JEMBER, Tugujatim.id – Pantai Pancer yang terletak di selatan Kabupaten Jember menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan pemandangan alam memesona kepada para pengunjung. Pantai Pancer menjadi alternatif liburan yang banyak diminati wisatawan untuk menghabiskan waktu di hari libur.
Di balik keindahan Pantai Pancer dan pantai-pantai di sekitarnya, termasuk Pantai Puger, harus dihadapkan dengan permasalahan sampah yang belum terselesaikan sepenuhnya hingga saat ini. Sampah terus menghiasi tepian pantai yang menumpuk di atas pasir hitam pantai tersebut.
Sebelumnya pada 2023, pantai tersebut dipenuhi sampah sehingga terlihat seperti lautan sampah. Akibat sampah yang menumpuk tersebut, membuat wisatawan mengeluhkan aroma tidak sedap saat berkunjung di pantai sekitar Puger.
Pantai Pancer terletak di daerah yang strategis di antara dua hulu sungai besar. Sungai-sungai tersebut, seharusnya menjadi sumber kehidupan masyarakat, kini menjadi sarana pembuangan sampah yang tidak terkendali.
Itulah yang menjadi alasan Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan saat ditemui Tugujatim.id pada Minggu (12/05/2024). Dia menjelaskan, sampah yang menumpuk di sekitar pantai di Puger tidak sekadar berasal dari masyarakat sekitar, melainkan dari dua hulu sungai.

“Sampah ini yang memproduksi sampah di Pantai Puger ini bukan hanya masyarakat Puger, tetapi dari hulu sungai mulai dari Sungai Bedadung dan Sungai Mesini sehingga sampah akan berkumpul di muara,” ujar Nur Hasan.
Dia juga menjelaskan, secara berkala pihaknya bersama berbagai pihak telah melakukan pembersihan terhadap sampah yang menumpuk di kawasan Pantai Puger dan sekitarnya.
“Terkumpulnya sampah di muara ini, kami pemerintahan desa dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) secara periode juga membersihkan pantai,” jelas Nur Hasan.
Dia juga menjelaskan, tumpukan sampah yang terjadi di pantai yang terletak di Desa Puger Kulon tersebut paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di luar Puger, yang kemudian terbawa melalui dua sungai.
“Sungai mengalir ini juga membawa material sampah. Padahal, sampah itu bukan hanya dari masyarakat Puger, yang terbanyak adalah dari luar masyarakat Puger sepanjang aliran Bedadung dan Sungai Mesini,” tegas Nur Hasan.
Selain itu, Nur Hasan menyadari bahwa sampah juga dihasilkan dari kunjungan wisatawan, tetapi pihaknya secara terus menerus melakukan pembersihan.
“Jadi pengunjung belum pulang pun, kami melakukan bersih-bersih,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati









Comments 1