Tomboan Ngawonggo, Wisata Bernuansa Jawa Kuno yang Ramah Lingkungan di Malang

  • Bagikan
Tomboan Ngawonggo, wisata dengan konsep unik bernuansa Jawa Kuno di Kabupaten Malang. (Foto: Dani Alifian)
Tomboan Ngawonggo, wisata dengan konsep unik bernuansa Jawa Kuno di Kabupaten Malang. (Foto: Dani Alifian)

MALANG, Tugumalang.id – Bagi Anda yang tertarik dengan wisata bernuansa tradisional, kerajaan, dan peradaban Jawa Kuno, destinasi wisata ini mungkin bisa jadi target kunjungan berikutnya. Namanya Tomboan Ngawonggo.

Terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Tomboan Ngawonggo menyajikan suasana wisata yang begitu alami. Yakni bernuansa rindang pohon bambu, serta suara gemercik aliran sungai yang terbalut satu menjadi suatu harmoni.

Tak hanya mengusung suasana tradisional peradaban Jawa tempo dulu, Tomboan Ngawonggo yang didirikan pada April 2017 silam itu juga mengusung konsep ramah lingkungan. Di mana wisata ini tak memperbolehkan pengunjung membawa makanan dari luar, terlebih lagi yang berbentuk kemasan.

Hal tersebut diungkapkan oleh pengelola Tomboan Ngawonggo, Rahmat Yasin.

“Mungkin di pintu masuk itu tamu sudah bisa membaca ada tata tertib saat memasuki Tomboan Ngawonggo. Salah satunya dilarang membawa makanan dan minuman yang mengandung unsur hewani dan dalam kemasan termasuk terasi, telur, susu, dan petis,” ungkap Yasin ketika ditemui, Minggu (7/3/2021) lalu.

Suasana tempat wisata Tomboan Ngawonggo yang tampak begitu alami dengan latar peohonan rindang. (Foto: Dani Alifian)

Yasin menambahkan semua olahan yang ada di Tomboan Ngawonggo terbuat dari tumbuhan. Sebab, menurutnya hal tersebut melambangkan kesederhanaan.

“Sama seperti kata Tomboan, itu berasal dari tumbuhan. Kan kata tomboan sendiri artinya obat, dan tumbuhan ini bisa menjadi obat,” terang pria berambut gondrong tersebut.

Suguhan yang ada di sini pada awalnya hanya minuman rempah hasil olahan warga sekitar. Namun berbekal keuletan, dan ketekunan Yasin terus konsisten tempat singgah hingga menjadi Tomboan. Yasin tidak berkenan jika Tomboan disebut sebagai warung, kafe, atau tempat makan.

“Pada dasarnya tempat ini, atau Tomboan ini belum secara resmi diketok palu sebagai warung. Awalnya, daripada kosong kami saja yang mengelola. Kami sendiri bukan warung, hanya menyuguhkan kepada orang yang sudah rawuh, terutama yang sudah reservasi dari jauh jauh hari. Jadi konsep yang diusung bukan jual beli, tapi bertamu dan menerima tamu.” Terang Yasin.

Salah satu pengelola Pawon, yang enggan disebut namanya menyatakan jika pengunjung hendak berpartisipasi sudah disediakan kotak asih.

“Oleh karena itu di sini kami menyediakan kotak asih, untuk para tamu yang hendak berpartisipasi, bukan dalam artian membayar seikhlasnya. Bahasanya bukan bayar seikhlasnya, tapi jika berkenan partisipasi monggo, jika tidak ya tidak apa apa,” ungkapnya sembari menyembul tungku dari kayu untuk menghangatkan minuman.

Penulis bersama Yasin, pengelola Tomboan Ngawonggo. (Foto: Dani Alifian)
Penulis bersama Yasin, pengelola Tomboan Ngawonggo. (Foto: Dani Alifian)

Tomboan Ngawonggo saat ini mengutamakan pelanggan yang sudah reservasi, yang dapat dilakukan melalui akun instagram @tomboan.

Setiap hari Kamis, Tomboan tidak menyediakan makanan, karena hari istirahat untuk para pengelola. Tetapi pengunjung tetap bisa bertamu ke Tomboan, dengan menikmati minuman yang disediakan.

Tomboan sendiri tidak mengenal kata buka tutup, seperti di tempat wisata atau tempat makan. Hanya saja, untuk jam pelayanan dimulai dari pukul 8 pagi hingga jam 4 sore untuk pelanggan yang hendak menikmati suguhan makan, atau kudapan. Namun, untuk minuman tersedia 24 jam.

“Ya Alhamdulillah, kendati kondisi tengah pandemi, tamu ada saja, ibaratnya lumintu, selalu ada saja tamu yang mengisi. Kalau berkenan ke sini hari kamis, hanya ada minuman saja, karena waktu istirahat kami,” imbuh Yasin sembari menyilakan makanan. (Dani Alifian)

  • Bagikan