100 SMK di Madiun dan Ngawi Ikuti ANBK, Libatkan Siswa hingga Kepala Sekolah - Tugujatim.id

100 SMK di Madiun dan Ngawi Ikuti ANBK, Libatkan Siswa hingga Kepala Sekolah

  • Bagikan
Siswa kelas XI SMKN 1 Madiun tengah mengerjakan soal Asesmen Nasional Berbasis Komputer di laboratorium komputer sekolah. (Foto: Eko Suprayitno/Tugu Jatim)
Siswa kelas XI SMKN 1 Madiun tengah mengerjakan soal Asesmen Nasional Berbasis Komputer di laboratorium komputer sekolah. (Foto: Eko Suprayitno/Tugu Jatim)

MADIUN, Tugujatim.id – Sebanyak 100 SMK di Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) serentak yang digeber sejak Senin (20/9/2021) hingga Kamis (23/9/2021) hari ini. Pemetaan mutu sekolah oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini tak hanya melibatkan siswa, melainkan juga guru serta kepala sekolah.

“Ada ANBK siswa dan ANBK Guru, termasuk saya juga ikut disurvei,’’ terang Suparmanu, Kepala SMK Gula Rajawali Madiun.

Suparmanu mengatakan ANBK tak melibatkan seluruh siswa, melainkan hanya siswa kelas XI yang diambil sampel untuk survei. Ia mengaku terdapat total 50 siswa di sekolahnya yang mengikuti ANBK ini. Mereka terbagi dalam tiga sesi, masing-masing sesi terisi sekitar 17 siswa. Dimulai pukul 07.30 dengan durasi mengerjakan 120 menit setiap sesinya. Seluruh soal dikerjakan secara daring.

‘’Dibagi menjadi dua tahap. Tahap 1 Senin-Selasa, tahap 2, Rabu dan hari ini,’’ paparnya.

Kata dia, ada tiga instrumen dalam ANBK. Yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), dan Survey Karakter diperuntukkan untuk siswa, dan survei lingkungan belajar untuk guru. Survey AKM diberikan sebagai parameter tingkat literasi membaca dan numerasi siswa.

‘’Istilahnya kalau siswa itu sudah memahami dasarnya, mau diberikan ilmu model apa saja sudah tidak kebingungan,’’ ungkapnya.

Siswa kelas XI SMKN 1 Madiun tengah mengerjakan soal Asesmen Nasional Berbasis Komputer di laboratorium komputer sekolah. (Foto: Eko Suprayitno/Tugu Jatim)
Siswa kelas XI Gula Rajawali Madiun tengah mengerjakan soal Asesmen Nasional Berbasis Komputer. (Foto: Eko Suprayitno/Tugu Jatim)

Kepala sekolah dua periode ini mengatakan pelaksanaan ANBK dengan UNBK hampir sama. Dari sisi pelaksanaanya misalnya, digelar secara daring. Pun disiapkan proktor, teknisi hingga pengawas. Pengawasan juga dilakukan secara silang penuh.

‘’Tujuannya, agar para siswa tidak bekerja sama,’’ tegasnya

Meski relatif sama, untuk jenis soal ANBK dan UNBK berbeda jauh. Jika UNBK hanya bertipe pilihan ganda. Untuk ANBK ada lima tipe soal. Mulai multiple choice, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat serta uraian.

‘’Nampaknya surveinya (ANBK, red) mengacu pada standar internasional. Mirip PISA (Programme for International Student Assessment, red) dan lebih komprehensif,’’ paparnya sambil menyebut ada 65 butir soal yang harus diselesaikan guru.

Perbedaan lain, lanjut Suparmanu terletak pada hasil. Jika UNBK hasilnya diumumkan kepada siswa peserta ujian. Untuk ANBK hasilnya tidak disampaikan atau bersifat rahasia. Namun, hasil ANBK sebagai acuan pusat untuk memetakan satuan pendidikan. Termasuk sebagai bahan evaluasi dan menyiapkan kebijakan untuk mendongkrak kualitas pendidikan di masing-masing sekolah.

‘’Sebagai bahan evaluasi untuk sekolah yang sudah baik dipertahankan, yang belum ditingkatkan, arahnya ke sana,’’ ungkapnya.

Suyono Kepala SMKN 1 Madiun, ada 50 siswa dan 133 guru di sekolahnya yang mengikuti asesmen. Peserta yang terlibat sudah ditentukan oleh Kemendikbud, Ristek dan Dikti secara acak.

‘’Memang dilakukan menyeluruh, ada siswa, guru dan kepala sekolah. Tujuannya tentu untuk memotret kondisi di sekolah secara komprehensif,’’ katanya.

Suyono mengatakan asesmen nasional dilakukan serentak bertujuan memotret kondisi di sekolah dan meningkatkan mutunya. Mengingat asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat. Informasi itu mulai dari kualitas kegiatan belajar mengajar yang tentunya bermuara pada hasil belajar siswa.

‘’Asesmen ini sebagai alat ukur memantau perkembangan mutu dari waktu ke waktu. Termasuk ada tidaknya kesenjangan antar bagian di sistem pendidikan,’’ paparnya.

100 SMK Negeri maupun Swasta di Madiun dan Ngawi Ikuti ANBK

Kepala UPT Dinas Pendidikan Jatim wilayah Madiun, Supardi menyatakan total ada 100 SMK negeri dan swasta di Kota/Kabupaten Madiun dan Ngawi yang mengikuti asesmen. Jumlah peserta di masing-masing sekolah berbeda. Khusus untuk pelajar antara 15-50 orang tiap sekolah.

‘’Untuk jenjang menengah pesertanya keseluruhan hanya kelas XI (kelas 2 SMK, red), dan mereka (pesertanya, red) sudah ditentukan pusat,’’ katanya.

Pardi mengatakan asesmen hanya diikuti sebagain peserta didik. Mereka dipilih secara acak oleh Kemendikbud Ristek dan Dikti. Tujuannya, karena asesmen tidak dijadikan untuk menentukan kelulusan atau menilai prestasi siswa. Sebab, evaluasi hasil belajar siswa ada ditangan para guru. Pemerintah kata dia, melakukan evaluasi sistem melalui asesmen nasional.

‘’Asesmen ini dilakukan untuk memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Sehingga yang diperlukan informasi dari sampel yang mewakili populasi murid, pada jenjang kelas yang menjadi target,’’ ungkapnya.

Selama pelaksanaan, kata berjalan lancar. Pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan PLN agar tidak ada pemadaman listrik saat pelaksanaan. Selain itu pihak sekolah juga menyiapkan genset. Pun terkait dengan koneksi jaringan, Pardi kembali menegaskan tidak ada masalah. ‘’Alhamdulillah sampai hari ini lancar. Internet juga lancar, karena pesertanya kan tidak semua siswa, jadi masih ngatasi lah,’’ tutupnya.

Libatkan kelas XI agar Ikut Rasakan Perbaikan

Teka-teki Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang hanya melibatkan siswa kelas XI SMK akhirnya terjawab. Kepala UPT Dinas Pendidikan Jatim wilayah Madiun, Supardi mengatakan dipilihnya siswa kelas XI SMK bermaksud agar siswa dapat merasakan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar ketika mereka masih berada di sekolah.

‘’Laporan asesmen ini ibarat cermin atau umpan balik yang berguna bagi satuan pendidikan, dan dinas dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program. Nah, anak-anak ini setidaknya merasakan dan dapat membedakan pembelajaran sebelum dan sesudah asesmen,’’ papar Pardi.

Pardi menuturkan, pengukuran literasi membaca dan literasi matematika atau numerasi bukan tanpa alasan. Sebab, keduanya merupakan kompetensi yang mendasar dan dibutuhkan semua murid. Apapun cita-cita dan profesi yang akan digeluti dimasa depan. Sebab, kedua kompetensi itu perlu dikembangkan lintas mata pelajaran.

‘’Dengan mengukur literasi dan numerasi, asesmen mendorong guru semua mapel untuk fokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir logis-sistematis,’’ tegasnya.

Tak hanya mengukur kecerdasan kognitif. Asesmen juga memotret hasil belajar sosial emosional. Dengan dilakukannya asesmen karakter diharapkan pemerintah mendapat gambaran sikap, nilai dan keyakinan seta perilaku murid. Mengingat pendidikan harus seimbang antara kecerdasan emosional-spiritual dan kecerdasan kognitif.

‘’Karena proses belajar mengajar harus mengembangkan potensi siswa secara utuh,’’ katanya.

Kata dia tujuan itu hanya dapat dilakukan dengan asesmen. Mengingat hasil asesmen berisi ragam informasi penting. Mulai dari perkembangan mutu pendidikan secara berkala. Termasuk ada tidaknya kesenjangan di dalam sistem pendidikan.

‘’Misalnya ada tidaknya kesenjangan antarkelompok sosial ekonomi di dalam satuan pendidikan. Atau bisa juga menakar ada tidaknya kesenjangan antara sekolah negeri dengan swasta,’’ tambahnya.

Dengan begitu lanjut dia, pengembangan kompetensi dan karakter murid yang menjadi tujuan utama satuan pendidikan dapat tercapai. Asalkan terus terpacu meningkatkan sumber daya dan perbaikan mutu pembelajaran.

  • Bagikan