BOJONEGORO, Tugujatim.id – Kamu barangkali pernah mendengar fenomena Kayangan Api Bojonegoro, salah satu destinasi wisata dengan keindahan dan keajaiban alamnya. Tapi, apakah Kamu tahu legenda, fakta ilmiah, dan perannya dalam dunia modern? Jangan khawatir karena TuguJatim.id menguraikan hal tersebut secara mendalam. Yuk, simak sampai akhir!
Kayangan Api menawarkan keajaiban alam yang tidak tertandingi. Terletak di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, tempat ini terkenal dengan sumber api abadi yang tidak pernah padam, bahkan saat diguyur hujan deras. Fenomena ini memikat perhatian wisatawan sekaligus menyimpan kisah legenda yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
1. Legenda Kayangan Api dan Sejarahnya
Menurut cerita rakyat, Kayangan Api bermula dari seorang empu bernama Mbah Kriyo Kusumo atau lebih dikenal sebagai Empu Supa. Beliau merupakan seorang pandai besi yang lahir di era Kerajaan Majapahit dan memiliki keahlian luar biasa dalam membuat benda pusaka, seperti keris, tombak, hingga peralatan pertanian.
Dalam upayanya mencari ketenangan batin, Mbah Kriyo memilih bertapa di tengah hutan. Di sana, ia menyalakan api di atas bebatuan, yang konon tetap menyala hingga saat ini sebagai cikal bakal Kayangan Api.
Kisah tersebut semakin menarik dengan penemuan sejarah pada tahun 1992 di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu. Sebanyak tujuh belas lempeng tembaga berangka tahun 1301 Masehi ditemukan. Lempengan tersebut menyebutkan bahwasannya terdapat pembebasan pajak Desa Adan-adan oleh Raja Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana.
Sebagai penghormatan atas jasa Empu Supa kepada kerajaan, wilayah tersebut ditetapkan sebagai sima perdikan atau tanah swatantra (wilayah yang dibebaskan dari pajak dan diberikan kepada warga oleh penguasa setempat/wilayah istimewa). Fakta sejarah tersebut memperkuat legenda lokal sekaligus memberikan nilai sejarah yang mendalam bagi Kayangan Api.
2. Pesona Alami dan Spiritual
Kayangan Api dikelilingi oleh hutan lindung yang menciptakan suasana alami dan menenangkan, cocok untuk mereka yang ingin melepas penat dan ingin bersantai. Selain sumber api abadi, ada Sumur Blekutuk, sebuah kubangan lumpur belerang yang tentunya menambah daya tarik kawasan ini. Pengunjung sering memanfaatkannya untuk terapi kulit atau sekadar menikmati keunikan geologisnya.
Tempat tersebut juga memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi masyarakat sekitar. Api abadi dianggap sakral dan sering digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pengambilan api untuk upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X.
Ritual tersebut melibatkan tradisi selamatan (wilujengan) dan tayuban (kesenian tari rakyat tradisional yang memiliki makna dan filosofi kehidupan yang mendalam), diiringi gending khas seperti eling-eling dan gunungsari. Waranggono (penari tradisional) yang membawakan tarian tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesakralan upacara.
Pada hari-hari tertentu, terutama Jumat Pahing, Kayangan Api ramai dikunjungi orang dengan berbagai tujuan. Beberapa datang untuk berdoa demi kelancaran usaha, mencari jodoh, atau memperoleh kedudukan. Tradisi nyadranan atau bersih desa juga rutin dilakukan di Kayangan Api sebagai bentuk syukur kepada Yang Maha Kuasa.
3. Fenomena Geologi
Meskipun kaya akan cerita legenda, fenomena api abadi di Kayangan Api memiliki penjelasan ilmiah. Api tersebut berasal dari keluarnya gas alam dan belerang melalui zona lemah di tanah.
Ketika gas tersebut bertemu oksigen, terjadilah pembakaran spontan yang menghasilkan api yang tidak pernah padam. Fenomena serupa juga dapat ditemukan di beberapa tempat lain di dunia, seperti Gerbang Neraka di Turkmenistan.
4. Peran dalam Sejarah Modern
Selain nilai historis dan spiritual, Kayangan Api memiliki peran penting dalam sejarah modern. Tempat tersebut pernah menjadi sumber api dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XV pada tahun 2000. Hingga kini, lokasi tersebut sering dijadikan tempat penyelenggaraan acara besar, seperti ruwatan massal dan peringatan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro.
5. Fasilitas dan Akses
Sebagai destinasi wisata, Kayangan Api dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung. Ada pendopo, mushola, toilet bersih, dan warung makanan yang menyajikan kuliner khas lokal.
Akses menuju lokasi juga sudah memadai, baik untuk kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp8.500 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu), menjadikannya pilihan wisata yang ramah di kantong.
Kayangan Api dengan segala pesona dan keunikannya tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga simbol sejarah, spiritualitas, dan keajaiban alam. Baik untuk wisatawan lokal maupun mancanegara, tempat ini menawarkan pengalaman tak terlupakan yang sarat makna. Jadi, apakah kamu berminat mengunjunginya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Ebenhaezer Parningotan Silaban/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








