• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Suasana Manambang di rumah warga. Foto: MenpanRB

Suasana Manambang di rumah warga. Foto: MenpanRB

4 Tradisi Unik Lebaran di Minangkabau

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

PADANG, Tugujatim.id – Lebaran merupakan sebuah perayaan umat Islam di seluruh dunia yang ditandai dengan berakhirnya bulan Ramadan dan masuknya bulan Syawal. Di Indonesia, Hari Raya Idulfitri biasanya dirayakan dengan tradisi-tradisi yang berbeda di setiap daerah.

Tak berbeda dari daerah lainnya, tradisi lebaran di Padang, Sumatra Barat, juga memiliki keunikan tersendiri. Selama 20 tahun tinggal di Padang, penulis merangkum berbagai tradisi lebaran yang terbilang unik. Berikut ulasannya.

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

1. Malamang

WhatsApp Image 2023 04 14 at 19.47.28
Proses Pembuatan Lemang. Foto: MenpanRB

Malamang adalah tradisi membuat makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan beralas daun pisang lalu dimasak menggunakan bambu di atas bara api.

Dalam bahasa Minang, malamang artinya membuat lemang. Malamang merupakan tradisi nenek moyang adat Minangkabau yang telah dilakukan sejak dulu. Tradisi ini biasanya dilakukan saat menyambut hari-hari besar, seperti kelahiran Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, dan Idul Fitri.

Saat Idulfitri, masyarakat Minangkabau biasanya makan lamang dengan bubur ketan hitam. Sebagian masyarakat lainnya juga mengonsumsi lemang yang disandang dengan durian. Perpaduan unik ini cocok disantap ketika kumpul keluarga saat Lebaran.

Sayangnya, tradisi malamang kini sudah mulai jarang terlihat, terlebih-lebih di Kota Padang. Beberapa masyarakat cenderung membelinya di pasar tradisional karena proses pembuatan lemang tersebut cukup rumit.

2. Pulang Basamo

Dalam bahasa Minang, pulang basamo berarti pulang bersama-sama. Secara umum, pulang basamo merupakan rencana mudik yang dilakukan ketika akan merayakan Idulfitri bersama orang tua serta sanak famili. Mudik pastinya menjadi ciri khas bagi orang Indonesia yang pergi merantau dari daerah asalnya.

Namun, tradisi mudik orang Minang ini agak sedikit berbeda. Pulang basamo adalah pulangnya para perantau Minang secara bersama-sama oleh ikatan keluarga Minang di daerah perantauan. Kentalnya rasa persaudaraan di antara mereka inilah yang mendorong rasa untuk kembali ke kampung halaman bersamaan.

Biasanya, mereka akan mudik dengan bus antarkota atau antarprovinsi, atau bahkan mudik dengan kendaraan pribadi.

3. Manambang

Manambang merupakan tradisi unik bagi anak Minang. Usai salat Idulfitri, anak-anak Minang akan datang ke rumah warga setempat untuk bersilaturahmi. Biasanya, mereka akan pergi dalam kelompok yang terdiri dari 3-6 anak ke rumah-rumah penduduk sekitar komplek, kampung, atau desanya.

Saat silaturahmi ini biasanya si pemilik rumah akan menghidangkan kue lebaran dan memberi uang THR Idulfitri. Setelah itu, mereka biasanya akan pergi ke rumah berikutnya.

Menambang ini sudah menjadi tradisi turun-menurun. Hasil dari menambang tersebut biasanya akan ditabungkan atau sekedar membeli mainan.

4. Bantai Adat

Tenang, kearifan lokal ini maksudnya bukan ingin merusak adat atau tradisi Minangkabau saat Lebaran, melainkan tradisi memotong kerbau secara massal untuk nantinya dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Padang Pariaman.

Pada tradisi ini, setiap warga atau keluarga dapat memesan berapapun yang dibutuhkan. Namun, apabila memesan dalam jumlah banyak, masyarakat setempat memiliki tradisi untuk membagi atau menyedekahi daging tersebut kepada yang membutuhkan.

Kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur ini tentunya memiliki filosofi dan makna yang mendalam, seperti meningkatkan silaturahmi antarwarga, meningkatkan kebersamaan, dan solidaritas sosial.

—

Demikian tradisi unik Minangkabau yang ada hingga kini. Keunikan tradisi ini menjadi sebuah pengingat bagi kita untuk selalu menjaga warisan budaya.

Tags: lebaran di minangkabauminangkabautradisi minangkabau
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
Tradisi Lebaran di Jatim.

9 Tradisi Lebaran di Jatim, Mana yang Paling Seru?

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID