• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ilustrasi individu tertekan karena menjadi bagian dari generasi sandwich atau sandwich generation. (Foto: Pixabay)

Ilustrasi individu tertekan karena menjadi bagian dari generasi sandwich atau sandwich generation. (Foto: Pixabay)

Cara Mengatasi dan Memutus Mata Rantai Sandwich Generation

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Sandwich generation merupakan istilah yang dipakai untuk menjelaskan situasi ‘terhimpit’ secara kewajiban hidup pada dua generasi. Yakni generasi atas dan generasi bawah.

Situasi tersebut amat potensial membuat subjek yang terhimpit menjadi stres, tertekan, depresi dan mengarah ke kesehatan mental hingga kejiwaan personalnya.

You might also like

Jatim

Dindik Jatim Tegaskan Kepala Sekolah Dilarang Terima Titipan Siswa pada SPMB 2026

03/06/2026 3:53 PM
LPPM UM.

Kolaborasi LPPM UM X Direktorat Inovasi UM Dorong Hilirisasi Riset Global melalui Pameran AFRASIA 2026

03/06/2026 3:16 PM

Untuk mengatasi dan menutus situasi ‘terhimpit’ itu, Nurul Hidayati MPsi Psikolog selaku Psikolog Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dan pegiat akademisi sebagai Dosen Fakultas Psikologi di Universitas 45 Surabaya berupaya memaparkan melalui perspektif psikologi.

Mengajarkan Kemandirian pada Anak-Anak dan Pemahaman ‘Care-giving’ untuk Kakek-Neneknya

Nurul menyebut bahwa perlu adanya keterlibatan dari berbagai pihak agar situasi semacam itu lebih ‘balanece’ dan tidak memberatkan salah satu pihak saja. Seperti, jelas Nurul, mengajarkan anak-anak terkait kemandirian dan kedewasaan dalam ‘care-giving‘ pada generasi di atasnya.

“Mau nggak mau, semua pihak harus kita libatkan, ya. Supaya lebih ‘balance’ dan berkurang tekanan dan ketidaknyamanan. Anak-anak kita ajarkan, kita dampingi, kita pahamkan untuk lebih mandiri. Bahkan untuk ambil bagian dalam ‘care-giving‘ terhadap kakek-neneknya,” terangnya, Jumat (25/06/2021).

Perlu Terbuka, Saling Support, Memahami dan Membantu Satu Sama Lain

Di sisi lain, Nurul menegaskan bahwa perlunya kesehatan komunikasi dan ekspresi bantuan nyata di kehidupan sehari-hari. Karena hal itu, jelas Nurul, dalam membawa suasana nyaman dan empatik di dalam keluarga.

Apabika tidak melakukan hal tersebut, imbuh Nurul, situasi rumah dan keluarga bakal menjadi tertekan, stress, dan tidak ideal dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sehingga amat berbahaya bila tidak memoles komunikasi dengan baik.

“Ekspresi kasih sayang, bukan hanya ungkapan hati dan kata-kata, namun terekspresikan dalam bantuan dan tindakan nyata keseharian. Komunikasi dalam keluarga perlu diperhatikan betul. Harus terbuka, lancar, empatik, saling memahami, saling support. Karena kalau tidak demikian, rumah bisa jadi amat ‘stress’. Amat nggak nyaman,” bebernya.

Sisihkan Waktu untuk Rehat, Rekreasi, Olahraga atau Mengerjakan Hobi

Di samping itu juga perlu upaya untuk manajemen emosi dengan baik. Nurul memaparkan dengan cara melakukan hobi mingguan, rekreasi, olahraga, atau istirahat terlebih dahulu dari situasi yang membuat tertekan. Hal itu, jelas Nurul, dapat dipakai untuk manajemen emosi.

“Perlu meluangkan waktu untuk ‘recharge’ energi, melakukan kegiatan ‘self-care’, melakukan olahraga, rekreasi, hobi juga perlu disempatkan. Sehingga emosi termanajemen dengan baik. Kalau diperlukan, jangan ragu untuk mencari ‘support-group’, dan bantuan,” bebernya.

