Tak Mau Bergantung pada Bantuan, Alasan Kakek Satirun-Nenek Tiah Tetap Jualan Dawet Keliling - Tugujatim.id

Tak Mau Bergantung pada Bantuan, Alasan Kakek Satirun-Nenek Tiah Tetap Jualan Dawet Keliling

  • Bagikan
Babinkamtibmas Gadingkasri bersama Babinsa Gadingkasri mengunjungi rumah Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah, 79, di rumah kontrakannya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang, Rabu (18/08/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Babinkamtibmas Gadingkasri bersama Babinsa Gadingkasri mengunjungi rumah Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah, 79, di rumah kontrakannya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang, Rabu (18/08/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Babinkamtibmas Gadingkasri Aipda Anton Anda Pratama bersama Babinsa Gadingkasri Serda Syahrul Nasution pada Rabu (18/08/2021) mengunjungi rumah pasutri lanjut usia, Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah, 79, di rumah kontrakannya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang, untuk memberikan bantuan kepada keduanya yang saat ini dikabarkan sedang sakit.

Anton mengatakan saat kunjungannya, keduanya memang dikenal sangat giat bekerja dan tidak mau bergantung pada bantuan saja.

Babinkamtibmas Gadingkasri bersama Babinsa Gadingkasri foto bersama di depan rumah Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah, Rabu (18/08/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Babinkamtibmas Gadingkasri bersama Babinsa Gadingkasri foto bersama di depan rumah Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah, Rabu (18/08/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

“Sebetulnya sangat memerlukan bantuan, mereka sudah sepuh tapi masih jualan. Tapi, memang mereka dasarnya gak mau menggantungkan diri dari bantuan, dari dulu seperti itu menurut keterangan tetangga dan Pak RT,” terangnya saat dikonfirmasi pada Kamis (19/08/2021).

Menurut dia, Kakek Satirun dan Nenek Tiah memang tidak mau terus berdiam diri menganggur di rumah dan menerima bantuan.

Dia bahkan menyarankan keduanya untuk pensiun saja dari pekerjaannya saat ini sebagai penjual dawet keliling, mengingatkan usianya yang sudah sangat tua. Terlebih lagi, sang anak saat ini juga sudah bekerja di Dinas Pertanahan Kabupaten Malang.

Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat berjualan dawet keliling. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat berjualan dawet keliling. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

“Kalau dari saya lebih baik di rumah saja karena sudah sepuh, tapi memang beliaunya memang demikian, gak mau menggantungkan dari bantuan. Memang Pak Satirun istilahnya berpikir kalau di rumah aja malah tambah sakit-sakitan. Sudah sekalian jalan-jalan cari kesibukan, makanya beliau keluar itu jualan. Kalau menurut saya dengan usia segitu sudah waktunya istirahat saja,” bebernya.

Lebih lanjut dia juga menceritakan kondisi rumah Kakek Satirun dan Nenek Tiah kepada wartawan tugumalang.id, partner tugujatim.id.

“Selain itu, rumah di situ juga cuma mengontrak. Itu pun ditolong sama yang punya tanah. Sebenarnya ngontrak itu cuma ngontrak tanah per bulan sekitar Rp 150 ribu, rumahnya dibangun Pak Satirun dan anaknya, Pak Bandi. Kalau Pak Bandi kan kerja di Dinas Pertanahan Kabupaten Malang di depan rumahnya itu,” bebernya.

Selain itu, kondisi Kakek Satirun yang sempat dikabarkan sakit juga sudah berangsur-angsur membaik. Menurut dia, Kakek Satirun hanya mengalami kecapekan saja karena harus berkeliling Kota Malang.

“Kondisinya sudah sehat, tapi melihat beliau yang sudah sepuh ya seperti itu linu-linu. Waktu itu juga saya tanya apakah sudah sehat, dijawab alhamdulillah sudah mulai sehat tapi masih capek-capek. Lalu beliau juga bilang belum tahu mau jualan lagi kapan, hanya kalau sudah sehat katanya mau jualan lagi,” tuturnya.

Dagangan dari Kakek Satirun dan Nenek Tiah. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

Dia mengatakan Kakek Satirun rasanya capek sehingga sakit.

“Kemarin waktu kami ke sana, Pak Satirun ini kayak sakitnya karena kecapekan. Waktu saya tanya sakit apa, katanya sakit seperti tulang-tulangnya putus semua. Mau bagaimana lagi memang sudah sepuh dan setiap hari jualan, mau di rumah aja katanya malah sakit-sakitan nanti,” sambungnya.

Terakhir, Anton mengatakan, dia bersama Babinsa Gadingkasri kemarin memberi bantuan berupa sembako, mulai dari beras, minyak, gula, ada Indomie. Selain itu, Kapolsek Klojen juga sudah memberikan bantuan berupa bantuan uang.

“Tapi, kalau bantuan dari pemerintah sudah masuk semua, mulai dari bantuan non-tunai BPNT sudah dapat. Sebentar lagi kan naik ke bantuan PKH (Program Keluarga Harapan). Menurut yang ngurus bansos di kelurahan katanya sudah dapat, kebetulan yang ngambilkan itu dari Pak Bandi, anaknya,” ujarnya.

  • Bagikan