MOJOKERTO, Tugujatim.id – Proses peningkatan perilaku individu maupun organisasi dalam mencapai tujuan tertentu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui penguatan kapasitas kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) yang dilangsungkan oleh Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kota Mojokerto.
Penguatan yang dikemas dalam acara Pelatihan Daiyah ini berlangsung di Hotel Lynn Kota Mojokerto, Jawa Timur, pada Minggu (10/9/2023).
Pelatihan yang diikuti oleh seluruh pengurus ranting Fatayat NU se-Kota Mojokerto ini menghadirkan tiga narasumber yaitu dr Ida Rochmawati, Nyai Bashirotul Hidayah, dan Ning Uswatun Hasanah.
Salah satu narasumber yaitu Ning Uswah, sapaan Ning Uswatun Hasanah, memberikan materi tentang Gender Mubadalah. Salah satu isi materi tersebut adalah gender merupakan hasil konstruksi sosial serta dapat dipertukarkan.
“Beda seks dengan gender adalah seks itu kodrat, melekat karena faktor biologis. Sementara gender itu terbentuk dari konstruksi sosial. Hal itu misalnya perempuan selalu dikesankan lemah lembut, keibuan, emosional, dan lain-lain. Laki-laki dikonstruk sebagai makhluk yang dianggap kuat, rasional, perkasa, dan lain sebagainya,” ujar Ning Uswah, pada Minggu (10/8/2023).
Mubadalah sendiri berarti relasi antara dua pihak. Relasi yang dimaksud meliputi kesetaraan, kesalingan, dan kerja sama. “Namun setara itu bukan berarti sama. Lalu kesalingan itu memberi akses yang sama, sedangkan kerja sama berarti bersosial secara bermartabat,” imbuh Ning Uswah.
Dengan demikian, gender dan mubadalah memandang bahwa baik laki-laki maupun perempuan merupakan subjek utuh kehidupan. Kedua makhluk ini sama-sama ciptaan Tuhan. “Keduanya sama-sama menjadi khilafah di bumi Allah SWT. Maka relasi keduanya bukan bersifat hegemoni dan dominasi, melainkan kesalingan dan kerja sama,” beber Ning Uswah.
Ketua panitia Pelatihan Daiyah, Nur Arofah menambahkan bahwa isu gender mubadalah menjadi salah satu perhatian bagi organisasi keperempuanan seperti PC Fatayat NU Kota Mojokerto. Terlebih menurut Nur Arofah, masih banyak perempuan yang belum berani speak up atau bicara bila menghadapi perlakuan diskriminatif.
“Melalui pelatihan ini kami ingin berikan pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki itu sama, saling bantu satu sama lain. Hak perempuan juga sama dengan hak laki-laki,” kata Nur Arofah.
Reporter: Hanif Nanda
Editor: Lizya Kristanti








