MOJOKERTO, Tugujatim.id – Wakil Ketua MPR RI (Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia) Yandri Susanto mengatakan bahwa perpecahan suatu bangsa berawal dari sentimen ras dan suku. Semisal, satu ras atau suku memandang lebih unggul atau lebih mulia dari ras atau suku lain.
“Jadi, tegas kami sampaikan bahwa awal dari perpecahan adalah sentimen ras atau suku. Hanya karena menganggap sukunya lebih baik karena warna kulit atau lainnya. Hal itulah yang membuat persatuan dan kesatuan bangsa terkikis, dalam kondisi yang lebih buruk bisa menimbulkan perpecahan,” ujar Yandri Susanto saat hadir dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Aula Gedung Pascasarjana Universitas KH Abdul Chalim (UKHAC), Pacet, Kabupaten Mojokerto, Rabu (1/5/2024).
Tidak hanya itu, negara Indonesia yang mengadopsi sistem republik juga sudah final. Sehingga Yandri melanjutkan, siapa saja yang melakukan deklarasi pendirian negara dengan mengadopsi sistem lain sama saja dengan memantik perpecahan sesama anak bangsa.
“Maka dari itu sosialisasi ini sebagai penguat. Bahwa empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika ini ibarat soko guru. Maksudnya tiang penyangga agar rasa persatuan dan kesatuan bangsa dapat terjaga dan lestari dengan kokoh,” tambah Yandri.
Yandri melanjutkan, faktor lain yang membuat perpecahan bangsa ini berlarut-larut berasal dari hal-hal yang remeh. “Sering ribut hal-hal yang tidak perlu. Hal-hal yang remeh. Maka seharusnya perlu disudahi agar fokus perbaikan bangsa ke arah yang lebih baik dapat tercapai,” sambungnya.
Pria yang sekaligus Waketum PAN ini mencontohkan ribut hal-hal yang remeh seperti meributkan soal tata cara ibadah tiap pemeluk agama. “Tiap agama punya caranya masing-masing,” tandasnya.
Selain itu, perbedaan merupakan takdir yang tidak bisa dihindari. Namun perbedaan bukan penghalang merajut persatuan dan kesatuan. “Untuk itu salah satu pilarnya adalah Bhinneka Tunggal Ika,” lanjut Yandri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








