• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Parade teater komunitas. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Pertunjukan teater berjudul "Wek-Wek" karya Komunitas Teater Srikandi dari SMAN 1 Purwosari. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Belajar Bebas Maknai “Pahlawan” lewat Parade Teater Komunitas Se-Pasuruan Raya

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
4 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

PASURUAN, Tugujatim.id – Momen Hari Pahlawan diperingati dengan cara kreatif melalui parade teater komunitas se-Pasuruan Raya. Lewat petunjukan parade teater #2: Momentum Kepahlawanan bertajuk “Membeli Cahaya Bulan”, mereka mencoba belajar menembus batas kebebasan dalam memaknai arti pahlawan.

Cerita pahlawan dari sudut pandang yang tak biasa disuguhkan 4 komunitas teater asal Pasuruan dan 1 komunitas teater asal Surabaya di aula Kampus Uniwara, Kota Pasuruan, Rabu malam (16/11/2022).

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

Yudha, ketua pelaksana parade teater komunitas, mengatakan, di momen Hari Pahlawan, pihaknya ingin merayakannya dengan menunjukkan kebebasan berekspresi dalam seni berteater.

“Ceritanya kami bebaskan temanya sekitar kepahlawanan. Tentunya pahlawan dalam arti luas, tergantung bagaimana persepsi kami memaknai pahlawan,” ujar Yudha.

Parade teater komunitas. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)
Pertunjukan teater berjudul “Godlob” karya Komunitas Otak Kanan Laboratory. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Komunitas Otak Kanan Laboratory lewat teater berjudul Godlob mengambil kisah pahlawan dari sudut pandang tragis tentang kematian seorang anak di tangan ayahnya. Kematian si anak jadi premis jiwa kepahlawanan dengan dikorbankan demi kelangsungan hidup keluarga yang hidup pas-pasan.

Lain lagi dengan Komunitas Teater Akal yang mengawinkan dua gagasan bertolak belakang, pahlawan dan kejahatan dalam teater berjudul Sarang. Penonton pertunjukan parade teater komunitas itu diajak melihat sisi lain kisah segerombolan perampok yang terlihat buruk di masyarakat. Namun, mereka dianggap pahlawan di mata keluarga meski berjuang mencari nafkah di jalan yang salah.

Sementara itu, Komunitas Teater On dengan teater “Huru Hara Hura” mengangkat pahlawan lebih sebagai kritik satire fenomena maraknya kekerasan aparat di Indonesia. Insiden penembakan antar oknum petinggi kepolisian, tragedi Kanjuruhan Malang, hingga penangkapan oknum polisi yang diduga jual beli narkoba direspons sebagai sebuah kontradiksi. Sosok aparat kepolisian yang didamba jadi pahlawan bagi masyarakat tidak terlepas dari sisi gelap.

“Kepahlawanan di sini bisa disatirkan tidak harus sosok segi positif, tapi juga segi negatif, baik buruk tentang siapa pahlawan itu kami bebaskan penonton memaknainya,” ungkapnya.

Untuk peserta termuda, Komunitas Teater Srikandi dari SMAN 1 Purwosari lewat judul “Wek-Wek” mengajak merenungi perjuangan pahlawan kemerdekaan lewat lakon tokoh wayang punokawan. Konflik Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar dalam memelihara bebek disimbolkan sebagai refleksi kehidupan masa kini yang bersaing dengan cara manipulatif untuk mencari keuntungan.

Gambaran sisi buruk kehidupan dimaknai sebagai bentuk otokritik terhadap masyarakat yang sudah menyia-nyiakan perjuangan pahlawan.

“Sikapnya masyarakat di cerita ini kan gak baik, kalau seperti ini terus gimana bisa maju, kasihan pahlawan yang sudah berjuang untuk masyarakat,” jelas Eka Widyasari, anggota Teater Srikandi.

Di sisi lain, secara khusus parade teater ini ditujukan sebagai penghargaan komunitas teater Pasuruan kepada sosok seniman maestro Pasuruan sekaligus guru seni Kaji Karno. Untuk diketahui, Kaji Karno dianggap sebagai “Pahlawan” yang menggelorakan semangat berkesenian para seniman Pasuruan.

“Kaji Karno berkontribusi besar selaku seniman besar di Pasuruan juga ada interaksi dengan teater. Makanya kami ambil novel karya Kaji Karno ‘Membeli Cahaya Bulan’ sebagai tema besar,” ujarnya.

Tags: Berita Pasuruan RayaHari PahlawanHari Pahlawan 2022Hari Pahlawan di PasuruanParade teater komunitasParade teater komunitas Pasuruan RayaPeringatan Hari PahlawanPertunjukan teater
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
My Clueless First Friend. (Foto: Twitter @guiguikuru_pr/Tugu Jatim)

My Clueless First Friend: Tanggal Rilis Anime Adaptasi pada Musim Semi 2023 Telah Dikonfirmasi

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID