• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Inilah buku berjudul "Harjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola Bisnis" yang di-launching pada Selasa malam (22/06/2021). (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Inilah buku berjudul "Harjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola Bisnis" yang di-launching pada Selasa malam (22/06/2021). (Foto: Dokumen)

Alumni Majalah Tempo Launching Buku “Harjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola Bisnis”

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
5 years ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, Tugujatim.id – Para alumnus Majalah Tempo menerbitkan dan meluncurkan buku baru. Biografi seorang tokoh senior di balik bisnis Tempo: Harjoko Trisnadi. Salah seorang pendiri Majalah Berita Mingguan Tempo.

Peluncuran buku berjudul “Harjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola Bisnis” itu dilaksanakan pada Selasa malam (22/06/2021) bersamaan dengan ulang tahun ke-91 sosok yang selama ini di berada di dapur bisnis Majalah Berita Tempo.

You might also like

Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir, Area tanpa Izin Terancam Ditutup

21/07/2026 8:30 PM
Gus Kikin.

Gus Kikin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Ngaku Terima Penugasan PWNU Jatim

21/07/2026 7:17 PM

Acara peluncuran dilangsungkan secara virtual melalui aplikasi zoom yang diinisiasi Didi Prambadi, mantan wartawan Tempo yang kini bermukim di Philadelphia, AS. Didi juga adalah pengasuh majalah untuk komunitas Indonesia di sana. Namanya Lantern Indonesia.

“Kita semua, terutama saya, amat mengenal Mas Harjoko Trisnadi. Dia salah satu sosok penting dalam perjalanan Majalah Tempo yang kini sudah berusia 50 tahun,” ujar Goenawan Mohamad, mantan pemred dan salah seorang pendiri Majalah Tempo, ketika membuka acara peluncuran buku.

Dia bersyukur karena buku tentang sosok Pak HT, begitu biasa Harjoko Trisnadi dipanggil, akhirnya bisa diterbitkan.

“Saat Tempo sudah berusia 50 tahun. Mas Harjoko berusia 91 tahun dan saya sendiri 80 tahun,” ujar GM pada acara daring yang diikuti 72 alumnus Tempo, keluarga, dan kerabat Pak HT.

Ikut hadir dan memberi selamat kepada Pak HT dalam acara itu, di antaranya, Dahlan Iskan, Christianto Wibisono, dan Arif Zulkifli, kini Direktur Utama PT Tempo Inti Media.

Buku biografi Pak HT dirancang dan ditulis para alumnus Tempo dalam rangka menyambut ulang tahun Tempo ke-50, Maret lalu. Diisi dengan kata pengantar oleh A. Margana, prolog oleh Goenawan Mohamad, dan epilog oleh Dahlan Iskan. Lalu, riwayat perjalanan hidup Harjoko Trisnadi ditulis oleh: Marah Sakti Siregar, Renville Almatsier, dan Tutty Baumeister.

Lahir di Demak, 22 Juni 1930, Pak HT atau nama awalnya Joppie Kho Tiang Hoen. Dia memulai karirnya sebagai wartawan di Majalah Star Weekly saat dipimpin tokoh pers Petrus Kanisius (P.K) Ojong, salah satu pendiri Koran Kompas bersama Jacob Oetama, pada 1952. Dia banyak berguru dalam masalah jurnalisme dan pengelolaan media dari tokoh pers yang dikenal idealis dan pekerja keras itu.

Panitia Hari Pers Nasional pada 2018 lalu menganugerahkan Penghargaan Seumur Hidup (Lifetime Award) kepada Harjoko Trisnadi.(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Panitia Hari Pers Nasional pada 2018 lalu menganugerahkan Penghargaan Seumur Hidup (Lifetime Award) kepada Harjoko Trisnadi.(Foto: Dokumen)

Setelah sembilan tahun berkiprah dan sedang asyik-asyiknya menjadi wartawan, Star Weekly dibredel pemerintah Orde Lama pada 1961. Penyebabnya, di antaranya karena tulisan-tulisan di majalah, yang saat itu oplah mencapai  52.000 eksemplar, sering mengeritik policy luar negeri pemerintah. Menlu ketika itu dijabat Dr Soebandrio, sekutu dekat Bung Karno.

Lepas dari Star Weekly, Pak HT bersama beberapa seniornya eks Star Weekly mendirikan Mingguan Djaja. Mereka bekerja sama dan didukung Gubernur DKI Jakarta waktu itu Dr Soemarmo Sastroatmodjo.

Awalnya, sampai tahun 1965, Mingguan Jaya masih bisa eksis. Tapi, setelah terjadi peristiwa G30S/PKI pada 1965 terjadi perubahan politik di Indonesia. Rezim Orla digantikan Orba. ABRI masuk ke dunia politik. Posisi Soemarmo digantikan Letjen KKO Ali Sadikin (1966).

