LUMAJANG, Tugujatim.id – Sumarwi (69) warga Dusun Gumukmas, Desa Supiturang, menceritakan detik-detik mencekam Erupsi Gunung Semeru. Ia masih merasakan trauma setelah menyaksikan erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11/2025).
Pria yang telah lima kali menyaksikan letusan hebat Gunung Semeru sejak tahun 1993 ini mengaku erupsi kali ini berbeda dari sebelumnya.
“Yang paling parah yang sekarang. Dulu yang jadi korban banyak orangnya, sekarang rumahnya yang habis banyak,” ujar Sumarwi saat ditemui di lokasi pengungsian SDN Supiturang 04 pada Kamis (20/11/2025)
Sumarwi menceritakan, kejadian bermula sekitar pukul 15.00 WIB, ketika ia melihat lava mulai keluar dari puncak Semeru. “Warna pertama itu putih, sesudah putih itu hitam, ada apinya. Mengalir terus,” kenangnya.
Melihat debu panas yang turun, Sumarwi langsung menyadari bahaya yang mengancam. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengevakuasi seluruh anggota keluarganya yang berjumlah tujuh orang.
“Waktu itu kan saya lihat debu yang di atas, takutnya turun, bahaya. Soalnya bukan debu biasa, termasuk api debu panas,” jelasnya.
Saat alarm peringatan berbunyi, kepanikan melanda seluruh warga. Sumarwi mengaku sempat bingung menentukan arah evakuasi.
“Mau ke sini takut, bawa anak juga. Karena lava itu ke sana, saya memutuskan untuk ke sini (lokasi pengungsian, Red),” katanya.
Dalam kepanikan tersebut, Sumarwi bahkan tidak sempat membawa apapun dari rumahnya. Ia harus berjalan kaki selama satu jam untuk menyelamatkan diri ke lokasi pengungsian dan meninggalkan sepeda motornya.
“Enggak bawa apa-apa, soalnya ketakutan. Sampai lupa, sepeda ditinggal. Jalan kaki,” ujarnya.
Setibanya di lokasi pengungsian, kondisi sudah sangat ramai dan padat. “Sudah enggak muat di sini. Di jalan raya itu enggak muat. Panik semua orang. Mobil-mobil berhenti semua, enggak bisa jalan,” cerita Sumarwi.
Satu jam setelah sampai di pengungsian, Sumarwi sempat pulang sebentar untuk mengecek kondisi rumahnya. Meski masih utuh, ia mengaku sangat takut karena besuk (sungai) di dekat rumahnya sudah hampir penuh dengan endapan vulkanik erupsi Gunung Semeru.
Hingga kini, Sumarwi mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut. Ia mengibaratkan lokasi rumahnya yang terlalu dekat dengan Gunung Semeru.
“Jarak Semeru itu, ibarat satu detik lava keluar, satu detik juga datangnya. Jadi kalau lari secepatnya itu masih kena kalau sebelumnya enggak siap-siap,” ungkapnya menjelaskan betapa cepatnya aliran lava panas. Sampai sekarang masih trauma ini,” tutup Sumarwi dengan nada prihatin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








