MOJOKERTO, Tugujatim.id – Posisi perempuan dalam dunia pendidikan nyatanya belum aman sepenuhnya. Gurauan bernada seksis masih kerap ditemui, bahkan sekalipun dalam ruang-ruang kelas perguruan tinggi. Hal ini dirasakan oleh salah satu aktivis Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kota Mojokerto, Uswatun Hasanah.
Ning Uswah, sapaan Uswatun Hasanah, bercerita soal guyonan yang dimaksud. Ia berkaca pada salah satu peristiwa yang terjadi saat mengikuti perkuliahan di sebuah kampus swasta di Mojokerto.
“Waktu itu ada ibu-ibu datang ke kelas agak terlambat, lalu dosen bertanya ‘mengapa ibu terlambat?’. Nah belum sempat ibu tadi menjawab pertanyaan, dosen langsung nyeletuk ‘Tapi saya maklum kalau ibu-ibu datang terlambat, barangkali diajakin begituan sama suaminya’. Kemudian satu kelas yang mayoritas laki-laki itu tertawa,” ucap Ning Uswah, pada Selasa (7/11/2023).
Ning Uswah menyayangkan kejadian guyonan tersebut tidak berhenti di kelas saja. Terkadang berlanjut pada grup-grup WhatsApp (WA). “Miris sekali. Guyonan itu ga berhenti di kelas, malah diteruskan di grup-grup WA. Padahal kalau dilihat dari latar belakang pendidikan, yang guyonan itu banyak yang berprofesi juga sebagai pengajar dan menjalani studi doktoral lho,” beber Ning Uswah.
Pada contoh lain, Ning Uswah menjelaskan sebuah akun YouTube yang isi kontennya memberikan edukasi untuk balita. Utamanya konten pada akun tersebut ingin membantu balita yang mengalami speech delay. Namun, meski sudah berpakaian sopan, ternyata hal ini tak luput dari komentar-komentar bernada pelecehan seksual.
“Konten kreator tadi sarjana psikologi, kontennya juga untuk bayi, tapi komentator dari akun tersebut kok membuat prihatin. Padahal isi kontennya sangat bermanfaat,” imbuh Ning Uswah.
Sebagai perumpamaan, Ning Uswah mencontohkan sebuah teko yang mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Sebuah teko dapat mengeluarkan kopi, teh, atau air putih bergantung pada isinya.
“Begitu juga dengan lisan. Itu terucap mewakili dari isi kepala yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman biologis perempuan itu harusnya difasilitasi, bukannya dijadikan bahan guyonan, lebih-lebih malah direndahkan bahkan dilecehkan,” tegas Ning Uswah.
Reporter: Hanif Nanda
Editor: Lizya Kristanti








