• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
masjid muhammad cheng hoo tugu jatim

Nampak depan bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia di Surabaya. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Pesan Tersirat dari Gaya Arsitektur Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia di Surabaya

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Masjid-masjid di Surabaya memiliki beragam gaya arsitektur yang khas. Menilik pada salah satu masjid yang berada tak jauh dari pusat kota, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia memperlihatkan akulturasi antara Muslim dan Tionghoa.

Eksistensi masjid satu ini nyaris tak pernah padam. Wajar saja, menjadi satu dari sekian masjid di Jawa Timur yang berarsitektur khas Tionghoa. Selain di Surabaya, Masjid Cheng Hoo juga bisa ditemukan di Pandaan dan Banyuwangi.

You might also like

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

19/06/2026 10:15 AM
Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM

Di Surabaya sendiri, Masjid Cheng Hoo berlokasi di Jalan Gading Nomor 2, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Masjid ini juga berada di satu kawasan dengan Sekretariat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) wilayah Jawa Timur.

Dikutip dari buku “Sekilas Tentang Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya”, masjid itu pertama kali dibangun pada 15 Oktober 2001 atas inisiasi PITI. Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini terinspirasi dari Masjid Niu Jie di Beijing, Tiongkok, salah satu masjid tertua di dunia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

Serta, diresmikan pada 28 Mei 2003 oleh Menteri Agama RI, Prof Dr Said Agil Husain Al-Munawwar serta dihadiri oleh tokoh-tokoh penting Islam Tionghoa.

Nampak dari depan, disambut dengan halaman yang begitu luas. Terlihat, sebuah masjid berdiri megah tanpa ada halangan pandangan apapun. Sama seperti masjid dengan gaya Tionghoa pada umumnya, warna hijau, merah, dan emas yang mendominasi menjadi ciri khasnya. Tak ada kubah bundar seperti masjid lainnya, yang membuat masjid ini terlihat unik adalah bentuknya lebih mirip bangunan klenteng.

masjid muhammad cheng hoo tugu jatim
Bagian dalam Masjid Muhammad Cheng Hoo yang bertingkat. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Tak ada pintu yang menutup area dalam masjid, sehingga area masjid dibiarkan secara terbuka. Terlihat, pintu masuk seolah menyerupai Pagoda. Semakin menunjukkan khas Negeri Ginseng, bagian-bagian Masjid Muhammad Cheng Hoo dilengkapi dengan ornamen relief naga dan patung singa.

masjid muhammad cheng hoo tugu jatim
Pintu Masjid Muhammad Cheng Hoo yang dibiarkan terbuka mirip Pagoda. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Secara keseluruhan, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter. Tetapi, area dalam atau bangunan utama nampak tak begitu luas karena berukuran 11 x 9 meter. Jika ditotal, dengan halaman, masjid ini mampu menampung 1.700 jamaah.

Pemilihan angka 11 dan 9 pada bangunan utama bukan tanpa alasan. Panjang 11 meter masjid menandakan bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS berukuan 11 meter. Sedangkan, angka 9 menyiratkan jumlah Wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Kemudian, pada bagian atas berbentuj segi 8 (pat kwa) di mana dalam kepercayaan Tionghoa yang mayoritas beragama Buddha bermakna jaya dan keberuntungan.

Terlihat, pada bagian samping kiri masjid, terdapat relief sosok Muhammad Cheng Hoo. Relief tersebut memiliki makna yang mendalam dan bersejarah. Ada kapal besar di atas kolam lengkap dengan air terjun mininya. Pada bagian atas terdapat gambaran keindahan alam Indonesia. Tentunya, relief ini tak lepas dari sosok Laksamana Cheng Hoo, pemimpin kapal saat mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memberikan pesan agar kepada muslim Tionghoa agar tidak sombong dan tetap santun sebagai orang Islam.

masjid muhammad cheng hoo tugu jatim
Relief Laksamana Cheng Hoo dan kapal yang ditungganginya untuk berlayar mengelilingi dunia. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Mengenal Cheng Hoo

Cheng Hoo adalah utusan Raja Dinasti Ming yang melakukan perjalanan ke Asia membawa misi perdamaian dunia. Sebagai seorang bahariawan dan Laksama, Cheng Hoo berhasil mengelilingi dunia selama tujuh kali berturut-turut dan menjalin kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Kerajaan Majapahit saat itu.

Saat menjalin kedekatan dengan Kerajaan Majapahit diberikanlah Putri Campa untuk dipersunting oleh Raja Majapahit kemudian lahirlah putra darj Putri Campa, Raden Patah kemudian turun lahir Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Orang Tionghoa masuk Islam memang sudah biasa, tapi akan menjadi hal yang luar biasa ketika hal tersebut terjadi pada 600 tahun yang lalu. Muhammad Cheng Hoo datang ke Indonesia dan turut serta menyebarkan agama Islam saat itu. Sehingga, bisa dikatakan dalam sejarah panjang kontribusi Cheng Hoo dalam syiar agama Islam di Indonesia cukup berpengaruh.

Hikmah dari pelayaran Muhibah oleh Muhammad Cheng Hoo dan tabir dari bangunan masjid ini serasa mengingatkan bahwa walaupun hidup dalam perbedaan, hendaklah tetap bersatu dan menjaga silaturahmi, saling menghormati sesama umat, dan dapat hidup rukun berdampingan dengan penuh damai.

Tags: berita Surabayaberita Surabaya hari inimasjid muhammad cheng hoomasjid muhammad cheng hoo surabayaSurabaya
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 10:15 AM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Memeluk erat sebuah takir, nasi bungkus daun pisang, mata Hartini (47) menatap hamparan ombak selatan Pantai Serang,...

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Next Post
linocut art tugu jatim

Mengenal Linocut Art dan Cara Pembuatannya

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID