Tugujatim.id – Baru-baru ini Kepala BPIP RI Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD ramai jadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia usai momen pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2024 di Istana Negara, IKN Nusantara, beberapa waktu lalu. Sebab, kebijakan yang dia ambil menuai kontroversi sesudah sejumlah pasukan Paskibraka putri tidak harus mengenakan hijab saat pengukuhan.
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu dirasa sebagai dalang kebijakan lepasnya hijab para anggota Paskibraka putri. Dia menuturkan, kebijakan itu merupakan penyeragaman yang sesuai dengan Surat Edaran Deputi Diklat Nomor 1 Tahun 2024. Lantas siapakah sebernarnya sosok Yudian Wahyudi ini?
Baca Juga: Penyanyi Ed Sheeran Beli Saham Ipswich Town, Klub asal Elkan Baggot Jadi Impiannya sejak Kecil
Diketahui pria kelahiran Balikpapan, 17 April 1960, ini adalah lulusan Pondok Pesantren Tremas Pacitan dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Kemudian dia pernah menjadi orang yang berhasil masuk 20 besar dalam program Pembibitan Calon Dosen IAIN se-Indonesia yang digagas oleh Munawir Sjadzali (Menteri Agama RI Ke-14).
Yudian juga sempat memecahkan rekor sebagai dosen pertama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sukses lolos Havard Law School di Amerika Serikat (2002-2004). Sebelum mencapai rekor itu, dia lulus menempuh kuliah doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Prestasinya tidak cukup di situ saja, Kepala BPIP RI ini pernah bergabung di organisasi profesor dan akademisi Amerika Serikat pada 2005-2006.
Selanjutnya dia dikenal produktif dalam menulis maupun menerjemah. Ditaksir kisaran 40 karya berhasil diterjemahkan. Dan salah satu tulisannya “Berfilsafat Hukum Islam dari Havard ke Sunan Kalijaga” (2014).
Menjadi santri yakni mimpi ayahnya yang seorang tentara revolusi. Disebut Yudian kecil merupakan anak yang nakal, gemar tawuran, dan akhirnya dimasukkan ke pesantren. Sebetulnya hal itu realisasi mimpi ayahnya yang dahulu tidak tercapai karena terhalang oleh biaya.
Baca Juga: Soroti Proyek Reklamasi, Akademisi Unair Surabaya: Rugikan Nelayan dan Rusak Ekosistem
Mantan rektor UIN Kalijaga ini juga pernah menyampaikan, selayaknya seorang santri sekarang mempunyai pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahasa asing. Sebab, santri berperan menjadi tombak pertahanan Pancasila serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Poin itu dijabarkan pada peringatan Hari Santri Nasional 2023 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta.
Namun sering kali guru besar UIN Sunan Kalijaga ini dinilai kontroversi. Ketika menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga, dia mengagas peraturan larangan pemakaian cadar bagi mahasiswa.
Dia berdalih kebijakan ini sebagai kemudahan bagi kampus dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar serta langkah untuk menjaga ideologi mahasiswa. Tapi, tidak lama aturan itu dicabut demi menjaga kondusivitas kampus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Muhammad Wahib Ali/Magang
Editor: Dwi Lindawati








