Warga Keluhkan Polusi Pabrik Pengolahan Aspal di Pogalan, Trenggalek

  • Bagikan
Lokasi pabrik pengolahan aspal PT Punakawan Anugrah Samudra di Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek yang membuat warga resah karena adanya polusi debu dan suara. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)
Lokasi pabrik pengolahan aspal PT Punakawan Anugrah Samudra di Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek yang membuat warga resah karena adanya polusi debu dan suara. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id – Kemelut proses produksi di pabrik pengolahan aspal,  PT Punakawan Anugrah Samudra, di kawasan Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek hingga Jumat (7/5/2021) ini masih menyisakan masalah. Pasalnya, pabrik yang berlokasi kurang lebih 50 meter dari permukiman masyarakat Desa Ngadirenggo, Pogalan tersebut menimbulkan polusi dan pencemaran udara yang kerap dikeluhkan warga.

Berdasarkan pengakuan masyarakat, debu dan suara bising masih sering dijumpai dan dianggap mengganggu. Padahal, warga telah beberapa kali melayangkan protes ke pabrik pengolahan aspal tersebut. Hanya saja, sejauh ini tindak lanjut terkait hal tersebut belum terlihat secara signifikan.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Sebatas diketahui, pabrik aspal tersebut berdiri di dekat bantaran sungai dan membentang dekat dengan pemukiman masyarakat. Hal itu menjadikan polusi dari pabrik tersebut kerap menghampiri aktivitas masyarakat.

Warga Tak Berani Buka Pintu karena Polusi Debu dan Bau Tak Sedap

Masyarakat RT 09 RW 04, Desa Ngadirenggo pun bertahan diri di tengah polusi kebisingan dan debu. Sehingga ketika pabrik sedang melakukan operasi produksi, mereka mengaku tak berani menjemur pakaian, bahkan membuka pintu rumah.

Komsiah warga terdampak membenarkan bahwasanya ketika operasi produksi sangat mengganggu sekali, suara bising dibarengi dengan debu yang menyelimuti seperti kabut menjadi persoalan komsiah dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari,

“Ketika pabrik produksi aspal, saya tidak berani sama sekali membukakan pintu, apalagi untuk menjemur cucian baju jelas tidak mungkin sama sekali,” ungkapnya.

Sekitar 20 KK terdampak polusi pabrik aspal Ngadirenggo Pogalan Trenggalek, namun Komsiah menyatakan jika mengenai hal ini banyak warga yang pro dan kontra. Di mana yang kontra saat ini karena lebih dekat dengan lokasi produksi. Komsiah mengaku bahwasanya warga terdekat terdampak tidak minta apapun, paling tidak, pabrik harus berwawasan lingkungan yang baik.

“Kalau alasannya hanya terciptanya penghasilan ekonomi dan kemajuan daerah, tapi ya harus berwawasan lingkungan yang baik, kami warga terdekat operasi merasakan polusi debu dan bau tidak sedap, kalau ndak bisa berwawasan lingkungan yang baik ya mending ditutup saja,” tegasnya.

Murtini juga membeberkan dampak dari operasi produksi pabrik aspal tersebut, jika sehari full produksi, partikel debu sampai masuk rumah dan keperabotan alat makan, kendati rumah harus di tutup.

“Dulu kami pernah meminta cerobong untuk ditinggikan dan untuk seputaran pabrik di pagar namun ketika itu semua dijalankan tapi tetap berdampak pada polusi udara dan bau yang menyengat, sebelum Covid-19 kami sudah membiasakan pakai masker, ya karena polusi udara dan bau tersebut,” kata Murtini.

Dinkes Trenggalek Belum Terima Laporan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek, dr. Saeroni mengatakan dirinya belum menerima laporan apapun terkait tersebut, oleh puskesmas maupun pihak terkait,  Saeroni justru akan koordinasi dengan pihak Puskesmas untuk menanyakan pengawalan terhadap kondisi kesehatan masyarakat terdampak polusi udara pabrik aspal tersebut.

“Kami akan koordinasi terhadap puskesmas di wilayah tersebur untuk menanyakan terhadap pengawalan kesehatan masyarakat sekitar pabrik aspal, soalnya saya sendiri belum ada laporan terkait hal tersebut, kalau dampak debu tersendiri secara kesehatan dalam tubuh manusia saya analogikan ada organ seperti sapu bisa dikeluarkan melalui batuk dan berdahak,” kata Saeroni.

Pernah Ada Upaya Mediasi antara Pabrik dan Warga Terdampak

Sementara itu, Camat Pogalan Trenggalek Dilly Dwi Kurniasari saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan pihaknya pernah melaksanakan mediasi dulu terkait masyarakat terdampak, antara lain permintaan masyarakat dulu untu meninggikan cerbong asap dan menutupi lokasi produksi aspal dengan alumunium.

“Saya ingat betul dalam hal ini kami bersama masyarakat melaksanakan mediasi dengan tuntutan untuk meninggikan cerbong polusi dan meninggikan pagar,” jelas Dilly.

Dilly juga mengatakan bahwasanya pihak puskesmas juga pernah dimintai untuk melaksanakan pengecekan kesehatan terhadap masyarakat, namun saat ini kalau masih ada polusi dari dampak produksi aspal kami akan koordinasi lebih lanjut dengan pihak Desa Ngadirenggo.

  • Bagikan