TUBAN, Tugujatim.id – Klenteng Kwan Sing Bio Tuban berubah menjadi panggung kegembiraan meski di bawah sengatan terik sinar matahari, Minggu (25/8/2024). Setiap bulan ketujuh Imlek digelar tradisi Rebutan Buceng dengan semangat yang tak lekang oleh waktu.
Puluhan warga setia berlarian berdesak-desakan dan tertawa dalam ritual yang lebih dari sekadar memperebutkan paket makanan. Ritual ini adalah cara mereka menghormati dan merawat arwah-arwah yang terlupakan oleh keluarganya.
Ritual ini dikenal dengan sebutan “Rebutan Buceng” sebuah perayaan unik yang bertujuan untuk menghormati dan merawat arwah-arwah yang terlupakan atau tidak terawat oleh keluarga.

Pemuka agama ritual Rebutan Buceng, Gunawan Putra Wirawan mengatakan, tujuan utama dari ritual ini adalah memberikan tempat layak bagi arwah-arwah tersebut melalui sedekah bumi yang penuh makna.
“Rebutan buceng ini rutin kita gelar setiap bulan ketujuh Imlek. Ritual ini ditujukan untuk arwah yang tidak terurus,” ujar Gunawan di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Minggu (25/8/2024).
Tahun ini, sebanyak 950 buceng disiapkan, terdiri dari 800 buceng yang diperebutkan oleh warga sekitar klenteng dan sisanya dibagikan kepada umat klenteng.
Buceng dalam tradisi ini merupakan paket makanan yang terdiri dari nasi kerucut, tahu, tempe, beras, serta aneka jajanan lain seperti biskuit dan camilan. Setiap buceng memiliki makna simbolis sebagai wujud kasih sayang kepada arwah yang telah meninggal dunia.

Kegiatan ini memunculkan semangat kebersamaan dan kegembiraan di kalangan warga. Susi, (27) warga Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban mengungkapkan kegembiraannya setelah ikut serta dalam ritual tersebut.
“Ini kali pertama saya ikut tradisi ini, dan rasanya sangat seru. Nanti buceng yang didapat akan disantap bersama keluarga di rumah sebagai bentuk syukur,” katanya dengan penuh antusiasme.
Cerita serupa juga disampaikan oleh Sarimah, seorang wanita berusia 69 tahun dari Kelurahan Baturertno, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Meski hanya mendapatkan beberapa buceng, Sarimah merasa puas dan berencana untuk menikmati makanan tersebut di rumah bersama keluarganya.

“Meskipun hanya mendapatkan beberapa buceng, saya merasa sangat bersyukur. Ini adalah pengalaman yang sangat berarti,” ujarnya.
Ritual ini bukan hanya sebuah acara merebut makanan, tetapi lebih dari itu, ia merupakan upaya kolektif untuk mengingat dan merawat arwah yang mungkin terlupakan. Dengan semangat yang kental akan nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan, tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya di Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








