• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Mengulik kebanaran apakah Bahasa Indonesia menunjukkan adanya tendensi terhadap gender tertentu. (Ilustrasi: Pixabay)

Mengulik kebanaran apakah Bahasa Indonesia menunjukkan adanya tendensi terhadap gender tertentu. (Ilustrasi: Pixabay)

Benarkah Bahasa Indonesia Kental dengan Patriarki dan Misoginis?

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Pendidikan, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Pada dasarnya, bahasa memiliki peran penting untuk membangun nilai-nilai serta pandangan dunia seseorang dan masyarakat. Lantas, benarkah bahasa Indonesia kental dengan budaya patriarki dan misoginis?

Mengacu pada Hipotesis Sapir-Whorf bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut akan dikodekan ke dalam bahasa. Selain itu, tidak hanya persepsi pengguna bahasa terhadap dunia yang mempengaruhi bahasa, melainkan juga bahasa dapat mempengaruhi cara pandang pengguna bahasa terhadap dunia.

You might also like

MBG di Jember.

MBG di Jember Bikin Siswa Semangat Sekolah, Orang Tua Akui Uang Saku Berkurang

20/06/2026 7:14 PM
Sekolah Rakyat Kediri.

Open House Sekolah Rakyat Kediri, Bupati Hanindhito Motivasi Siswa Berani Bermimpi Besar

20/06/2026 6:35 PM

Wijana berpendapat bahwa perbedaan peranan laki-laki dengan perempuan tercermin dalam sebuah bahasa. Bahasa dalam hal ini tidak hanya dipandang sebagai bentuk-bentuk formal yang merupakan deretan bunyi atau susunan kata, melainkan juga secara praktik atau realitas sosial. Bahasa dapat memengaruhi masyarakat penggunanya karena bentuk-bentuk kebahasaan untuk memisahkan makna-makna gender memuat deskripsi yang cenderung diskriminatif sebagai alat refleksi mengenai kuatnya pengaruh bahasa terhadap kultur atau kebiasaan masyarakat penggunanya.

Pada tulisan yang diunggah dalam The Conversation, Fariz Alnizar mengungkapkan bahwa dalam lema-lema bahasa Indonesia selalu mengandung makna atau setidaknya citra negatif yang disematkan dalam sifat-sifat yang terkait dengan perempuan.

Dalam bahasa Indonesia, bentuk-bentuk yang menunjukkan tendensi terhadap gender tertentu tidak secara eksplisit tercermin dalam struktur linguistik, tetapi dalam penggunaan kosakata. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana kosakata bahasa Indonesia mempresentasikan laki-laki dan perempuan secara tidak seimbang, baik dari sisi bentuk maupun maknanya.

Asisten profesor di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia tersebut menuliskan, “Sebut saja misalnya lema perawan yang diartikan dengan ‘gadis, anak dara, gadis yang sudah tua’. Meski bukan merupakan makna utama, namun frasa gadis yang sudah tua merupakan pemerian makna yang bercorak negatif. Bandingkan dengan bagaimana penulis kamus ini mengartikan lema jejaka. Di sana, lema itu diartikan sebagai ‘anak laki-laki yang telah dewasa’.”

Selain itu, Fariz juga menyoroti penggunaan lema adjektiva yang menggunakan perempuan sebagai representasinya. “Studi kecil saya tentang adanya adjektiva seksis, seperti pemberian contoh terhadap beberapa kata yang diidentikkan dengan gender tertentu. Misalnya kata cerewet yang diartikan oleh KBBI dengan ‘suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dsb); banyak mulut; nyinyir; bawel’ dengan contoh pemakaian seperti ini, pembantu rumah tangga biasanya tidak suka bekerja pada nyonya rumah yang cerewet,” jelasnya.

Dalam menanggapi kegaduhan tersebut, Badan Bahasa yang memiliki otoritas dalam penyusunan dan pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengemukakan argumen bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kamus hidup (living dictionary) dan berisi rekaman sejarah fakta kebahasaan yang pernah hidup di masyarakat sehingga tidak bisa dengan mudah diubah.

Tidak sependapat dengan argumen Badan Bahasa, Fariz mengatakan, “Alih-alih berkilah dengan argumen yang canggih, pekamus punya kesempatan yang baik untuk berkontribusi memberi warna positif demi mengubah stigma yang ada di masyarakat.”

Sejalan dengan permasalahan tersebut, berbagai komponen sosial atau masyarakat, baik yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan dari semua lini harus proaktif dan bersinergi untuk menghapus nilai-nilai kultural yang telah usang dan diskriminatif. Setiap komponen sosial harus berani untuk mendobrak realitas yang telah mengakar untuk membebaskan individu yang terstigmasi standar sosial dan budaya.

Tags: BahasaBahasa Indonesia
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

MBG di Jember.

MBG di Jember Bikin Siswa Semangat Sekolah, Orang Tua Akui Uang Saku Berkurang

by Dwi Linda
20/06/2026 7:14 PM
0

JEMBER, Tugujatim.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember mulai dirasakan manfaatnya oleh siswa, guru, hingga orang tua. ...

Sekolah Rakyat Kediri.

Open House Sekolah Rakyat Kediri, Bupati Hanindhito Motivasi Siswa Berani Bermimpi Besar

by Dwi Linda
20/06/2026 6:35 PM
0

KEDIRI, Tugujatim.id – Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri tidak hanya menjadi ajang bagi masyarakat untuk melihat...

Polije.

Perkuat Serapan Lulusan, Polije Gandeng IKAPJ Perluas Peluang Magang dan Kerja Alumni

by Dwi Linda
20/06/2026 5:10 PM
0

JEMBER, Tugujatim.id – Politeknik Negeri Jember (Polije) memperkuat sinergi dengan Ikatan Keluarga Alumni Polije (IKAPJ). Polije berupaya memperluas peluang magang,...

SPPG Jombang.

Hidangan Spesial, SPPG Jombang Jember Sajikan Menu Daging Sapi Setiap Jumat

by Dwi Linda
20/06/2026 12:04 PM
0

JEMBER, Tugujatim.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, menyajikan menu daging sapi bagi...

Next Post
Timnas Spanyol merayakan kemenangan atas Kroasia pada laga babak 16 besar Euro 2020, di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, Senin (28/6/2021). (Foto: Instagram/sefubol)

Euro 2020: Spanyol Singkirkan Kroasia lewat Drama 120 Menit

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID