia, itu bisa berdampak pada kekecewaan berkepanjangan.

”Kami tetap tutup dan memilih menunggu Kota Batu turun ke level 2. Meski memang berat, kami tetap menunggu yang pasti-pasti saja,” kata dia.

Menurut dia, wahana wisata air juga memiliki pangsa pasar mayoritas anak-anak. Padahal, secara teknis, menurut dia wisata air adalah wahana paling aman. ”Sejauh ini saya belum pernah melihat ada klaster penularan di tempat wisata, apalagi di wisata air dan yang sifatnya outdoor,” kata dia.

  • Bagikan