• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
piala dunia u-20 tugu jatim

Dosen Departemen Universitas Airlangga Surabaya, Joko Susanto SIP MSc. Foto: dok Unair

Pemerintah Indonesia Diminta Rumuskan Sudut Pandang Baru Bela Palestina

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Pemerintahan
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Pro kontra terkait alasan FIFA membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia U-20 masih terus bergulir di kalangan publik.

Pakar Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya, Joko Susanto SIP MSc menilai bahwa hal tersebut bisa menciptakan dampak buruk bagi Indonesia, baik dari aspek dunia olahraga maupun hubungan luar negeri.

You might also like

Surabaya

Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir Digital

04/06/2026 8:52 PM
Sidoarjo

Kontes Modifikasi Motor Dua Tak di Sidoarjo Mampu Gerakkan Ekonomi Masyarakat

01/06/2026 11:45 AM

“Saya rasa ini adalah sebuah tragedi besar bagi Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga saja, tetapi juga politik luar negeri serta kepentingan nasional,” kata Joko Susanto, pada Jumat (31/3/2023).

Sebelum ada keputusan dari FIFA terkait pembatalan tersebut, marak penolakan kedatangan Timnas Israel untuk berlaga di Indonesia. Banyak politikus, partai politik, sampai organisasi di Indonesia beranggapan bahwa menerima Israel datang ke Indonesia sama saja dengan mengkhianati prinsip Soekarno yang berkomitmen untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Menurut Joko Susanto, hal itu sudah tak lagi revelan. “Terlepas kita punya sejarah penolakan itu, tapi saya melihat bahwa di sini justru kegagapan dalam melihat situasi internasional,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini kondisi politik hubungan internasional sudah banyak mengalami perubahan. Sebelum 1967, Israel adalah negara yang belum memiliki uji keberimbangan meskipun dapat dukungan dari AS. Sementara itu, Liga Arab relative lebih solid di waktu yang sama.

“Dalam situasi seperti itu (1967), memberi tekanan pada Israel masih menjadi sesuatu yang secara stabilitas politik memiliki prospek. Akan tetapi, setelah tahun 1967, posisi Israel semakin terkonsolidasi, sehingga dukungan terhadap Palestina harus lebih kreatif, tidak dengan cara yang sama,” tuturnya.

Dalam kesimpulan ini, Joko menganggap bahwa jika Soekarno masih mengambil langkah yang sama, yaitu penolakan di era sekarang, sama halnya meng- underestimate dalam membaca situasi global.

“Saat ini kita terjebak dalam kebekuan cara pikir dan langkah yang membuat kita mati gaya. Menurut saya ini adalah kebangkrutan strategis yang serius, membela Palestina dan menjalankan kepentingan nasional harusnya bisa selaras,” ungkap Joko.

Akademisi lulusan London School of Economics and Political Science (LSE) tersebut menuturkan, kegagalan beberapa pihak dalam menyikapi ajang Piala Dunia ini justru bernilai kontraproduktif. Sebab, meletakkan perjuangan demokrasi Pancasila dalam posisi diametral dengan penggemar sepak bola.

“Ini bisa menjadi kerugian. Tidak menutup kemungkinan para penggemar sepak bola akan mengingat gerakan pembelaan kepada Palestina ini adalah sebuah masalah,” jelasnya.

Dosen yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Emerging Indonesia Project (EIP) tersebut mengingatkan, seharusnya momentum ini dapat menjadi alarm bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam mengambil sikap untuk ke depannya.

Joko menuturkan, menjaga amanat Bung Karno yakni membela Palestina, bukan berarti mengesampingkan kepentingan nasional.

Ke depannya, pemerintah Indonesia harus lebih kreatif dan bijak dalam membaca situasi yang genting, terlebih berhubungan dengan kepentingan internasional. Upaya atau langkah-langkah strategis menjadi kunci daripada mengutamakan kepentingan pribadi dan sudut pandang beku atas nama ideologis.

“Untuk Pemerintah Indonesia harus merumuskan sudut pandang baru dalam upaya membela rakyat Palestina. Jangan sampai kejadian seperti ini akan terus berulang,” pungkasnya.

Tags: Bela Palestinaberita Surabayaberita Surabaya hari iniPalestinaSurabaya
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Surabaya

Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir Digital

by Mochamad Abdurrochim
04/06/2026 8:52 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id- Sebagai upaya meningkatkan transparansi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, memasang foto juru parkir (jukir) pada rambu parkir digital di...

Sidoarjo

Kontes Modifikasi Motor Dua Tak di Sidoarjo Mampu Gerakkan Ekonomi Masyarakat

by Mochamad Abdurrochim
01/06/2026 11:45 AM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Gelaran kontes modifikasi motor dua tak dalam ajang Jayandaru Vol. 1 di Mal Pelayanan Publik (MPP) Lingkar...

WTP

WTP Tuban Kembali Diraih, Pemkab Catat 11 Kali Berturut-turut dari BPK RI

by Mochamad Abdurrochim
31/05/2026 9:10 AM
0

TUBAN, Tugujatim.id – Prestasi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali diraih Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Untuk ke-11 kali secara beruntun,...

Bojonegoro

24 ASN Rebutan 5 Kursi Kepala OPD Bojonegoro, Satpol PP dan Brida Jadi Formasi Favorit

by Mochamad Abdurrochim
24/05/2026 2:20 PM
0

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Sebanyak 24 aparatur sipil negara (ASN) mengikuti seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di lingkungan Pemerintah...

Next Post
hari penyiaran nasional tugu jatim

Sejarah Hari Penyiaran Nasional yang Diperingati Tiap 1 April

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID