Sukses Pikat Perhatian melalui “Mencuri Raden Saleh”, Inilah 5 Film Terkenal Lain Karya Angga Dwimas Sasongko

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Sutradara Angga Dwimas Sasongko, sosok di balik karya hebat di perindustrian film Indonesia. (Foto: Pinterest)

MALANG, Tugujatim.id – Bulan Agustus memang dihiasi oleh film-film kualitas tinggi yang memikat perhatian, salah satunya Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko. Film dengan genre heist yang rilis pada 25 Agustus 2022 ini digandrungi karena berhasil mengemas cerita pencurian lukisan oleh 6 anak muda dengan kualitas setara film Hollywood.

Bahkan di hari kelima penayangannya, Mencuri Raden Saleh berhasil meraih setengah juta penonton. Tidak heran, sang sutradara Angga Dwimas Sasongko makin dikenal dan dipuji keahliannya dalam membuat film. Tak hanya Mencuri Raden Saleh, ada film karya Angga Dwimas Sasongko yang nggak kalah kerennya, lho! Apa sajakah?

1. Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014)

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Poster resmi film Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang tayang 19 Juni 2014. (Foto: Pinterest)

Cahaya dari Timur: Beta Maluku adalah film karya Angga Dwimas Sasongko dan diproduseri oleh mendiang Glenn Fredly yang dirilis pada 19 Juni 2014. Aktor ternama Chicco Jerikho digaet menjadi pemeran utamanya. Selain itu, ada Shafira Umm, Abdurrahman Arif, Burhanuddin Chorella, hingga Wanda Hamidah, dan Glenn Fredly turut berperan di film ini.

Film ini dikenal karena diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Ambon. Dulunya, di daerah bernama Tulehu sering berkonflik mengenai agama. Namun, seorang lelaki bernama Sani Tawainella berhasil menyatukan dan meredakan konflik itu dengan sepak bola.

Di versi film, Sani Tawainella (diperankan oleh Chicco Jerikho) diceritakan sebagai seorang mantan pemain sepak bola yang gagal dan kini bekerja sebagai tukang ojek. Tetapi kecintaannya pada sepak bola tak pernah surut. Didasari oleh keinginannya menyelamatkan dan mempersatukan anak-anak di kampungnya dari konflik agama, Sani memilih sepak bola sebagai perantaranya.

Dibumbui dengan rintangan, kesulitan, dan keputusan berat antara keluarga atau tim sepak bola, pada akhirnya Sani Tawainella berhasil membawa anak-anak tersebut memenangkan kejuaraan sepak bola U-15 di Jakarta.

Cahaya dari Timur: Beta Maluku dinilai bukan sekadar inspiratif, tapi juga pemersatu dan penyembuh luka akibat konflik berdarah yang terjadi di Tulehu beberapa tahun silam. Film ini mengajarkan mahalnya perdamaian dan indahnya persatuan. Karena itu, film ini menyabet dua piala Citra di Festival Film Indonesia untuk nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik dan Film Terbaik tahun 2014. Situs kritik film terkenal di dunia, IMDB memberi rating tinggi 7,9/10 untuk film ini.

2. Filosofi Kopi (2015)

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Poster resmi film Filosofi Kopi yang tayang 9 April 2015. (Foto: Pinterest)

Film karya Angga Dwimas Sasongko lainnya adalah Filosofi Kopi yang rilis pada 9 April 2015. Film ini dibintangi oleh Rio Dewanto, Chicco Jerikho, dan Julie Estelle. Filosofi Kopi diangkat dari buku berjudul sama karya Dewi Lestari yang telah terkenal dengan bukunya, Perahu Kertas.

Sinopsis dari film ini berpusat pada dua sahabat bernama Jody (diperankan oleh Rio Dewanto) dan Ben (diperankan oleh Chicco Jerikho) yang mendirikan sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi dan sedang dirundung utang. Dan utang ratusan juta itu mengancam keberadaan Filosofi Kopi. Beruntungnya, muncul seorang pengusaha yang mengklaim bisa menyelamatkan kedai kopi mereka. Dengan syarat, menerima tantangan untuk meracik kopi terenak. Ben dengan keahliannya akhirnya berhasil menaklukkan tantangan itu dan mendapatkan Rp1 miliar.

