MALANG, Tugujatim.id – Kamu mau mengeksplorasi hidden gem di Kabupaten Malang, Jawa Timur? Jangan sampai ketinggalan dengan cagar budaya tersembunyi, namanya Situs Petirtaan Ngawonggo. Seperti apa wisata sejarah ini?
Ya, Kabupaten Malang memang memiliki puluhan bahkan ratusan wisata alam yang tersembunyi dan belum banyak dieksplor wisatawan. Salah satu hidden gem di Kabupaten Malang yang sangat cocok bagi pengunjung yang ingin berwisata alam sekaligus melihat langsung peninggalan kerajaan terdahulu bisa mengunjungi Situs Petirtaan Ngawonggo.
Baca Juga: Makin Cantik! New Wisata Wendit by Nicole’s Tetap Pertahankan Konsep Budaya dan Edukasi
Lokasi Wisata Sejarah
Berlokasi di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, konon situs ini disebut sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Situs tersebut juga salah satu situs tertua di Malang.
Pengelola Wisata dan Juru Pemeliharaan Muhammad Yasin mengatakan, Situs Petirtaan Ngawonggo ini fokus pada pelestarian alam dan cagar budaya yang berada di lokasi sumber mata air.

“Ya, kami menjaga cagar budaya di petirtaan ini. Kalau untuk wilayah wisata ini ya lahan milik seseorang yang dikelola sekelompok orang,” ujar Yasin.
Situs Petirtaan Ngawonggo diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno atau biasa dikenal Medang Kamulan yang dipimpin oleh Mpu Sindok. Berdasarkan sumber sejarah yang beredar di Prasasti Wurandungan atau Prasasti Kanuruhan bertuliskan tahun 943 Masehi, di mana dikenal dengan tempat suci Kaswangga.
“Biasanya orang sini nyebutnya Reca soalnya banyak arca di lokasi sumber mata air, tapi kalau perempuan yang haid tidak boleh ke sana risikonya tinggi. Kalau melanggar bisa sawanen (tidak enak badan secara tiba-tiba),” ujarnya.

Situs ditemukan pada April 2017 dan diresmikan untuk zonasi dan ekskavasi cagar budaya pada Mei 2017 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Kegiatan ekskavasi itu dibagi menjadi empat klaster pada Situs Ngawonggo. Klaster pertama 1A ialah relief perwujudan dewa-dewi, ada 7 relief dengan 9 panel. Lalu 1B pada kolam dan ukiran relief meander.
Klaster kedua, 2A dan 2B berada di dua kolam berjajar relief pusat bumi dan meander. Klaster ketiga pada tebing dengan relief meander. Klaster keempat merupakan relief menggambarkan makhluk Gana (penyangga alam semesta).

Kini bukan sebagai salah satu sejarah cagar budaya yang perlu dilestarikan, dia mengatakan, tetapi sudah dikelola dan dijadikan sebuah wisata alam dengan aneka kuliner tempo dulu di Tomboan Ngawonggo.
“Kalau untuk kuliner, di sini namanya suguhan jadi dayoh (tamu/wisatawan) yang berkunjung akan disediakan kuliner, baik camilan tradisional, aneka wedangan, dan nasi semua disuguhkan. Kalau untuk biaya, nanti ada kotak asih namanya, bebas kasih berapa saja,” jelasnya.
Yasin menjelaskan, Situs Petirtaan Ngawonggo dan Tomboan Ngawonggo dikelola dengan prinsip asah, asih, dan asuh. Hal ini menjadi utama sebagai bahan edukasi di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

“Tiket masuk juga nggak ada ya, parkir juga sudah disediakan. Semuanya bebas berkunjung asalkan janjian dulu. Kalau nggak janjian, ya nggak ada suguhan. Kan yang masak ya sesuai kalau ada janjian saja,” lanjutnya.
Wisata sejarah ini pun telah dibuka untuk masyarakat umum sejak 2020 silam. Sudah banyak sekali wisatawan yang mengenal Situs Ngawonggo, bahkan kolam suci mata air juga digadang-gadang bisa digunakan untuk ritual.
“Ya kalau mau mandi semedi atau ritual bisa di mata air di sana, yang penting janjian aja,” tuturnya.
Fasilitas
Fasilitas di Situs Ngawonggo terbilang cukup memadai bagi wisatawan. Sebab, banyak sekali yang bisa dinikmati. Di antaranya dapur kayu, tempat makan dengan suguhan makanan-minuman hingga jajanan, musala, kamar mandi, tempat bersantai gazebo dan gubuk, dan area parkir roda empat juga roda dua.
Cara Reservasi dan Jam Operasional
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung dan mencoba kuliner khas di Situs Ngawonggo, tentu wajib reservasi terlebih dahulu sebelum berkunjung. Tujuannya sebagai konfirmasi bahwa akan ada tamu yang berkunjung.
Selain itu, karena tempat yang terbatas juga memastikan suguhan atau jamuan mencukupi bagi wisatawan. Sebab, dia mengatakan, jamuan atau suguhan hanya disediakan apabila melakukan janjian atau reservasi saja.
Cara reservasinya cukup mudah yaitu melalui pesan instagram (DM) resmi Situs Petirtaan Ngawonggo yang dapat diketahui melalui internet. Untuk jam operasionalnya dibuka mulai pukul 09.00-16.00 WIB, kecuali hari Kamis tutup.
Baca Juga: “Splash Color Party” Sambut Liburan Seru di Hawai Waterpark Malang, Selalu Ada yang Baru!
Khas Situs Ngawonggo
Selain sebagai cagar budaya yang selalu menjadi titik utama, Situs Ngawonggo juga disebut unik karena semua cara memasak suguhan untuk tamu dilakukan secara tradisional.
Cara tradisional yang dimaksud ialah dengan menggunakan tungku kuno yang terbuat dari batu bata yang disusun. Selain itu, juga menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar yang diambil di sekitar wisata.

Uniknya, satu suguhan yang sangat menarik perhatian membawa wisatawan bernostalgia dengan nuansa di pedesaan ialah kue apem yang dibungkus daun nangka dibentuk kerucut. Kuliner ini sudah sangat jarang ditemui dengan model kue apem seperti ini jika bukan orang Jawa terdahulu yang sering menerapkannya saat acara selamatan.

Selain itu, wedangan yang disuguhkan bukan hanya air putih saja. Wisatawan bisa menikmati wedang tradisional dari rempah langsung diproses menggunakan tumbuk tradisional dan diseduh dengan air panas yang dimasak menggunakan tungku. Salah satu jenis wedang yang menarik ialah Wedang Tomboan Abang.
“Ini namanya Wedang Tomboan Abang yang berkhasiat menghilangkan pegal-pegal, capek, dan linu. Ini dari kayu secang, jinten, kayu manis, serai, kapulaga, bunga lawang, dan jahe,” ucapnya.
Sementara ulasan lengkap tentang wisata Kabupaten Malang lainnya bisa Anda lihat di situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Malang di https://matic.malangkab.go.id. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Sinta Ayudiya
Editor: Dwi Lindawati








