Tugujatim.id – Feast dan Hindia, salah satu band indie asal Indonesia, tengah menarik perhatian masyarakat dengan gaya musik unik dan lirik-liriknya yang penuh makna. Melalui lirik yang tajam dan melodi yang membakar, mereka membuktikan bahwa musik adalah alat perlawanan yang tidak lekang oleh waktu.
Feast dan Hindia, grup musik rock ini beranggotakan Daniel Baskara Putra, Adnan Satyanugraha Putra, Dicky Renanda Putra, dan Fadli Fikriawan Wibowo. Feast dan Hindia muncul sebagai anomali yang memesona di tengah gemerlapnya industri musik. Mereka bukan hanya sekadar band atau musisi solo, melainkan juru bicara generasi yang berani mengemas keresahan sosial dan politik menjadi sebuah deklarasi.
Mengenal Band Rock Feast dan Hindia
Dipelopori oleh Baskara Putra sebagai vokalis, bersama Adnan dan Diki sebagai gitaris, serta Awan pada bass, mereka menciptakan musik yang energik dan penuh pesan. Wajar jika popularitas Feast sering kali tidak lepas dari sosok Baskara.
Lagu Feast dan Hindia “Peradaban” menjadi tamparan keras bagi masyarakat yang terjebak dalam apatisme, mengajak kita untuk membuka mata. Dalam video klipnya, seorang penggemar dengan nama akun @elvguard menuliskan komentar yang mencerminkan semangat lagu tersebut.
“Munafik, kepalsuan, ilusi berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi dan ketidakadilan dengan dasar normal yang pernah dihancurkan, Indonesia kami mencintaimu namun apa yang engkau simpan membuat kami sakit,” tulisnya di kolom komentar.
Namun, karya Feast dan Hindia tidak berhenti. Lewat lagu “Kami Belum Tentu”, mereka secara gamblang menyuarakan kegelisahan akan masa depan yang serba tidak pasti, sebuah keresahan yang sangat dekat dengan anak muda saat ini.
Puncak dari kegarangan lirik mereka mungkin ada di lagu “Gugatan Rakyat”. Lagu ini menceritakan perjuangan rakyat melawan pemerintahan korup, adalah sebuah manifesto perlawanan. Liriknya seperti “Rapatkan barisan petir di kepalan tangan” sebuah ajakan untuk menyatukan kekuatan dan menunjukkan bahwa perubahan sejati hanya bisa diciptakan oleh rakyat itu sendiri. Lagu ini bukan sekadar narasi fiksi, melainkan sebuah cerminan realitas yang menuntut pertanggungjawaban.
Di sisi lain, Hindia, proyek solo Baskara Putra, menawarkan perlawanan yang lebih personal dan intim. Dia membawa kita menyelami perjuangan yang terjadi di dalam diri. Lagu “Evaluasi” bukan hanya tentang patah hati, melainkan sebuah renungan jujur tentang kegagalan dan keberanian untuk bangkit kembali. Ini adalah perjuangan melawan ekspektasi, melawan rasa tidak aman, dan menemukan kekuatan dari kerapuhan diri.
Lebih lanjut, keresahan mereka tentang masa depan juga tercermin dalam lagu “5 Tahun Lagi, Makan Apa?” Lirik-liriknya seolah menjadi pertanyaan retoris yang menggantung, sebuah refleksi atas kekhawatiran generasi muda terhadap stabilitas ekonomi dan nasib yang belum pasti. Lagu ini berhasil menangkap kegelisahan umum, mengubahnya menjadi sebuah pesan yang relevan dan menggugah.
Secara keseluruhan, Feast dan Hindia adalah dua sisi dari koin yang sama: perlawanan. Feast menyuarakan protes eksternal, sementara Hindia merangkul perjuangan batin. Keduanya dengan caranya masing-masing, berhasil mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki suara. Mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi kita untuk berpikir, peduli, dan berani untuk bersuara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Novia Hilmiasari/Magang
Editor: Dwi Lindawati








