MOJOKERTO, Tugujatim.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mengusulkan status tanggap bencana pada Selasa (14/2/2023), setelah sehari sebelumnya masih berstatus siaga darurat bencana.
Usulan tersebut berdasarkan pertimbangan potensi bencana hidrometeorologi yang masih menghantui 18 kecamatan di Mojokerto, Jawa Timur, hingga Maret mendatang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto, Djoko Supangkat mengatakan bahwa naiknya status siaga bencana menjadi tanggap bencana berdasarkan hasil kajian yang matang. Salah satunya kajian berasal dari kejadian banjir yang melanda tujuh kecamatan pada Kamis (9/2/2023) lalu.
“Suratnya sudah diproses bagian hukum. Jadi berdasar hasil kajian, kita naikkan statusnya menjadi tanggap bencana. Banyaknya daerah terdampak sudah selayaknya mendapat perhatian penuh dari berbagai elemen di Mojokerto,” katanya.
Lebih lanjut, dengan dinaikkannya status dari siaga menjadi tanggap bencana, Djoko berharap sumber daya yang dimiliki organisasi perangkat daerah (OPD) bisa dikerahkan untuk penanganan bencana. “Jadi secepatnya status itu kita sosialisasikan kepada seluruh OPD agar bergerak bareng-bareng,” tambah Djoko.
Kata dia, dinaikkan statusnya agar seluruh OPD bisa bergerak bersama mengatasi bencana karena daerah terdampak sangat membutuhkan bantuan. Tidak hanya bantuan berupa barang tapi juga berupa uang juga.
Selain bantuan logistik, Djoko berucap bahwa lahan pertanian terdampak juga butuh penanganan segera, terutama bantuan berupa bibit dan pupuk untuk warga. “Hektaran pertanian butuh bantuan segera, baik dari segi bibit maupun pupuk. Nanti kita koordinasi dengan dinas terkait,” ujarnya.
Tak hanya itu, naiknya status tanggap bencana membuat Djoko memberi beberapa imbauan agar lebih berhati-hati.
“Utamanya untuk menjaga lingkungan dan antisipasi bencana, mohon jangan buang sampah ke sungai, hindari bepergian ke dataran tinggi apabila terjadi hujan deras, melaporkan kejadian bencana kepada BPBD, dan selalu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi,” pesan alumni STIE Mahardika Surabaya, Jawa Timur, itu.








