JEMBER, Tugujatim.id – Sekitar 3.000 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mendapat penanganan dari Kesehatan Jiwa (Keswa) di puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Jember.
Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Jember Ahmad Helmi Lukman mengungkap, di antaranya ada anak-anak yang menjadi ODGJ. Salah satu penyebabnya ODGJ di Jember adalah sering bermain smartphone atau gawai pintar.
“Anak ini, anak-anak yang karena misalkan dia terlalu banyak main gadget gitu, kemudian ada beberapa di Jenggawa itu satu rumah dua orang, ada korban bullying juga, kemudian ada masyarakat umum yang bawaan dari keturunannya, ada yang memang sakit jiwa, ada yang memang benturan psikologis karena keadaan,” ujar Ahmad Helmi Lukman pada Selasa (15/10/2024).
Baca Juga: Nginap Sendirian di Homestay, Pria asal Lamongan Diduga Tewas tanpa Busana di Mojokerto
Lukman mengatakan, beberapa faktor penyebab ODGJ di Jember disebabkan karena antara keinginan dengan kenyataan yang berbeda. Upaya penanganan terhadap ODGJ, Dinsos Jember melakukan penanganan langsung pada saat rehabilitasi sosial.
“Harapan kami, ini (rehabilitasi sosial, Red) menekan dari keluarganya yang harus peduli terhadap anggota keluarga yang mengalami sedikit gangguan jiwa, perhatian dari keluarga ini yang diperlukan,” jelas Ahmad Helmi Lukman.
Selain itu, perhatian dari lingkungan sosial turut berpengaruh terhadap kondisi ODGJ. Menurut Ahmad Helmi Lukman, ODGJ yang tidak mendapat perhatian khusus dan mendapat bullyan akan semakin memperparah keadaan dari mental dan jiwanya.
Oleh karena itu, Ahmad Helmi Lukman menegaskan, terdapat tanda-tanda ODGJ di sekitarnya, dapat melaporkan kepada aparat setempat.
“Kemudian nantinya agar Keswa di puskesmas setempat karena akan diberikan obat di sana, obat-obatan kejiwaan lengkap,” katanya.
Nantinya, pihak Keswa akan mendampingi ODGJ untuk memastikan agar obat diminum secara rutin. Selain itu, dibutuhkan peran dari keluarga untuk mendorong dan menguatkan anggota keluarga dengan gangguan jiwa agar segera pulih.
Kendati demikian, Ahmad Helmi Lukman masih menemukan beberapa sumber daya manusia (SDM) yang enggan memberikan perhatian khusus terhadap anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Sehingga, kasus serupa memerlukan pendampingan ekstra.
“Perhatian dari Keswa maupun pendamping ODGJ di masing-masing wilayah,” kata Ahmad Helmi Lukman.
Meski tidak menjelaskan secara gamblang daerah-daerah dengan ODGJ terbanyak di Kabupaten Jember, dia menegaskan, daerah tersebut terletak di pegunungan sebelah barat dan tengah.
“Nggak bisa disebut karena sensitivitasnya tinggi,” terangnya.
Baca Juga: Tak Terbukti Kampanye di Masjid, Begini Fakta Agenda Rutin Cabup Hendy Siswanto
Sedangkan ODGJ yang berada di pusat Kabupaten Jember, menurut Ahmad Helmi Lukman, tidak terlalu banyak. Kendati demikian, jika ada, ODGJ di kota merupakan pendatang dari luar Kabupaten Jember.
“Karena di sini tertangani, kalau di luar tidak ada shelternya. Kabupaten sekitar tidak ada shelter, dibuangnya ke sini,” pungkas Ahmad Helmi Lukman.
Sementara itu, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember Sunarsih Khoris mengungkapkan rasa prihatin dengan jumlah ODGJ di Jember. Menurut dia, perlu ada tindak lanjut untuk memfasilitasi persoalan tersebut.
“Ini bisa ditekan dengan peran aktif masyarakat, yang dimulai dari tingkat desa, dengan saling lapor ini kan harapannya ada tindakan agar kemudian muncul solusi,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








