PADANG, Tugujatim.id – Lebaran merupakan sebuah perayaan umat Islam di seluruh dunia yang ditandai dengan berakhirnya bulan Ramadan dan masuknya bulan Syawal. Di Indonesia, Hari Raya Idulfitri biasanya dirayakan dengan tradisi-tradisi yang berbeda di setiap daerah.
Tak berbeda dari daerah lainnya, tradisi lebaran di Padang, Sumatra Barat, juga memiliki keunikan tersendiri. Selama 20 tahun tinggal di Padang, penulis merangkum berbagai tradisi lebaran yang terbilang unik. Berikut ulasannya.
1. Malamang

Malamang adalah tradisi membuat makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan beralas daun pisang lalu dimasak menggunakan bambu di atas bara api.
Dalam bahasa Minang, malamang artinya membuat lemang. Malamang merupakan tradisi nenek moyang adat Minangkabau yang telah dilakukan sejak dulu. Tradisi ini biasanya dilakukan saat menyambut hari-hari besar, seperti kelahiran Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, dan Idul Fitri.
Saat Idulfitri, masyarakat Minangkabau biasanya makan lamang dengan bubur ketan hitam. Sebagian masyarakat lainnya juga mengonsumsi lemang yang disandang dengan durian. Perpaduan unik ini cocok disantap ketika kumpul keluarga saat Lebaran.
Sayangnya, tradisi malamang kini sudah mulai jarang terlihat, terlebih-lebih di Kota Padang. Beberapa masyarakat cenderung membelinya di pasar tradisional karena proses pembuatan lemang tersebut cukup rumit.
2. Pulang Basamo
Dalam bahasa Minang, pulang basamo berarti pulang bersama-sama. Secara umum, pulang basamo merupakan rencana mudik yang dilakukan ketika akan merayakan Idulfitri bersama orang tua serta sanak famili. Mudik pastinya menjadi ciri khas bagi orang Indonesia yang pergi merantau dari daerah asalnya.
Namun, tradisi mudik orang Minang ini agak sedikit berbeda. Pulang basamo adalah pulangnya para perantau Minang secara bersama-sama oleh ikatan keluarga Minang di daerah perantauan. Kentalnya rasa persaudaraan di antara mereka inilah yang mendorong rasa untuk kembali ke kampung halaman bersamaan.
Biasanya, mereka akan mudik dengan bus antarkota atau antarprovinsi, atau bahkan mudik dengan kendaraan pribadi.
3. Manambang
Manambang merupakan tradisi unik bagi anak Minang. Usai salat Idulfitri, anak-anak Minang akan datang ke rumah warga setempat untuk bersilaturahmi. Biasanya, mereka akan pergi dalam kelompok yang terdiri dari 3-6 anak ke rumah-rumah penduduk sekitar komplek, kampung, atau desanya.
Saat silaturahmi ini biasanya si pemilik rumah akan menghidangkan kue lebaran dan memberi uang THR Idulfitri. Setelah itu, mereka biasanya akan pergi ke rumah berikutnya.
Menambang ini sudah menjadi tradisi turun-menurun. Hasil dari menambang tersebut biasanya akan ditabungkan atau sekedar membeli mainan.
4. Bantai Adat
Tenang, kearifan lokal ini maksudnya bukan ingin merusak adat atau tradisi Minangkabau saat Lebaran, melainkan tradisi memotong kerbau secara massal untuk nantinya dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Padang Pariaman.
Pada tradisi ini, setiap warga atau keluarga dapat memesan berapapun yang dibutuhkan. Namun, apabila memesan dalam jumlah banyak, masyarakat setempat memiliki tradisi untuk membagi atau menyedekahi daging tersebut kepada yang membutuhkan.
Kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur ini tentunya memiliki filosofi dan makna yang mendalam, seperti meningkatkan silaturahmi antarwarga, meningkatkan kebersamaan, dan solidaritas sosial.
—
Demikian tradisi unik Minangkabau yang ada hingga kini. Keunikan tradisi ini menjadi sebuah pengingat bagi kita untuk selalu menjaga warisan budaya.








