TUBAN, Tugujatim.id – Hanya dalam satu tahun, angka stunting di Tuban menyusut tajam hingga menyentuh 11,3 persen. Capaian ini bukan sekadar statistik, tapi wujud nyata dari kerja bersama seluruh lapisan masyarakat yang bergandengan tangan demi masa depan anak-anak Kabupaten Tuban.
Laporan resmi Kementerian Kesehatan RI lewat Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menempatkan Tuban sebagai salah satu daerah dengan penurunan stunting paling signifikan. Tahun ini, Pemkab Tuban sukses menurunkan prevalensi stunting dari 17,8 persen (2023) menjadi 11,3 persen, jauh melampaui standar nasional sebesar 14 persen.
Langkah maju ini disambut penuh syukur oleh Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky. Ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan ini tidak lahir dari satu pihak, melainkan hasil sinergi dari semua lini—pemerintah daerah, tokoh masyarakat, kader kesehatan, hingga para ibu yang menjaga asupan anaknya setiap hari.
“Ini hasil gotong royong. Kita tidak mungkin menurunkan angka stunting tanpa dukungan dan kerja sama lintas sektor. Semua terlibat, dari desa sampai kabupaten,” tegas Mas Lindra, sapaan akrabnya, Rabu (28/5/2025).
Data beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan signifikan yang telah dicapai Kabupaten Tuban. Tahun 2021, angka stunting masih berada di 25,1 persen. Artinya, dalam empat tahun terakhir, prevalensinya anjlok lebih dari setengah. Ini menandakan ada pendekatan yang tepat, berkelanjutan, dan diterima masyarakat.
Mas Lindra menjelaskan, pendekatan yang digunakan tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memperbaiki lingkungan dan pola pikir keluarga. Edukasi soal pola asuh, sanitasi, dan perawatan ibu hamil menjadi bagian penting dalam strategi besar tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Esti Surahmi menuturkan, penurunan stunting sebesar 6,5 persen hanya dalam satu tahun menunjukkan langkah besar yang telah dicapai.
Menurutnya, kerja keras tim di lapangan, termasuk posyandu dan para bidan desa, menjadi motor penggerak utama.
“Kami turun langsung ke lapangan. Upaya edukasi gizi kami fokuskan sejak remaja, meliputi kelompok calon pengantin hingga ibu hamil. Kami juga dorong masyarakat menerapkan sanitasi bersih. Semua saling melengkapi,” jelas Esti.
BACA JUGA: SIG Salurkan Sembako untuk Korban Banjir Sungai Bengawan Solo di Tuban
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menjadikan Tuban sebagai wilayah bebas buang air besar sembarangan (Open Defecation Free/ODF). Ini penting untuk mencegah infeksi dan mendukung pertumbuhan balita yang optimal.
Meski angka sudah jauh membaik, Pemkab Tuban menegaskan tak akan lengah. Upaya pencegahan dini akan terus diperkuat agar generasi mendatang tumbuh sehat tanpa dibayangi risiko stunting.
“Kita belum selesai. Justru sekarang saatnya memperkuat fondasi agar tidak kembali naik,” kata Esti menutup pernyataannya.
Pemkab juga mendorong peran aktif komunitas, termasuk kelompok PKK, tokoh agama, hingga guru PAUD, untuk terus mengawal kesehatan ibu dan anak. Tujuannya bukan semata menurunkan angka, tetapi menciptakan masa depan yang lebih kuat bagi generasi Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








