JAKARTA, Tugujatim.id – Film menjadi salah satu media penting dalam memberikan edukasi melalui seni, seperti film pendek “Lara Bisu”. Film yang diinisiasi oleh Ruber Innovation Lab melalui gerakan sosial #1MillionYouthsStopBullying itu berhasil mengundang perhatian publik dari berbagai kalangan pada premiernya di Paragon IX, Ulujami, Jakarta Selatan, Sabtu (05/10/2024).
Acara ini tidak hanya menampilkan penayangan film, tetapi juga menyuguhkan talkshow bertajuk “Merajut Cerita yang Bermakna: Seni Film dan Dampak Sosial”.
Talkshow tersebut dipandu oleh Omar Danishwara seorang professional public speaker, dan menghadirkan beberapa narasumber ternama, seperti Hanief Jerry, M.Sn Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, Emmanuella Mila scriptwriter dan storyteller, serta Irfan Tajuddin sutradara Lara Bisu. Setiap narasumber berbagi wawasan tentang seni film dan proses kreatif di balik layar serta dampak sosial yang dihadirkan oleh film tersebut.
Tidak hanya acara nonton bareng, tetapi juga dilengkapi dengan talkshow bertajuk “Merajut Cerita yang Bermakna: Seni Film dan Dampak Sosial”, yang mengundang sejumlah tokoh penting yang membahas tentang esensi film, khususnya film Lara Bisu.
Omar Danishwara membuka talkshow dengan penuh semangat, menyoroti bagaimana seni film dapat memberikan dampak sosial yang signifikan, terutama dalam isu-isu penting seperti bullying.
Hanief Jerry, salah satu narasumber talkshow, menjelaskan bahwa dalam pembuatan film, bukan hanya hasil akhirnya yang penting, tetapi juga proses pembuatannya. Dia menjelaskan proses pembuatan film dari pra-produksi hingga pasca-produksi, dengan menekankan pentingnya triangle system yang melibatkan produser, sutradara, dan penulis.
“Dalam tahap pra-produksi, banyak yang perlu didiskusikan. Dalam konteks ini, harus ‘bersahabat dengan musuh’ untuk menghasilkan film yang lebih baik. Artinya, kita perlu menggabungkan ide-ide yang berbeda dan bersatu untuk mencapai tujuan yang sama,” Ujar Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta itu. Hanief juga berbagi harapannya agar semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi untuk terjun ke dunia film dan menjadikan film sebagai media yang kuat dalam menyampaikan pesan sosial.
Sementara itu, Emmanuella Mila, seorang scriptwriter dan storyteller, berbicara tentang bagaimana cerita yang kuat dan penuh empati menjadi kunci keberhasilan sebuah film.
“Sebagai penulis, kita harus bisa masuk ke dalam cerita yang kita buat, jadikan tulisan atau kisah film yang ditulis menjadi relatable dan mampu membangkitkan empati dari penonton,” ujar Mila. Mila menekankan bahwa film seperti “Lara Bisu” memiliki dampak besar karena menyentuh isu yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang, yaitu bullying.
Irfan Tajuddin, sutradara film ini, berbagi cerita bahwa dia telah melakukan riset dan berbincang dengan banyak orang, terutama perempuan, untuk memahami lebih dalam terkait fenomena bullying. Sebagai seorang pria, dia ingin memastikan bahwa film “Lara Bisu” bisa menyampaikan perasaan yang tepat kepada penonton. “Saya ingin penonton bisa merasakan bagaimana perasaan seseorang yang menjadi korban bullying, sehingga mereka sadar bahwa tindakan itu sangat menyakitkan dan harus dihentikan,” ujar Irfan. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Mila, di mana cerita yang menyentuh dan penuh empati akan memberikan dampak yang lebih besar.
Dia juga mengungkapkan tantangan dalam memproduksi film ini, terutama dalam menjaga emosi dan karakter agar tetap konsisten, terutama saat memainkan adegan-adegan emosional yang menuntut intensitas tinggi.

Di penghujung acara, seluruh pembicara menekankan pentingnya aksi nyata setelah menonton film, khususnya film pendek Lara Bisu ini. Harapannya, film ini tidak hanya menjadi film biasa untuk ditonton saja, tetapi juga memotivasi penontonnya untuk lebih peduli, lebih empati, dan mengambil langkah nyata untuk menghentikan bullying di sekitarnya.
Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama para pembicara dan penonton yang tampak sangat terinspirasi oleh pesan yang dari film “Lara Bisu” dan talkshow tersebut. Film pendek “Lara Bisu” tidak hanya menjadi karya film yang bermakna, tetapi juga sebuah gerakan sosial yang diharapkan dapat membawa perubahan positif di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Rohimatul Janah
Editor: Darmadi Sasongko