Suatu hari, muncul seorang blogger wanita bernama El (diperankan oleh Julie Estelle) memberitahu bahwa ada kopi yang lebih sempurna dibanding kopi yang dibuat Ben, bernama Kopi Tiwus. Jody dan Ben pun memutuskan untuk melakukan perjalanan demi menemukan kopti itu. Selama perjalanan dan pertemuan mereka dengan peracik Kopi Tiwus, mereka belajar banyak tentang manis pahitnya persahabatan dan masa lalu.

Film yang cocok bagi penyuka kopi ini berhasil membawa pulang penghargaan dari Festival Film Indonesia untuk kategori Penyunting Gambar Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada 2015. Penghargaan Skenario Adaptasi Terpilih juga berhasil disabet di ajang penghargaan Piala Maya. IMDB pun memberi rating 7,1/10 untuk film ini.

3. Surat dari Praha (2016)

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Salah satu adegan Surat dari Praha yang tayang 28 Januari 2016, dibintangi oleh Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. (Foto: Pinterest)

Sebuah karya luar biasa lain garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko tayang serentak pada 28 Januari 2016, berjudul Surat dari Praha. Film yang mengajarkan tentang cinta sejati dan menyinggung soal politik ini dibintangi Julie Estelle serta aktor veteran Tio Pakusadewo dan Widyawati. Surat dari Praha juga kembali menggaet aktor Rio Dewanto dan Chicco Jerikho yang kali ini berperan sebagai pemanis cerita.

Film ini terinspirasi dari peristiwa sejarah nyata yaitu mengangkat perspektif pelajar di Praha yang terdampak polemik politik pada pemerintahan Orde Baru pada 1965 dan tak dapat pulang ke Indonesia. Akibatnya, banyak hal harus dikorbankan, kewarganegaraan, keluarga, hingga cinta sejati. Selain itu, lagu-lagu dari mendiang Glenn Fredly turut menjadi inspirasi bagi film ini.

Kisah film bermulai dengan menceritakan Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang terpaksa melaksanakan wasiat Ibunya, Sulastri (diperankan oleh Widyawati) agar mendapatkan warisan dan biaya untuk bercerai dengan suaminya (diperankan oleh Chicco Jerikho).

Sebagai syarat mendapatkan warisan, Laras harus mengembalikan sebuah kotak berisi surat kepada Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang tinggal di Praha, Republik Ceko. Karena satu-dua hal, Laras mau tidak mau tinggal dengan Jaya sambil meyakinkannya menerima surat itu. Jaya bersikeras menolak, hingga akhirnya Laras membaca surat yang ada di dalam kotak itu. Kira-kira, apa isi dari surat tersebut? Dan bagaimanakah cerita Laras dan Tio selanjutnya?

Tidak hanya menyajikan genre drama, film ini juga membuat penontonnya melek sejarah serta tidak tabu untuk membicarakan konsekuensi bagi penerima beasiswa Sukarno di era peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Karena keberanian Angga Dwimas Sasongko yang menyentuh isu sensitif polemik politik Orde Baru, Surat dari Praha berhasil memenangkan penghargaan di Usmar Ismail Awards 2016 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, dan pemeran utama pria terbaik.

Film ini juga terpilih sebagai wakil Indonesia dalam ajang Academy Award 2017 untuk kategori film berbahasa asing terbaik. IMDB memberi rating 7,2 untuk film ini.

4. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Poster resmi film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang rilis 2 Januari 2020. (Foto: Pinterest)

Dikenal dengan singkatan NKCTHI, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini merupakan salah satu film terkenal karya Angga Dwimas Sasongko yang rilis 2 Januari 2020. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar dan Ardhito Pramono. Film dengan tema keluarga ini diangkat dari novel berjudul sama karya Marchella FP.

Film berkisah seputar kehidupan keluarga Narendra (diperankan oleh Donny Damara). Mulanya keluarga Narendra digambarkan sebagai keluarga sempurna, terdiri dari Ajeng si Ibu (diperankan oleh Susan Bachtiar) dan ketiga anak mereka Angkasa (diperankan oleh Rio Dewanto), Aurora (diperankan oleh Sheila Dara), dan Awan (diperankan oleh Rachel Amanda). Namun siapa sangka, di balik label keluarga sempurna itu, masing-masing dari mereka menyimpan luka dan rahasia masing-masing.

