Belajar Bebas Maknai “Pahlawan” lewat Parade Teater Komunitas Se-Pasuruan Raya

Parade teater komunitas. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)
Pertunjukan teater berjudul "Wek-Wek" karya Komunitas Teater Srikandi dari SMAN 1 Purwosari. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

PASURUAN, Tugujatim.id – Momen Hari Pahlawan diperingati dengan cara kreatif melalui parade teater komunitas se-Pasuruan Raya. Lewat petunjukan parade teater #2: Momentum Kepahlawanan bertajuk “Membeli Cahaya Bulan”, mereka mencoba belajar menembus batas kebebasan dalam memaknai arti pahlawan.

Cerita pahlawan dari sudut pandang yang tak biasa disuguhkan 4 komunitas teater asal Pasuruan dan 1 komunitas teater asal Surabaya di aula Kampus Uniwara, Kota Pasuruan, Rabu malam (16/11/2022).

Yudha, ketua pelaksana parade teater komunitas, mengatakan, di momen Hari Pahlawan, pihaknya ingin merayakannya dengan menunjukkan kebebasan berekspresi dalam seni berteater.

“Ceritanya kami bebaskan temanya sekitar kepahlawanan. Tentunya pahlawan dalam arti luas, tergantung bagaimana persepsi kami memaknai pahlawan,” ujar Yudha.

Parade teater komunitas. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)
Pertunjukan teater berjudul “Godlob” karya Komunitas Otak Kanan Laboratory. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Komunitas Otak Kanan Laboratory lewat teater berjudul Godlob mengambil kisah pahlawan dari sudut pandang tragis tentang kematian seorang anak di tangan ayahnya. Kematian si anak jadi premis jiwa kepahlawanan dengan dikorbankan demi kelangsungan hidup keluarga yang hidup pas-pasan.

Lain lagi dengan Komunitas Teater Akal yang mengawinkan dua gagasan bertolak belakang, pahlawan dan kejahatan dalam teater berjudul Sarang. Penonton pertunjukan parade teater komunitas itu diajak melihat sisi lain kisah segerombolan perampok yang terlihat buruk di masyarakat. Namun, mereka dianggap pahlawan di mata keluarga meski berjuang mencari nafkah di jalan yang salah.

Sementara itu, Komunitas Teater On dengan teater “Huru Hara Hura” mengangkat pahlawan lebih sebagai kritik satire fenomena maraknya kekerasan aparat di Indonesia. Insiden penembakan antar oknum petinggi kepolisian, tragedi Kanjuruhan Malang, hingga penangkapan oknum polisi yang diduga jual beli narkoba direspons sebagai sebuah kontradiksi. Sosok aparat kepolisian yang didamba jadi pahlawan bagi masyarakat tidak terlepas dari sisi gelap.

“Kepahlawanan di sini bisa disatirkan tidak harus sosok segi positif, tapi juga segi negatif, baik buruk tentang siapa pahlawan itu kami bebaskan penonton memaknainya,” ungkapnya.

Untuk peserta termuda, Komunitas Teater Srikandi dari SMAN 1 Purwosari lewat judul “Wek-Wek” mengajak merenungi perjuangan pahlawan kemerdekaan lewat lakon tokoh wayang punokawan. Konflik Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar dalam memelihara bebek disimbolkan sebagai refleksi kehidupan masa kini yang bersaing dengan cara manipulatif untuk mencari keuntungan.

Gambaran sisi buruk kehidupan dimaknai sebagai bentuk otokritik terhadap masyarakat yang sudah menyia-nyiakan perjuangan pahlawan.

“Sikapnya masyarakat di cerita ini kan gak baik, kalau seperti ini terus gimana bisa maju, kasihan pahlawan yang sudah berjuang untuk masyarakat,” jelas Eka Widyasari, anggota Teater Srikandi.

Di sisi lain, secara khusus parade teater ini ditujukan sebagai penghargaan komunitas teater Pasuruan kepada sosok seniman maestro Pasuruan sekaligus guru seni Kaji Karno. Untuk diketahui, Kaji Karno dianggap sebagai “Pahlawan” yang menggelorakan semangat berkesenian para seniman Pasuruan.

“Kaji Karno berkontribusi besar selaku seniman besar di Pasuruan juga ada interaksi dengan teater. Makanya kami ambil novel karya Kaji Karno ‘Membeli Cahaya Bulan’ sebagai tema besar,” ujarnya.