JEMBER, Tugujatim.id – Petugas masih melakukan pencarian intensif terhadap korban bencana banjir bandang Jember yang tersapu banjir pada Senin (2/2/2026) malam.
Korban yang hilang terseret arus aliran Sungai Badean di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember diidentifikasi bernama Wahid, pria berusia 52 tahun yang menjabat sebagai staf Seksi Pemerintahan di Kecamatan Panti.
Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Sekdes Pakis. Tragedi terjadi sekitar pukul 19.40 WIB ketika luapan air sungai yang membawa endapan lumpur, batang bambu, dan serpihan kayu menyapu permukiman penduduk.
“Bencana dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sedang yang mengguyur kawasan hulu sejak sore hari pukul 14.00 WIB. Dua setengah jam berselang, volume air sungai meningkat drastis dengan karakteristik berwarna kecoklatan akibat kandungan lumpur yang tinggi,” ujar Kepala Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Edy Budi Susilo.

Menjelang malam, aliran deras memasuki zona permukiman di sepanjang tepian sungai. Selain menelan korban jiwa, banjir juga merusak properti warga dengan menghancurkan bagian dapur beberapa bangunan rumah.
Berdasarkan pencatatan awal, empat unit dapur rumah hancur akibat hantaman banjir, yakni milik Yuliatin (37 tahun), Wahid (52 tahun), Madruji (51 tahun), dan Samad (65 tahun).
Lebih lanjut, enam unit hunian terendam material lumpur dengan ketinggian mencapai 15 sentimeter, sementara sekitar 30 rumah lain mengalami genangan di area pekarangan.
Situasi darurat mendorong 30 warga mengungsi ke rumah-rumah penduduk terdekat. Sementara itu, keluarga dari korban yang terseret memilih berlindung di kediaman sanak saudara yang berlokasi dekat kantor balai desa.
BACA JUGA: Banjir Bandang Terjang Kecamatan Panti Jember, Puluhan Warga Mengungsi
Tim Tanggap Darurat BPBD Jember berkolaborasi dengan relawan dan aparatur desa segera menginisiasi operasi pencarian, evakuasi warga di zona bahaya, dan inventarisasi dampak bencana.
Upaya penanganan berlangsung hingga menjelang tengah malam pukul 23.50 WIB.
Edy menyampaikan bahwa operasi pencarian menghadapi hambatan karena minimnya pencahayaan dan terjadinya gangguan aliran listrik di malam kejadian.
Setidaknya operasi pencarian dilanjutkan hari Selasa (3/2/2026) dengan dukungan tim SAR dan tambahan personel sukarelawan.
“Keterbatasan visibilitas di malam hari menjadi penghambat utama. Kami akan mengintensifkan pencarian di pagi hari dengan mengerahkan lebih banyak personel dan peralatan pendukung,” jelasnya.
Update terakhir menunjukkan volume air Sungai Badean telah mengalami penurunan dengan kondisi langit berawan. Meski demikian, warga tetap berada di lokasi pengungsian sebagai tindakan preventif terhadap kemungkinan banjir lanjutan.
Selain prioritas pencarian korban, program pemulihan pascabencana juga dipersiapkan meliputi sanitasi lumpur di jalur transportasi dan hunian warga, pengadaan layanan dapur komunal, serta fasilitas medis bagi para korban terdampak.
Edy juga mengeluarkan peringatan kepada komunitas yang bermukim di sekitar aliran sungai untuk mempertinggi kesiagaan mengingat prediksi cuaca buruk masih berlanjut di awal bulan Februari.
“Kami menghimbau seluruh masyarakat, terutama yang berdomisili di zona rawan banjir, agar tetap siaga dan segera melakukan evakuasi mandiri bila terjadi lonjakan debit air secara tiba-tiba,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febianto
Editor: Darmadi Sasongko








