• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
nakes tugu jatim

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, Adib Khomaini. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Tak Ada Asesmen Kebutuhan Nakes di Daerah Picu Ketidakmerataan Sebaran Dokter Spesialis di Jatim

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Kesehatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Sebaran tenaga kesehatan (nakes) di Jatim, terutama dokter spesialis, saat ini tidak merata. Penyebabnya adalah tidak adanya asesmen dari pemerintah daerah (pemda) terkait kebutuhan nakes. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh Adib Khomaini.

IDI mencatat, jumlah dokter di Jatim pada 2023 sebanyak 21.000 orang. Kemudian, jika mengacu pada standar yang ditentukan WHO, idealnya satu dokter melayani 1.000 penduduk, jadi 1:1000.

You might also like

Makanan tinggi protein.

Anak Kos Wajib Stok! 8 Makanan Tinggi Protein yang Awet dan Murah

15/07/2026 9:27 AM
Kasus TBC.

1.289 Kasus TBC Ditemukan di Kabupaten Malang, Pemkab Perkuat Skrining AI Percepat Deteksi Dini

04/07/2026 1:13 PM

Tetapi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat saat ini penduduk Jatim berjumlah 41.416.407 jiwa. Artinya, menunjukkan bahwa kebutuhan dokter/nakes di Jatim masih kurang, terlebih di daerah-daerah kecil.

Menurutnya, untuk mengetahui kebutuhan dokter di setiap daerah, maka pemda wajib membuat asesmen tentang alokasi nakes, khususnya dokter spesialis. “Setiap pemda kabupaten/kota harus melakukan sebuah asesmen tentang kebutuhan dokter spesialis. Di setiap daerah, ukurannya jangan nasional karena rasio itu per kabupaten/kota,” kata Adib, pada Kamis (19/10/2023).

Sebetulnya, pemerintah pusat telah mengatur tentang alokasi nakes melalui UU No 23 Tahun 2012 tentang Pemerintah Daerah. “Disebutkan, bahwa kewenangan menempatkan tenaga kesehatan untuk kemudian di alokasi kebutuhan itu ada. Nah ini yang kemudian harus dimulai dari setiap pemda kabupaten/kota,” jelasnya.

Namun menurutnya, jika asesmen tersebut dibuat oleh pemda, maka setiap daerah yang memiliki data dapat saling mendorong untuk pemenuhan nakes.

“Kalau sudah punya asesmen, dokter daerah akan melakukan ‘lebih ayo kita dorong ke daerah lain yang masih kosong’. Sehingga daerah yang penuh bisa mengatakan ‘untuk periode satu tahun ini saya mengatakan daerah saya tutup untuk penerbitan SIP’,” bebernya.

Jika tidak, maka nakes, terlebih dokter spesialis, akan lebih memilih penempatan kerja di kota-kota besar dengan akses yang mudah dan fasilitas mumpuni. Apalagi, jika dokter tersebut berlatar belakang mahasiswa mandiri, bukan beasiswa. Sehingga, tidak terikat pada kebijakan apapun.

“Kebijakan itu belum pernah ada. Akhirnya baik dokter umum maupun spesialis, dia akan mencari tempat yang ekonominya tinggi karena sekolah kedokteran bukan dibiayai oleh negara, sebagian besar adalah mandiri. Kecuali nanti dapat beasiswa, dia kontrak daerah dan kembali ke daerah. Ini yang sekarang dilakukan walaupun secara jumlah belum cukup, tapi ini yang harus kita dorong,” ucapnya.

Meski begitu, Adib tak menampik bahwa setiap dokter pasti bersedia jika ditempatkan pada daerah terpencil. Namun, juga harus didukung oleh kesejahteraan dan fasilitas sesuai kebutuhan.

“Jenjang karir, kesejahteraan, insentif, dan sarana prasana itu menjadi jaminan sehingga kita bisa untuk mendorong teman-teman dokter mau ke daerah. Saya katakan, kami akan siap membantu daerah, me-marketing, memberikan pemahaman supaya mereka mau ke daerah. Tapi tentu ada pertanyaan, nanti bagaimana saya di sana> Ini perlu ditegaskan dari pemda,” pungkasnya

Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Lizya Kristanti

Tags: berita jatimberita Jatim hari inidokter jatimjatimnakes
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Makanan tinggi protein.

Anak Kos Wajib Stok! 8 Makanan Tinggi Protein yang Awet dan Murah

by Dwi Linda
15/07/2026 9:27 AM
0

Tugujatim.id - Kamu anak kos yang lagi menjaga asupan makanan tinggi protein? Tapi kamu harus menyesuaikan dengan anggaran bulanan dan...

Kasus TBC.

1.289 Kasus TBC Ditemukan di Kabupaten Malang, Pemkab Perkuat Skrining AI Percepat Deteksi Dini

by Dwi Linda
04/07/2026 1:13 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menemukan 1.289 kasus tuberkulosis (TBC) selama periode Januari hingga Mei 2026. Angka tersebut...

Minum teh.

Sering Minum Teh saat Makan? Ternyata Kebiasaan Ini Bisa Ganggu Penyerapan Zat Besi

by Dwi Linda
16/06/2026 6:14 PM
0

Tugujatim.id – Pembahasan mengenai kebiasaan minum teh saat makan ramai dibicarakan setelah muncul dalam salah satu episode kanal YouTube Suara...

Kota Blitar.

12.848 Warga Kota Blitar Alami Obesitas, 60 Persen Ternyata Perempuan Dewasa

by Dwi Linda
09/06/2026 6:13 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Tren kelebihan berat badan atau obesitas di Kota Blitar menunjukkan statistik yang mengejutkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota...

Next Post
Grama Tirta, Merayakan Warisan Budaya Hingga Menjaga Sumber Daya Alam Desa Toyomarto Malang

Grama Tirta, Merayakan Warisan Budaya Hingga Menjaga Sumber Daya Alam Desa Toyomarto Malang

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID