MALANG, Tugujatim.id – Dalam rangka membentuk generasi tangguh, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) memberikan pelatihan tanggap darurat bencana yang dikemas dalam kegiatan bernama Siaga Satria pada Jumat (17/05/2024).
Siaga Satria ini diinisiasi oleh mahasiswa UM Offering D tahun angkatan 2022 Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Sasarannya siswa-siswi SD Aisyiyah Kamila, Kota Malang. Di bawah bimbingan dan pendampingan dosen ahli bidang manajemen bencana Nina Rini Suprobo SKeb Bd MKeb.
Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Manajemen Bencana. Tujuannya, memberi pengalaman praktis kepada mahasiswa dalam merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan program pelatihan kesiapsiagaan bencana.

Melalui kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoretis tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis dalam menghadapi situasi darurat. Kerja sama antara mahasiswa dan dosen pembimbing memastikan bahwa pelatihan ini berjalan dengan baik dan efektif. Serta sesuai dengan standar keselamatan yang telah ditetapkan.
“Luaran dari kegiatan ini mencakup artikel jurnal, publikasi media massa, foto kegiatan, poster, modul dan pameran,” ujar Nina Rini Suprobo.
Dia mengatakan, terpilihnya SD Aisyiyah Kamila sebagai lokasi pengabdian tidak lain selaras dengan kriteria yang telah ditetapkan. Yakni, menyasar siswa-siswi SD Aisyiyah Kamila kelas 4 yang berjumlah 43 anak.
Perencanaan dari kegiatan dimulai dengan perizinan, penetapan waktu pelaksanaan, persiapan, sampai pada tahap pelaksanaan.

Untuk pelaksanaan kegiatan, pelatihan tanggap darurat bencana diawali dengan tahap pembagian kelompok, pemaparan teori atau sosialisasi tentang tanggap darurat bencana, pengenalan tas siaga dan kotak P3K, dan simulasi mitigasi bencana.
Pembagian kelompok akan mempermudah pengondisian situasi saat pemaparan materi dan praktik simulasi. Setelah dibagi menjadi 6 kelompok, dilakukan pemaparan materi yang dilaksanakan di gedung lantai 3. Pemaparan materi disampaikan oleh dosen pembimbing.
Selain itu, siswa juga diberikan modul yang berisi materi tentang pengenalan jenis-jenis bencana, tanda-tanda bencana, langkah-langkah pengurangan risiko bencana, cara mengatasi bahaya, dan permainan yang melatih pengetahuan anak.
Sesi penyampaian materi dilaksanakan dengan metode ceramah tetapi dengan cara yang menyenangkan sehingga tidak membuat siswa bosan dan pada saat ceramah siswa-siswi langsung terlibat tanya jawab. Setelah itu, ada tahap demonstrasi pengenalan tas siaga dan kotak P3K yang dibantu oleh kakak pembina di setiap kelompok.

Demonstrasi tas siaga ini untuk meningkatkan kesiapan dan ketahanan saat menghadapi bencana alam. Karena itu, dalam sesi ini, siswa tidak hanya diberitahu tentang isi tas siaga bencana dan kotak P3K, tetapi juga diajak untuk memahami secara mendalam fungsi dan pentingnya setiap perlengkapan yang ada di dalamnya.
Tas siaga bencana berisi makanan ringan dan air minum sebagai bekal, senter, baju, selimut, baterai cadangan untuk alat-alat elektronik yang mungkin dibutuhkan, serta dokumen penting seperti identitas dan dokumen medis.
Kemudian, untuk kotak P3K berisi peralatan medis dasar yang penting dalam memberikan bantuan pertama seperti perban, antiseptik untuk membersihkan luka, plester untuk melindungi luka kecil, obat-obatan dasar untuk mengatasi kondisi kesehatan yang mungkin muncul, dan gunting medis untuk memotong perban.

Pada sesi ini, para siswa menyimak dengan antusias apa yang dijelaskan oleh kakak pembina dan aktif dalam bertanya.
Tahap terakhir kegiatan, yakni praktik simulasi bencana gempa bumi. Di mana setiap kelompok dibentuk 2 orang tim relawan dan 2 orang tim medis.
Tim relawan bertugas untuk mengatur teman-teman sekelompok dalam mengevakuasi menuju titik kumpul yang telah ditetapkan. Sementara itu, tim medis bertugas untuk memberikan pertolongan pertama dan memastikan setiap anggota kelompok dalam kondisi yang aman.
Praktik simulasi ini memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat kepada siswa.
Siswa dapat dengan cepat mengidentifikasi jalur evakuasi dan bergerak menuju titik pertemuan dengan tertib. Mereka dengan tenang dan tertib menuruni tangga dari lantai 3 menuju halaman sekolah.
Praktik simulasi yang telah dilakukan oleh anak-anak ini berjalan dengan baik karena tim relawan dan tim medis telah melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan arahan yang telah diberikan sebelumnya.
Dengan adanya praktik simulasi tanggap darurat bencana ini, harapannya dapat tercipta generasi yang lebih siaga dan siap menghadapi bencana alam. Hasil kegiatan ini juga menunjukkan siswa sangat antusias dan mampu memahami materi dengan baik.
Melalui kegiatan ini, pemahaman dan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana meningkat secara signifikan. Hal itu dibuktikan dengan kenaikan nilai rata-rata dari 67.44 pada pre-test menjadi 77.44 pada post-test.
Diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana alam, terutama gempa bumi dan banjir. Letak geografis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik menyebabkan frekuensi gempa bumi cukup tinggi, serta iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi membuat beberapa daerah di Indonesia rentan terhadap banjir.

Kondisi di atas yang mendorong tim pengabdian untuk melakukan pelatihan tanggap darurat bencana ini. Pelatihan tanggap darurat bencana banjir dan gempa bumi ini memiliki hubungan yang erat dengan tujuan SDGs nomor 3, yaitu “Good Health and Well-Being.”
Tujuan ini menekankan pentingnya memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan di segala usia. Dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi situasi darurat, pelatihan ini juga mengurangi faktor risiko lingkungan yang dapat membahayakan kesehatan.
Karena itu, pelatihan tanggap darurat bencana secara langsung mendukung pencapaian SDG nomor 3 dengan memastikan kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi semua orang, terutama anak-anak, dalam menghadapi risiko bencana alam. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








