Ternyata 8 Desa di Trenggalek Ini Memiliki Nama Kembar - Tugujatim.id

Ternyata 8 Desa di Trenggalek Ini Memiliki Nama Kembar

  • Bagikan
Tugu Garuda Alun-Alun Trenggalek. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)
Tugu Garuda Alun-Alun Trenggalek. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id – Kabupaten Trenggalek yang memiliki jargon Meroket, ternyata juga memiliki 8 desa yang memiliki kesamaan nama alias kembar. Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Trenggalek Edi Supriyanto membenarkan adanya nama 8 desa dengan nama yang sama (kembar, red).

“Di Trenggalek ini memang lumayan banyak nama desanya yang kembar,” kata Edi Selasa (27/04/2021).

Menurut Edi, nama desa yang sama terkadang membuat rancu ketika disampaikan. Namun, secara administratif tidak menjadi masalah karena memiliki kewilayahan yang berbeda.

“Yang rancu itu ketika kami menyampaikan, misalkan Desa Wonocoyo, harus detail Wonocoyo yang di Kecamatan Pogalan atau di Kecamatan Panggul. Kalau administrasinya nggak ada masalah,” tegasnya.

Inilah daftar 8 nama desa kembar atau yang sama di wilayah Kabupaten Trenggalek:

1. Desa Depok

Desa dengan nama Depok juga ada di dua Kabupaten Trenggalek, yakni Depok Kecamatan Bendungan yang berada di wilayah utara Trenggalek dan Desa Depok, Kecamatan Panggul di kawasan pesisir selatan Trenggalek.

2. Desa Watuagung

Di Desa Watuagung ada di dua kecamatan, yakni Watulimo dan Dongko. Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo memiliki dua objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, yakni Goa Lawa yang diklaim sebagai gua terpanjang dan terbesar di Asia serta wisata panjat tebing via ferrata.

Sedangkan Desa Watuagung, Kecamatan Dongko, juga memiliki objek wisata berupa air terjun Jurug Waru.

3. Desa Besuki

Dua wilayah yang berdampingan, Kecamatan Munjungan, dan Panggul ternyata memiliki desa dengan nama yang sama, yakni Desa Besuki.

4. Desa Karanganyar

Pasangan nama desa kembar ke-4 di Trenggalek adalah Karanganyar. Kedua desa berada di Kecamatan Gandusari serta Kecamatan Pule. Kedua desa tersebut saling melengkapi dalam mewujudkan nawa cita 100 desa wisata di Kabupaten Trenggalek.

5. Desa Sawahan

Desa dengan nama sama atau kembar di Trenggalek yang ke-5 adalah Sawahan. Desa ini berada di Kecamatan Watulimo dan Kecamatan Panggul. Kedua desa tersebut mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani.

6. Desa Pandean

Desa dengan nama Pandean berada di Kecamatan Dongko serta Kecamatan Durenan. Meski memiliki nama yang sama, tapi karakteristik alam kedua wilayah berbeda jauh. Desa Pandean, Dongko, berada di wilayah pegunungan, sedangkan Pandean, Durenan, di kawasan dataran.

7. Desa Sukorejo

Desa kembar berikutnya adalah Sukorejo yang berada di Kecamatan Gandusari dan Kecamatan Tugu. Meski berada di dua kecamatan berbeda, nama desa kembar ini otomatis juga memiliki kesamaan nama sekolah dasar (SD).

8. Desa Wonocoyo

Ada dua desa dengan nama Wonocoyo di Kabupaten Trenggalek. Satu desa berada di Kecamatan Pogalan dan satunya berada di pusat Kecamatan Panggul. Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, memiliki sejumlah objek wisata menarik, di antaranya tempat konservasi penyu Pantai Taman Kili-Kili, Pantai Pelang, serta taman balai kota.

Itulah kedelapan desa yang digadang-gadang Bupati Trenggalek untuk mencapai target pemenuhan 100 Desa Wisata. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek menyambut baik nawa cita Bupati Trenggalek dengan menggagas perkembangan 100 destinasi wisata berbasis desa dalam rancangan pembangunan tahun 2022.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Disparbud Trenggalek Sunyoto dalam rapat Forum Konsultasi Publik RKPD Kabupaten Trenggalek Tahun Anggaran 2022.

Pihaknya menjelaskan, rencana tersebut tertuang dalam pemulihan ekonomi berbasis pariwisata kolaboratif dan berwawasan lingkungan. Langkah untuk mewujudkan pariwisata, tentunya diawali pengembangan destinasi wisata unggulan, pengembangan desa wisata, dan penguatan branding serta promosi.

“Pengembangan destinasi wisata unggulan akan dicapai di antaranya melalui lelang investasi pariwisata,” ungkapnya.

Sunyoto juga menuturkan, saat ini sedang dalam rangka perencanaan untuk mewujudkan 100 desa wisata secara kolaboratif. Desa wisata berbasis potensi desa ini juga untuk pengembangan ekonomi serta mendongkrak daya tarik pariwisata.

“Pengembangan desa wisata ini perlu diikuti oleh branding dan promosi, dengan adanya event untuk lebih menguatkan daya tarik pariwisata,” ujarnya.

  • Bagikan