“Misalnya dari saudara, tetangga atau lembaga profesional penyedia jasa layanan terkait lansia. Ada yang dalam waktu panjang, singkat atau bahkan harian. Upaya pencegahan juga bisa kita lakukan,” imbuhnya.

Menjaga Keseimbangan Hidup, Kesehatan dan Asuransi untuk Hari Tua

Menjaga kesehatan hidup dan ‘balance‘ diperlukan agar diri secara personal dapat terjaga dengan baik. Nurul menegaskan perlu juga menyiapkan asuransi, agar anak-anak nanti tidak terjebak dalam ‘sandwich generation’ berkelanjutan.

“Dengan menjaga kesehatan kita sebaik-baiknya, rajin olahraga, memperhatikan asupan makanan dan pikiran, memanajemen emosi dengan baik, menjaga irama hidup yang sehat dan ‘balance’, memiliki asuransi kesehatan, dan sebagainya. Dengan harapan, ketika tiba saatnya kita jadi lansia, nggak membuat anak-anak dalam posisi ‘sandwich generation’,” jelasnya.

Kendati Sudah Diantisipasi, Kadang Masih Terjadi ‘Sandwich Generation’

Kegiatan semacam itu juga bertujuan agar diri secara personal tidak memberatkan anak-anak atau orang tua kita. Nurul memaparkan bahwa kendati hal itu sudah diantisipasi, kadang masih saja ada yang terjebak dalam ‘sandwich generation‘, karena situasi itu sudah ada di dalam budaya bangsa Indonesia.

“Namun, tentu saja, kadang hal tersebut bisa terjadi meski kita telah mengantisipasi dan mencegah. Budaya kita yang suka berkumpul rame-rame dalam satu atap, misalnya. Atau anak-anak juga menginginkan memperoleh kebaikan atau pahala dengan merawat orang tuanya, dan sebagainya,” pungkasnya.

Mengenal Apa Itu Sandwich Generation dan Faktor Penyebab Kemunculannya

Tags: psikologiSandwich Generation
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Jatim

Dindik Jatim Tegaskan Kepala Sekolah Dilarang Terima Titipan Siswa pada SPMB 2026

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 3:53 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menegaskan seluruh kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB negeri di wilayah setempat dilarang...

LPPM UM.

Kolaborasi LPPM UM X Direktorat Inovasi UM Dorong Hilirisasi Riset Global melalui Pameran AFRASIA 2026

by Dwi Linda
03/06/2026 3:16 PM
0

MALANG, Tugujatim.id — Pusat Sains dan Rekayasa (PSR) di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri...

Pelanggaran Etik Sosial

Pelanggaran Etika Sosial Masih Marak, Tempat Umum dan Medsos Jadi Lokasi Dominan

by Mochamad Abdurrochim
02/06/2026 8:10 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pelanggaran etika sosial masih kerap ditemukan di tengah masyarakat. Tempat umum dan media sosial disebut menjadi lokasi...

Net Zero Campus.

Perkuat Transformasi, UM Inisiasi Kerja Sama Net Zero Campus dengan Climateworks Centre Monash University

by Dwi Linda
30/05/2026 11:19 AM
0

MALANG, Tugujatim.id - Universitas Negeri Malang (UM) menginisiasi kerja sama dengan program Net Zero Campus dari Climateworks Centre, Monash University,...

Next Post
Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzki dalam rapat koordinasi dengan jajaran Bappeda dan BPPKAD untuk mematangkan konsep dan alokasi anggaran pada perencanaan pembangunan di Kabupaten Tuban, Kamis (24/06/2021). (Foto: Humas Pemkab Tuban)

Lindra-Riyadi Prioritaskan 3 Sektor Pembangunan: Pendidikan, Infrastruktur, dan Kesehatan

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID