4 Fakta Unik Kampung Gerabah Purwoasri Pacitan - Tugujatim.id

4 Fakta Unik Kampung Gerabah Purwoasri Pacitan

  • Bagikan
Aneka macam gerabah produksi Kampung Gerabah Purwoasri Pacitan. (Foto: SS Kanal YouTube Sekolah Alam Pacitan/Tugu Jatim)
Aneka macam gerabah produksi Kampung Gerabah Purwoasri Pacitan. (Foto: SS Kanal YouTube Sekolah Alam Pacitan)

PACITAN, Tugujatim.id – Selain kaya akan potensi wisata alamnya, Pacitan juga memiliki potensi kreativitas sumber daya manusia (SDM) yang tak kalah unik dan menarik. Salah satu buktinya yaitu kreativitas masyarakat Pacitan dengan adanya Kampung Gerabah, tepatnya di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, km 8 arah selatan Kota Pacitan menuju Pantai Wawaran. Ternyata, sentra industri kerajinan gerabah yang satu ini memiliki beragam keunikan. Apa saja sih keunikan dari Kampung Gerabah ini?

1. Berkembang sejak 1959

Dilansir dari website Pacitanku.com, Desa Purwoasri, Kebonagung, sudah menjadi sentra kerajinan gerabah sejak 1959 silam. Sebagian besar masyarakat sudah menjadi perajin gerabah lebih dari 15 tahun dengan bekerja antara 6-7 jam/hari.

Hingga kini para perajin gerabah tetap produktif berkarya meski digempur produk-produk berbahan baku plastik yang merebak seiring dengan derasnya arus modernisasi industri. Hebatnya lagi, kerajinan gerabah ini bisa menjangkau pasar luar Jawa juga lho!

2. Produksi Massal yang Didominasi Perajin Ibu-Ibu

Berdasarkan akun Instagram bangga pacitan, kerajinan gerabah ini sudah diproduksi secara massal oleh seluruh warga dusun. Sebagian besar perajinnya adalah ibu-ibu warga dusun setempat.

Ada sekitar 30 perajin memproduksi gerabah, terutama jenis peralatan dapur dan pot bunga setiap hari yang dilakukan sepanjang musim. Seperti dilansir dari Pacitanku.com, pada 2009 dibentuk kelompok perajin yang bernama Maju Asri. Kini anggotanya mencapai 44 perajin dari kalangan ibu-ibu.

3. Produk Bernilai Seni Tinggi dan Berkualitas

Produk sentra kerajinan gerabah di Desa Purwoasri ini memiliki nilai seni yang tinggi. Produknya yang dominan, yaitu guci dan pot dengan berbagai bentuk dan motif. Selain itu, ciri khas gerabah Pacitan yang tak kalah menarik yaitu selain kualitasnya halus, kulit gerabah sangat tebal sehingga awet dan tidak mudah pecah.

Dilansir dari Pacitanku.com, sejak tahun 2000 Kampung Gerabah Purwoasri selain memproduksi gerabah tradisional, juga sudah memproduksi gerabah seni. Gerabah seni ini bentuknya telah disesuaikan dengan tren pasar yang berkembang ditambah proses pembuatan yang melalui tahapan penyempurnaan dengan pemberian warna. Hal ini yang menjadikan gerabah Purwoasri berbeda dari yang lain.

Mengutip dari jatimprov.go.id, Surati, salah seorang perajin gerabah seni, mengaku setiap tiga hari bisa menghasilkan rata-rata 10 guci atau pot, 10 set (dudukan dan pot/3 hari). Harga jual per guci Rp10.000-Rp15.000 dalam kondisi mentah (siap bakar). Sedangkan harga pot per set dibanderol Rp 3.500-Rp 5.000.

Untuk produksi gerabah Desa Purwoasri yang paling diminati pasar, di antaranya guci-guci bermotif batik dan wayang, vas bunga, tempat payung, asbak, dan berbagai suvenir lainnya. Produk ini telah laku di Surabaya, Malang, Ponorogo, Jakarta, bahkan hingga luar Pulau Jawa.

Bahkan, menurut berita yang dilansir dari kanal YouTube Pacitan Vission Official, di masa pandemi produk-produk tertentu justru laris manis terjual. Salah satunya tempat cuci tangan dari gerabah yang laris dibeli sekolah maupun instansi tertentu.

Sementara itu, melansir dari jatimprov.go.id, Dinas PMD Provinsi Jatim menyatakan selain kualitasnya yang baik, produk-produk gerabah dari Pacitan tergolong murah. Harga paling murah adalah Rp 1.500 untuk asbak dan suvenir pernikahan, sedangkan harga Rp 150.000 untuk guci-guci bermotif wayang atau batik, dan yang paling mahal adalah seharga Rp 700.000.

4. Praktik Bikin Gerabah bagi Pengunjung

Seperti informasi yang dilansir dari Instagram bangga Pacitan, pengunjung dapat merasakan sensasi praktik membuat gerabah bila berkunjung ke kampung ini. Jadi, mereka dapat membuat gerabah versi sendiri. Hal ini tentu sangat menarik karena pengunjung dapat mengetahui secara langsung cara dan teknik membuat gerabah.

Proses pembuatan gerabah di desa ini tidak jauh berbeda dengan gerabah biasa. Bahan baku gerabah berupa tanah sawah lapisan atas (topsoil), yang dibeli dari warga yang memiliki sawah.

Cara pembuatannya diawali dengan tanah digiling dua kali dengan mesin. Kemudian dibentuk gerabah sesuai dengan yang dikehendaki. Langkah selanjutnya badan gerabah diberi pernik hiasan berbagai motif. Lalu dikeringkan di bawah terik matahari selama 2–4 jam.

Setelah itu didiamkan di dalam ruangan untuk menghindari keretakan pada proses pembakaran. Selanjutnya proses pembakaran selama 4 jam. Pada jenis gerabah seni modern, setelah dibakar masih ada proses finishing dengan proses pewarnaan menggunakan cat yang memerlukan keterampilan khusus. Setelah selesai pewarnaan, gerabah siap untuk dijual.

  • Bagikan