TUBAN, Tugujatim.id – Angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Tuban, Jatim, terus mengkhawatirkan. Tercatat sejak Januari hingga Agustus 2025, sebanyak 12 warga Tuban meninggal dunia setelah terinfeksi penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu. Jumlah ini naik dibandingkan 2024 yang mencatat 7 kasus kematian.
Plt Kepala Dinas Kesehatan P2KB Tuban drg Roikan menjelaskan, kasus DBD tahun ini cenderung meningkat. Upaya pencegahan pun digencarkan lewat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus dan pemantauan jentik secara berkala.
Baca Juga: Siswi Korban DBD di Tuban Meninggal, RSUD Minta Warga Waspada
“Kematian akibat DBD tahun ini sebanyak 12 orang, meningkat dari 7 orang tahun lalu. Tantangan utama kami adalah mengoptimalkan PSN 3M Plus serta pelaporan angka bebas jentik,” tegasnya.
Selain DBD, dia juga memaparkan beberapa program kesehatan lainnya. Untuk imunisasi, capaian Kabupaten Tuban hingga Agustus 2025 baru di angka 50–60 persen.
Dari 33 puskesmas, baru tujuh yang sudah membentuk Desa Imunisasi Mantap (IMAN). Dinkes pun mengeluarkan surat edaran percepatan layanan imunisasi sekaligus melakukan supervisi agar distribusi vaksin lebih merata.
Roikan menambahkan, Universal Health Coverage (UHC) Tuban kini mencapai 94,37 persen dengan tingkat keaktifan peserta 73,74 persen. Masih ada sekitar 53 ribu jiwa yang perlu didorong agar target nasional 98,6 persen tercapai.
“Untuk itu butuh koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD),” ujarnya.
Wabup Soroti Penyakit TBC
Sementara itu, Wakil Bupati Tuban Joko Sarwono menyoroti ancaman penyakit menular lain, yakni Tuberkulosis (TBC). Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia dengan lebih dari satu juta kasus baru per tahun.
“Di Tuban, penemuan kasus TBC baru mencapai 54 persen dari target 90 persen, investigasi kontak 58 persen, dan terapi pencegahan baru 17,5 persen. Sinergi semua pihak mutlak diperlukan,” katanya.
Tidak hanya TBC, Wabup Joko juga menekankan kewaspadaan terhadap DBD yang hingga Agustus ini sudah mencapai 683 kasus. Menurut dia, warga Tuban harus kembali menggalakkan gerakan 3M Plus serta mengaktifkan pemantau jentik di setiap rumah.
“Satu rumah satu pemantau jentik itu kunci agar kasus tidak semakin melonjak,” jelasnya.
Di sisi lain, program imunisasi disebutnya sebagai benteng utama perlindungan anak. Jika cakupan imunisasi tinggi, maka kekebalan kelompok akan terbentuk.
“Kalau target imunisasi terpenuhi, anak-anak kita akan lebih terlindungi,” ujarnya.
Rapat koordinasi kesehatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, puskesmas, rumah sakit, hingga desa dan tokoh masyarakat. Tujuannya jelas: menekan laju penyakit menular serta menjaga kesehatan warga Tuban secara lebih menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








