SURABAYA, Tugujatim.id – Kamu menyukai sejarah dan ingin tahu apa saja Situs Peninggalan Belanda di Surabaya? Tenang saja! TuguJatim.id telah menyiapkan tujuh belas situs peninggalan Belanda di Surabaya yang wajib kamu tahu! Yuk, simak sampai akhir!
1. Museum De Javasche Bank
Beroperasi sejak 14 September 1829, De Javasche Bank dulu berperan sebagai bank sentral Belanda yang mengatur peredaran uang. Setelah Indonesia merdeka, De Javasche Bank dinasionalisasi dan menjadi dasar pembentukan Bank Indonesia. Saat ini, bangunan yang terletak di Jalan Garuda Nomor 1, Surabaya, berfungsi sebagai Museum Bank Indonesia. Kamu bisa melihat koleksi mata uang kuno, ruangan bekas teller, hingga ruang konservasi budaya tanpa dikenai tiket masuk.
2. Balai Kota Surabaya
Balai Kota Surabaya difungsikan sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal wali kota. Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda, G.C. Citroen, pada tahun 1916 atas keinginan A. Meyroos, Wali Kota Surabaya pertama. Pembangunan gedung ini sempat tertunda dan baru selesai pada tahun 1927. Berlokasi di Kecamatan Genteng, bangunan ini menjadi ikon bersejarah yang mencerminkan perjalanan administrasi dan perkembangan Kota Surabaya.
3. Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria
Gereja Kepanjen resmi dibuka pada 5 Agustus 1900 dan merupakan gereja tertua di Surabaya. Desain Gereja Kepanjen dirancang oleh W. Westmaas. Sejarahnya berawal dari kedatangan dua imam Katolik pada tahun 1810, yang menandai awal perkembangan komunitas Katolik di kota ini.
4. RSUD Dr. Soetomo
RSUD Dr. Soetomo awalnya didirikan pada tahun 1938 dengan nama RS Centraal Burgerlijk Ziekenhuis (CBZ) di kawasan Desa Karangmenjangan. Berawal dari inisiatif pemerintah Belanda, bangunan ini akhirnya menjadi RSUD Dr. Soetomo pada tahun 1964. Terletak di Kecamatan Gubeng, rumah sakit ini tidak hanya berperan penting dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam sejarah perkembangan medis di Jawa Timur.
5. Penjara Kalisosok
Penjara Kalisosok adalah salah satu penjara tertua di Indonesia, dibangun pada 1808 atas perintah Daendels dengan biaya 8.000 gulden. Penjara Kalisosok menyimpan cerita perjuangan para tokoh besar, seperti Soekarno, WR Soepratman, dan KH Mas Mansyur. Kini, Penjara Kalisosok yang terletak di Jalan Kasuari No. 5 berfungsi sebagai destinasi wisata bersejarah.
6. Benteng Kedung Cowek
Dibangun pada 1900-an untuk mengantisipasi serangan dari laut, Benteng Kedung Cowek menawarkan suasana vintage dengan pemandangan laut. Lokasinya di Jalan Kedung Cowek ini sering menjadi tempat wisata dan spot foto favorit, termasuk untuk prewedding.
7. Grha Wismilak
Grha Wismilak yang berlokasi di pojok Jalan Raya Darmo merupakan bangunan peninggalan kolonial yang kini menjadi kantor PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Awalnya, gedung ini adalah toko bernama Toko Yan sebelum dialihfungsikan oleh Jepang pada 1942. Meskipun sekarang digunakan sebagai kantor, arsitektur uniknya masih bisa kamu nikmati dari luar, bahkan menjadi latar foto yang menarik.
8. Stasiun Gubeng Lama
Stasiun Gubeng Lama yang dibangun pada 1870 adalah salah satu saksi bisu sejarah transportasi di Surabaya. Dengan gaya arsitektur kolonial dan ornamen Art Nouveau, bangunan ini masih mempertahankan keasliannya. Jika ingin berkunjung, kamu bisa merasakan atmosfer klasik di stasiun ini, terutama jika bepergian menggunakan kereta ekonomi.
9. Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut)
Stasiun Surabaya Kota, yang lebih dikenal sebagai Stasiun Semut, mulai dibangun pada tahun 1870 dan resmi beroperasi pada tahun 1878. Lokasinya dekat Pelabuhan Tanjung Perak, sesuai fungsinya untuk mengangkut hasil bumi ke Belanda. Bangunan antik ini masih berdiri kokoh dan menjadi tempat menarik untuk melihat sejarah transportasi di Surabaya.
10. Hotel Majapahit
Hotel Majapahit, yang berdiri megah di Jalan Tunjungan, adalah saksi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Dibangun pada tahun 1911 sebagai Hotel Oranje, tempat ini menjadi markas tentara Jepang selama Perang Dunia II dan berganti nama menjadi Hotel Yamato. Di sini pula, peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda terjadi pada 19 September 1945, menyisakan merah putih sebagai lambang Indonesia.
11. Hotel Arcadia
Dibangun pada tahun 1913 oleh Hollanndsche Beton Maatschappij, Hotel Arcadia awalnya adalah kantor perusahaan perkebunan Hindia Belanda bernama Kantoorgebouw van de Geo Wehry & Co te Soerabaja. Perusahaan ini bertanggung jawab atas pengelolaan komoditas seperti teh, kina, dan karet. Saat ini, bagian depan Hotel Arcadia masih mempertahankan desain aslinya, sementara bagian belakang yang dulunya berfungsi sebagai gudang telah diubah menjadi hotel. Berdasarkan keputusan Wali Kota Surabaya, kini Hotel Arcadia ditetapkan sebagai cagar budaya.
12. Gedung Grahadi
Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1795. Awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai kediaman untuk pejabat Belanda. Penghuni pertamanya adalah Gezahebber van Hat Oost Hoek, penguasa Jawa Timur kala itu. Mengusung gaya arsitektur neo-klasik Prancis, bangunan ini memiliki ciri khas era kolonial Belanda. Kini, Grahadi berfungsi sebagai tempat Gubernur Jawa Timur menerima tamu kenegaraan, dan bagian timurnya menjadi rumah dinas gubernur.
13. Gedung PTPN XI
Dibangun pada tahun 1911 oleh arsitek Hindia Belanda, gedung ini awalnya digunakan untuk perdagangan gula. Saat masa pendudukan Jepang, bangunan ini dijadikan gudang senjata sebelum akhirnya direbut kembali oleh warga Surabaya pasca-kemerdekaan.
14. Gedung Internatio
Didirikan pada tahun 1927–1931, gedung ini awalnya digunakan untuk perdagangan dan investasi Hindia Belanda. Namun, sejarah mencatatnya sebagai lokasi tewasnya Brigjen AWS Mallaby pada pertempuran Surabaya tahun 1945, yang memicu kemarahan sekutu dan serangan besar-besaran terhadap kota.
15. Gedung Cerutu
Dibangun sekitar tahun 1916 oleh N.V. Maatsschappij Tot Exploitatie Van Het Bureau Gebroders Knaud, gedung ini awalnya menjadi kantor Java Sugar Syndicate. Dengan menara ikoniknya, gedung ini pernah digunakan oleh beberapa perusahaan besar, termasuk Bank Bumi Daya, sebelum akhirnya ditempati oleh Bank Mandiri.
16. Gedung Singa
Gedung bergaya Art Nouveau ini dikenal dengan dua patung singa yang menghiasi pintu masuknya. Awalnya merupakan kantor Algemeene Maatschappij Van Levensverzekering en Lifrente te Amsterdam, gedung ini menjadi salah satu peninggalan sejarah yang memperkaya kawasan Kota Lama Surabaya.
17. Gedung Siola
Gedung Siola dibangun pada 1877. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai toserba dengan nama Whiteaway Laidlaw. Kini, bangunan megah di Jalan Tunjungan ini menjadi Mal Pelayanan Publik dan Museum Surabaya.
Mulai dari Museum De Javasche Bank hingga Gedung Siola menggambarkan kisah perjuangan, perdagangan, serta perkembangan kota Surabaya sejak masa penjajahan hingga saat ini. Jadi, mana yang menurutmu menarik untuk dikunjungi?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis : Ebenhaezer Parningotan Silaban/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