Angkasa dengan beban menjadi si sulung yang harus menjaga adiknya, Aurora sebagai si anak tengah yang kurang kasih sayang, juga Awan yang sedih karena tidak diberi pilihan sendiri, terlalu dijaga, dan gagal dalam percintaannya dengan Kale (diperankan oleh Ardhito Pramono). Siapa sangka, di balik sikap protektif ayah dan ibu kepada Awan, terdapat rahasia traumatik dan menyedihkan yang hanya diketahui Narendra, Ajeng, dan Angkasa.

Film ini diterima baik oleh penonton karena berhasil memberi perspektif dan kisah yang sangat relatable dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Permasalahan yang dialami oleh ketiga saudara itu pun kurang lebih mewakilkan apa yang dirasakan kebanyakan orang. Misalnya saja, Awan sebagai anak bungsu yang sangat dijaga oleh orang tua dan tidak dapat memutuskan keinginannya.

Kemudian Aurora sebagai anak tengah yang jarang dilihat karena berada di antara sulung dan bungsu, dia pun dianggap bisa memperhatikan dirinya sendiri. Atau Angkasa, yang memiliki tanggung jawab besar sebagai anak sulung lelaki yang harus menjaga adik-adik perempuannya. Penonton juga akan diperlihatkan perspektif si orang tua, yang dipandang pilih kasih namun memiliki alasan jelas di baliknya.

Dilansir dari akun Instagram sang sutradara @anggasasongko, NKTCHI merupakan film Indonesia terlaris di sepanjang 2020 yang mendapatkan 2 juta lebih penonton. Selain itu, film ini memenangkan kategori Sinematografi Terbaik di Piala Maya 2020.

Lagu tema dari film ini diambil dari deretan penyanyi terkenal seperti Isyana Sarasvati, Hindia, Ardhito Pramono, dan Kunto Aji. IMDB memberi rating 7,4/10 untuk film tema keluarga satu ini.

5. Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Angga Dwimas Sasongko. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Poster resmi Story of Kale: When Someone’s in Love yang rilis 23 Oktober 2020. (Foto: Pinterest)

Story of Kale: When Someone’s in Love adalah spin-off dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, dirilis pada 23 Oktober 2020 lewat Bioskop Online. Spin-off bergenre romantis ini dibintangi oleh penyanyi Ardhito Pramono dan Aurelie Moeremans. Film ini mengambil latar waktu sebelum NKCTHI, yaitu saat Kale belum bertemu Awan.

Sinopsis dari cerita ini berpusat pada dua muda-mudi Kale (diperankan oleh Ardhito Pramono) dan Dinda (diperankan oleh Aurelie Moeremans). Dengan latar belakang pekerjaan yang berhubungan, Kale sebagai personel sebuah grup band dan Dinda sebagai seorang manager band, mereka sering dipertemukan. Lambat laun, mereka saling jatuh cinta dan memutuskan berpacaran.

Kale juga mengetahui bahwa Dinda pernah ada di toxic relationship yang penuh luka dan trauma. Karena itu, dia memutuskan akan membahagiakan dan menuruti apa pun yang Dinda mau. Namun nyatanya hubungan yang awalnya indah itu tidak berjalan baik. Dinda merasa kebahagiaannya bukanlah tanggung jawab Kale, tapi dirinya sendiri. Perbedaan ini yang membuat hubungan keduanya berakhir.

Story of Kale: When Someone’s in Love kurang lebih bisa menggambarkan apa yang melatarbelakangi sikap Kale di NKCTHI. Dari hubungannya dengan Dinda yang tidak berjalan mulus, Kale tumbuh menjadi pribadi yang tidak gampang jatuh cinta.

Hal ini yang membuat Kale “nampaknya” hanya mempermainkan Awan di NKCTHI. Selain itu, toxic relationship yang digambarkan dari hubungan masa lalu Dinda maupun hubungan Kale dan Dinda menjadi pelajaran penting yang bisa diambil penonton di kala ingin menjalin hubungan asmara.

Selain itu, Ardhito Pramono turut mengisi lagu tema untuk film ini berjudul “Sudah”. Untuk ratingnya sendiri, IMDB memberi nilai 6,4/10.