Rezim Orde Baru memberi kebebasan pers. Sejumlah media yang sebelumnya dibredel, misalnya, Indonesia Raya (dipimpin Mochtar Lubis) dan Pedoman (dipimpin Rosihan Anwar) dibolehkan terbit lagi. Bersama mereka terbit juga beberapa media baru yang isinya tajam dan kritis. Misalnya, Kompas dan Harian KAMI. Mingguan Djaja yang kala itu diterbitkan yayasan nirlaba milik Pemda DKI, Yayasan Jaya Raya, pun tersisih dan kehilangan pasar.

Lalu sekitar empat tahun kemudian, Ir Ciputra, ketua Umum Yayasan Jaya Raya dihubungi Lukman Setiawan yang baru mengundurkan diri dari Koran Kompas. Lukman Setiawan mengabarkan kepada Ciputra bahwa terjadi perpecahan di Majalah Berita Ekspres yang diterbitkan Goenawan Mohamad dkk bekerja sama (dimodali) tokoh pers pemilik Grup Koran Merdeka B.M Diah.

Tanggal 14-19 Oktober 1970 berlangsung Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Palembang. Awalnya dalam kongres itu terpilih Rosihan Anwar sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Tapi, sejumlah figur wartawan dari media yang pro pemerintah Orba menolak sosok Rosihan Anwar. Mereka mengadakan kongres tandingan dan memilih B.M Diah sebagai ketua umum.

GM mengeritik B.M Diah yang dinilainya menolak bermusyawarah dan membawa PWI bekerja sama dengan pemerintah.

B.M Diah yang membaca kritik GM di beberapa media,  langsung berang. GM pun dipecat. Beberapa temannya para pengasuh Ekspres, seperti Fikri Jufri, Christianto Wibisono, solider memihak GM. Mereka semua pun ikut dipecat.

Lukman Setiawan meminta Ciputra membantu para wartawan yang baru kehilangan pekerjaan itu.

Setelah berunding alot, tercapai kesepakatan pada akhir 1970. Yayasan Jaya Raya menjadi penerbit baru majalah berita yang mirip Ekspres. Namanya Majalah Berita Mingguan Tempo. Mulai terbit 6 Maret 1971.

GM memimpin barisan redaksinya. Sedangkan Ciputra kemudian menunjuk stafnya di PT Pembangunan Jaya Eric Samola bersama Harjoko Trisnadi untuk mengelola urusan bisnis majalah tersebut. Langkah baru Yayasan Jaya Raya itu sekaligus menjadi pamungkas ditutupnya Mingguan Djaja.

Dalam perjalanan ikut membesarkan Tempo sampai majalah itu kini berusia 50 tahun, Pak HT yang low profile, menjalani suka duka. Masa keemasan dan masa surut Tempo setelah dua kali mengalami pembredelan. Pertama, pembekuan SIUPP tahun 1982. Kedua, pembatalan SIUPP pada 21 Juni 1994. Bersama Majalah Berita Editor dan Tabloid Detik, Tempo dibredel pemerintah.

Menghargai kiprahnya yang berpuluh tahun setia mengurus media massa, Panitia Hari Pers Nasional pada 2018 lalu menganugerahkan Penghargaan Seumur Hidup (Lifetime Award) kepada Harjoko Trisnadi. (RSH)

Tags: Alumni Majalah TempoHarjoko TrisnadiHarjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola BisnisJakarta hari iniMajalah TempoPeluncuran buku
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir, Area tanpa Izin Terancam Ditutup

by Dwi Linda
21/07/2026 8:30 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengawasi dengan ketat terhadap pengelolaan parkir. Pemkot Surabaya mengawasi berbagai tempat mulai...

Gus Kikin.

Gus Kikin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Ngaku Terima Penugasan PWNU Jatim

by Dwi Linda
21/07/2026 7:17 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin...

Angkot pelajar gratis.

80 Angkot Pelajar Gratis Segera Hadir di Malang, Pemkot Tunggu Audit 4 Koperasi Rampung

by Dwi Linda
21/07/2026 6:45 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui dinas perhubungan (dishub) terus mematangkan pelaksanaan program angkot pelajar gratis. Saat ini,...

Penjual kambing.

Viral Penjual Kambing Kota Batu Disebut Mirip Yesus, Ternyata Niat Awalnya untuk Berdakwah

by Dwi Linda
21/07/2026 6:33 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Seorang penjual kambing Kota Batu, Jawa Timur, mendadak viral menjadi perbincangan di media sosial. Faiq Muhammad Alkhatiri...

Next Post
Gilang Widya Pramana (kanan) saat memperkenalkan pemain baru Arema FC Diego Michiels. (Foto: IG juragan-99/Tugu Jatim)

Presiden Arema FC sekaligus Bos Juragan99 Positif Covid-19

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID