10 Tahun Kesulitan Terima Siswa Baru, SD di Tuban Terpaksa Tutup - Tugujatim.id

10 Tahun Kesulitan Terima Siswa Baru, SD di Tuban Terpaksa Tutup

  • Bagikan
Suasana kelas di SDN Kembangbilo II Kabupaten Tuban yang sunyi dan terbengkalai karena tidak ada aktivitas pembelajaran. (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim)
Suasana kelas di SDN Kembangbilo II Kabupaten Tuban yang sunyi dan terbengkalai karena tidak ada aktivitas pembelajaran. (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatim.id – Jika dilihat dari kejauhan, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kembangbilo II yang terletak di kawasan kota Tuban nampak baik-baik saja. Bangunan ruang kelas, kantor, maupun papan nama sekolah yang berdiri di atas tanah milik Pemerintah Kabupaten Tuban ini masih kokoh. Namun, bila diamati, fasilitas pendidikan ini terasa sunyi dan tak ada aktivitas guru maupun siswa.

Informasi yang dihimpun Tugu Jatim, sekolah yang berada di wilayah kota Tuban, ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, sejak awal September 2021. Penutupan dilakukan karena beberapa tahun terakhir sekolah tidak pernah mendapat siswa baru.

Suasana kelas di SDN Kembangbilo II Kabupaten Tuban yang sunyi dan terbengkalai karena tidak ada aktivitas pembelajaran. (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim)
Suasana kelas di SDN Kembangbilo II Kabupaten Tuban yang sunyi dan terbengkalai karena tidak ada aktivitas pembelajaran. (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim)

Kepala SDN Kembangbilo I dan II Tuban, Joko Supeno menuturkan, kebijakan ini dilakukan lantaran sejak sepuluh tahun terakhir sekolah kesulitan mendapat siswa baru. Ia menuturkan banyak faktor yang menjadi kemungkinan penyebab sekolah itu kekurangan murid, salah satunya wilayah yang cukup dekat dengan pusat kota Tuban.

3 SD, 1 Desa Hanya 40 Bayi per Tahun

Tak hanya itu, di desa itu sendiri terdapat tiga sekolah sederajat, sehingga persaingan antar sekolah cukup ketat. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya angka kelahiran warga Desa Kembangbilo yang hanya sekitar 40 bayi per tahun.

“Data yang kita dapat dari desa setiap tahunnya angka kelahiran hanya 40 anak. Lah ada 3 sekolah. Kalau dibagi rata tak kurang dari 15 siswa jika sekolah di desa sini,” ucap Joko Supeno.

  • Bagikan