Tugujatim.id – Setiap 10 Januari, terdapat peristiwa politik yang dikenang oleh bangsa Indonesia. Peristiwa ini dikenal dengan Hari Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).
Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keberanian mahasiswa dan rakyat dalam menyuarakan perubahan di tengah kemelut politik dan ekonomi yang hebat pada pertengahan era 1960-an.
Akar dari lahirnya peristiwa Tritura berasal dari ketidakstabilan nasional pasca peristiwa G30S tahun 1965. Kondisi politik saat itu sangat panas karena terjadi perebutan pengaruh. Demikian dilansir dari laman Kompas.
Kondisi diperparah dengan kondisi ekonomi yang merosot tajam. Hiperinflasi yang mencapai lebih dari 600% membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi, sehingga rakyat hidup dalam kesulitan yang luar biasa.
Melihat kondisi negara yang kian memburuk, para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bersama organisasi lainnya (KAPI, KABI, KASI) memutuskan untuk turun ke jalan.
Isi Tiga Tuntutan Rakyat
Dari laman Kemendikbud, pada 10 Januari 1966, ribuan mahasiswa bergerak menuju gedung DPR-GR untuk menyampaikan aspirasi. Mereka membawa tiga tuntutan utama yang dikenal sebagai Tritura, yaitu:
1. Pembubaran PKI
Kalangan yang turun ke jalan menuntut pemerintah untuk segera membubarkan Partai Komunis Indonesia beserta ormas-ormasnya.
2. Pembersihan Kabinet Dwikora
Pemerintah kala itu dinilai tidak bisa mengendalikan kondisi politik, sosial hingga ekonomi. Massa aksi juga menuntut pemerintah kala itu memecat pejabat yakni menteri-menteri yang dianggap terlibat atau bersimpati pada peristiwa kelam G30S.
3. Penurunan Harga
Massa aksi menuntut kebijakan ekonomi yang nyata untuk menurunkan harga barang pokok sehingga berdampak pada daya beli hingga kesejahteraan rakyat.
Namun, aksi ini tidak berjalan mulus. Gelombang demonstrasi berlangsung selama berminggu-minggu. Peristiwa ini menemui puncaknya pada 24 Februari 1966, di mana seorang mahasiswa bernama Arif Rahman Hakim gugur tertembak dalam bentrokan yang terjadi di depan Istana Negara.
Gugurnya Arif Rahman Hakim menjadi pemantik semangat yang lebih besar. Tekanan massa yang tak terbendung akhirnya memaksa Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) kepada Soeharto. Peristiwa tersebut menjadi titik balik berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan dimulainya era Orde Baru.
Hingga kini, Hari Tritura diperingati sebagai tonggak sejarah penting rezim Orde Baru. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa kekuatan pemuda dan kesatuan rakyat adalah instrumen penting dalam menjaga stabilitas serta keadilan sebuah negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








