JEMBER, Tugujatim.id – Dunia yang semakin kompleks dan dinamis, model kepemimpinan tradisional yang mengandalkan satu pemimpin tunggal untuk membuat semua keputusan sering kali tidak lagi efektif. Sebagai gantinya, konsep kepemimpinan kolektif semakin diakui sebagai pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi dan masyarakat modern.
Head of SBM ITB Jakarta Campus, Director of Center for Policy and Public Management, Yudo Anggoro menjelaskan, kepemimpinan kolektif telah melekat di dalam kultur bangsa Indonesia sejak dulu. Melalui gotong royong, kerja sama, hingga musyawarah untuk mufakat, merupakan simbol dari kepemimpinan kolektif. Pengambilan keputusan pun diputuskan secara kolektif.
“Sehingga apa pun yang menjadi keputusan itu akan menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Yudo Anggoro, pada Sabtu (24/8/2024).
Yudo Anggoro mengungkap, meski zaman telah berubah dan tantangan berbeda, sifat-sifat individualisme yang muncul, dapat menjadi tantangan kepemimpinan kolektif. Kendati demikian, Yudo Anggoro meyakini, tantangan yang dihadapi, tidak lantas mengancam kepemimpinan kolektif.
“Karena ini jati diri bangsa Indonesia dan akan terus mewarnai perjalanan bangsa Indonesia ke depan,” katanya. Selain itu, dirinya menegaskan bahwa, dalam pengambilan keputusan kolektif juga perlu mengedepankan kebermanfaatan.
Jika tidak, keputusan kolektif menjadi masalah ketika memiliki tujuan yang tidak baik dan berfokus pada kepentingan individu ataupun kelompok tertentu. “Jadi pemimpin di sini kita perlu membuat keputusan yang memberi manfaat untuk semua, karena ini adalah jati diri bangsa Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Pembina Pemimpin.id dan Co-Founder Feedloop AI, Muhammad Ajie Santika menjelaskan satu hal yang menarik dari kepemimpinan kolektif. Dimana, seorang pemimpin harus mampu memimpin orang yang tidak menyukainya.
Seorang pemimpin harus mampu memberdayakan orang-orang yang tidak suka maupun tidak sejalan dengannya, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Menurutnya, saat ini telah banyak pemimpin bermunculan, yang membuat tipe sosok pemimpin yang bermacam-macam. “Dimana kita bisa saling empower each other untuk menuju target yang lebih besar,” ujar Muhammad Ajie.
Muhammad Ajie juga menjelaskan, kepemimpinan kolektif saat ini telah banyak diadaptasi di negara-negara Barat. Sehingga, nilai-nilai seperti keragaman, kebersamaan atau di Indonesia disebut dengan Bhineka Tunggal Ika, sedang diterapkan di negara Barat.
“Value kita di Indonesia, di sana mungkin lagi diterapkan, di western countries dan mereka baru belajar, mungkin baru lima tahun enam tahun terakhir, sedangkan kita sudah lebih dulu,” katanya. Menjadi tantangan, yaitu terkait bagaimana cara menyikapi hal tersebut dan bisa menerapkannya terhadap tujuan yang lebih besar.
Tidak hanya itu, Pembina Pemimpin.id dan GlobalDISC Master Trainer Australia, Hendro Fujiono, menjelaskan kepemimpinan kolektif harus dimiliki semua orang. “Jadi kolektivitas sering kali kan soal berbagai pekerjaan, yang lupa berbagi tanggung jawabnya,” jelas Hendro Fujiono.
Menurutnya, di semua level pekerjaan, kepemimpinan diperlukan. Mulai dari sosial hirarki, non hirarki, maupun lebih egaliter, kepemimpinan harus dimiliki di setiap elemen. “Itu bagi saya pattern yang lebih penting, tanggung jawabnya dibagi bukan hanya perannya,” paparnya.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan kepemimpinan kolektif dalam menciptakan praktek keberlanjutan yang efektif, Hendro Fujiono menjelaskan beberapa hal yang dapat diperhatikan. Khususnya terkait kemunculan sosok pemimpin yang baru.
Selain itu, interaksi orang-orang di lingkup internal, juga menjadi ukuran dari tingkat keberhasilan kepemimpinan kolektif. “Terjadi nggak, dialog yang mengangkat, memberdayakan, dan membuat orang lebih dewasa,” katanya.
Kepemimpinan Kolektif di Era Digitalisasi Yang Berkembang Pesat
Di era digitalisasi yang terus berkembang pesat, sangat tidak mungkin ancaman berdatangan terhadap kepemimpinan kolektif. Yudo Anggoro menegaskan bahwa, perkembangan yang terjadi harus iimbangi dengan daya kreasi dan inovasi. “Sehingga kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda, tetapi tetap dengan value yang sama,” tegasnya.
Begitu pula di dunia pendidikan sebagai salah satu tempat mencetak seorang pemimpin di masa yang akan datang, Yudo Anggoro sebagai dosen mengaku, jika dirinya dihadapkan dengan permasalahan yang komplek.
Akan tetapi dia juga menegaskan terkait sosok pemimpin yang akan diciptakan harus memiliki nilai, bukan menuruti ego nya sendiri. “Bukan pemimpin yang merasa dirinya superior, tetapi pemimpin yang berkontribusi kepada masyarakat dan bertanggung jawab,” katanya.
Oleh karena itu, seorang calon pemimpin sudah seharusnya diberitahukan realita-realita yang terjadi. Seringkali, halangan maupun rintangan menghadang. “Di situ kita bisa lihat bahwa realitasnya seperti itu, tapi adanya tim yang mendukung kamu, you can keep on going,” paparnya.
Selain itu, untuk menciptakan sosok pemimpin yang baik, sudah sepatutnya calon seorang pemimpin atau pemimpin muda dapat memiliki lingkungan yang baik pula. Yudo Anggoro meyakini, faktor lingkungan dapat mempengaruhi seseorang.
Kendati demikian, Yudo Anggoro menekankan bahwa, jalan menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Naik dan turun yang terjadi semasa menjadi pimpinan adalah hal yang biasa. Selain itu, seorang pemimpin juga harus berani tidak populer.
“Asalkan kita yakin kita punya values, ada integritas, kejujuran, ada kolektivisme, itu yang harus seorang pemimpin percaya, dan selalu mendengarkan pendapat orang lain, seperti mentor, tim kita, bahkan jangan pernah pula melupakan peran-peran orang yang ada di bawah kita,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








