TUBAN, Tugujatim.id – Tiga pohon pisang berdiri di tengah jalan rusak Tuban, tepanya di Desa Penambangan, Kecamatan Semanding. Bukan bagian dari taman kota, bukan pula penghias jalan. Pohon itu ditanam warga di sebuah lubang besar beraspal yang menganga penuh air dan lumpur sebagai aksi protes.
“Ini kami tanam kemarin biar pengendara tahu kalau ada lubang dalam,” kata Priono, warga setempat, saat ditemui Jumat (23/05/2025).
Lubang di jalan rusak Tuban itu bukan satu-satunya. Sepanjang jalur lingkar selatan sisi selatan, deretan lubang menganga menjadi pemandangan yang lazim. Tidak sedikit yang cukup dalam, bisa mencapai 15 sentimeter. Warga menyebut jalan ini sebagai “jalur tambal sulam” karena lebih sering berlubang ketimbang mulus.
Baca Juga: Pekan Ini, Pemkab Jember Luncurkan 8 Tim URC Perbaiki Jalan Rusak
“Kami sudah sering dengar janji akan diperbaiki, tapi kenyataannya masih begini terus,” ujar Priono sambil menggeleng pelan.
Selain pohon pisang, warga juga menaruh dua traffic cone sebagai penanda. Tapi karena jumlah lubang terlalu banyak, mereka memilih solusi yang lebih “menyentil”. Lima titik rawan diberi penanda—tiga dengan pohon pisang, dua dengan kerucut oranye.
Menurut warga, musim hujan justru membuat kondisi jalan rusak Tuban semakin berbahaya. Air menggenang dan menutupi kedalaman lubang sehingga pengendara sering terkecoh. Dari jauh, terlihat seperti genangan dangkal. Tapi begitu dilewati, ban motor langsung terperosok.
Warga Kesal Pemerintah Tak Segera Perbaikan
Aksi tanam pohon pisang itu tidak sekadar bentuk lucu-lucuan. Di baliknya, ada kekesalan yang sudah lama terpendam. Aksi ini bukan kali pertama dilakukan warga Tuban, tapi tetap menjadi pilihan karena dinilai paling efektif menarik perhatian.
Meski sederhana, cara ini berhasil membuat para pengendara melambatkan laju kendaraannya. Beberapa bahkan berhenti sejenak untuk menghindari lubang. Pohon pisang di tengah jalan ternyata lebih efektif daripada papan peringatan.
Warga berharap, aksi ini bisa membuka mata pihak berwenang. Mereka tidak menuntut jalan mulus seperti tol, tapi cukup aman untuk dilalui sehari-hari. Apalagi, jalur ini merupakan akses penting bagi angkutan barang dan kendaraan antar kota.
“Kalau nggak kami tanami pisang, siapa lagi yang peduli? Kami sudah bosan menunggu,” tutup Priono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








