Tentang Cinta Yang Terhambat Tanggal Lahir: Review Film A Perfect Fit

Tentang Cinta Yang Terhambat Tanggal Lahir: Review Film A Perfect Fit

  • Bagikan
Film A Perfect Fit yang rilis pada 15 Juli 2021 lalu/tugu jatim
Film A Perfect Fit yang rilis pada 15 Juli 2021 lalu. (Foto: IMDB)

Tugujatim.id – Saski dan Rio saling cinta namun keluarga menjodohkan mereka dengan orang lain yang tidak mereka cintai. Saski dijodohkan dengan Deni, sementara Rio dijodohkan dengan Citra. Saski maupun Rio tidak mencintai orang pilihan keluarganya tersebut.

Demikianlah sedikit cerita film A Perfect Fit, salah satu film Indonesia yang diproduksi Netflix dan telah rilis pada 15 Juli 2021 lalu. Film yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu tersebut berkolaborasi dengan Starvision Plus.

Adapun latar belakang film ini adalah Bali, sehingga budaya, pengkarakteran tokohnya, dan lokasi pengambilan gambar dilakukan di pulau wisata tersebut.

Cerita film ini tentang dua orang Bali, yaitu Saski yang diperankan Nadya Arina dan Rio diperankan Refal Hady. Dua sosok ini diceritakan yang saling mencintai.

Tetapi sayangnya, orang tua mereka sudah memiliki calon untuk masing-masing. Saski dijodohkan dengan Deni yang diperankan oleh Giogino Abraham. Rio sendiri dijodohkan dengan Citra yang diperankan oleh Anggika Bölsterli.

Baik Saski maupun Rio sama-sama tidak mencintai pilihan orang tuanya tersebut. Namun sang orang tua tetap ngotot untuk menjodohkan mereka. Saski dan Rio tetap memutuskan menikah dan melawan kehendak orang tua mereka.

Akhirnya, permasalahan terjadi menjelang pernikahan Saski dengan Rio. Ketika persiapan pernikahan ada ketidakcocokan perhitungan tanggal lahir antar keduanya berdasarkan kepercayaan adat di Bali.

Sebetulnya, cerita film ini cukup klise. Pesalnya, tema perjodohan sudah jamak ditemukan dalam dunia perfilman Indonesia. Karena itu film ini sebetulnya tidak terlalu memberi daya tawar lain yang membuat ceritanya lebih menarik.

Kemudian, banyak dialog dalam film nampak berlebihan, tak wajar, dan tidak cocok. Sebab nuansa film ini adalah masa kini, namun dialog-dialog yang dinyatakan puitis dan sastrawi yang justru memberi kesan lampau.

Namun begitu, film ini mempunyai kelebihan pada sisi sinematografi yang bisa dibilang cukup berkelas. Hal ini terlihat dari gambar yang lembut dan pemilihan warna tema film yang elegan. Kelebihan tersebut membuat film ini enak dilihat.

  • Bagikan