TUBAN, Tugujatim.id – Sepanjang 2024, demam berdarah dengue (DBD) telah merenggut sembilan nyawa di Kabupaten Tuban. Angka ini menjadi peringatan keras karena merupakan jumlah kematian tertinggi akibat penyakit DBD dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar korban penyakit DBD adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun, kelompok usia yang sistem kekebalan tubuhnya masih rentan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Syahrul Afifa Ratnasari mengungkapkan, kasus penyakit DBD di Tuban telah mencapai 762 hingga November 2024.
Baca Juga: 3 Hari Belum Surut, BPBD Kabupaten Pasuruan Kerahkan Pompa Sedot Banjir
Dia mengatakan, angka ini jauh melampaui catatan tahun sebelumnya, yaitu 203 kasus pada 2023 dan 651 kasus pada 2022. Dari sembilan kasus meninggal, tercatat dua kasus masing-masing berasal dari Kecamatan Merakurak, Jenu, dan Bangilan, sementara satu kasus lainnya dari Kecamatan Kenduruan, Parengan, dan Palang.
Menurut dia, perhatian ekstra harus diberikan kepada anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini.
“Kasus DBD tersebar di seluruh kecamatan di Tuban. Ini menjadi tanda bahwa masyarakat harus lebih waspada, terutama saat musim hujan,” ujar Ratna dalam pernyataan resmi di media centre Pemkab Tuban, Senin (09/12/2024).
Ratna menekankan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta langkah 3M Plus untuk mencegah penyebaran DBD. Langkah 3M Plus meliputi menguras, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang tak terpakai, serta menaburkan larvasida pada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) jauh lebih efektif dibandingkan fogging karena hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentiknya tetap hidup. Jika fogging terlalu sering dilakukan, ada risiko nyamuk menjadi resisten terhadap bahan kimia. Keluarga yang memiliki anak kecil harus lebih waspada. Jika muncul gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit perut, ruam kulit, atau pendarahan ringan segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbaunya.
Baca Juga: Konstruksi Retak, Jembatan Penghubung Mojokerto-Jombang Ditutup Sementara
Menurut Ratna, deteksi dini gejala penyakit DBD dan pengobatan yang tepat dapat mengurangi risiko komplikasi. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan selama musim hujan adalah langkah pencegahan yang tidak boleh diabaikan.
“Kami berharap masyarakat lebih proaktif menjaga kesehatan lingkungan. Kebersihan adalah kunci utama untuk melindungi keluarga dari ancaman DBD,” ujarnya.
Dengan jumlah kasus yang terus meningkat, masyarakat Tuban diimbau untuk tidak lengah. Langkah kecil seperti menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar bisa menjadi upaya besar untuk mencegah DBD yang mematikan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








