MOJOKERTO, Tugujatim.id – Korban banjir kalangan anak-anak di Tempuran, Sooko, Kabupaten Mojokerto, membutuhkan penyembuhan trauma atau trauma healing. Hal ini lantaran anak-anak dan keluarganya harus mengungsi karena rumah mereka terendam banjir hingga 1 meter.
Berdasarkan pantauan Tugu Jatim di lapangan, puluhan anak-anak korban banjir tampak murung serta jenuh saat berada di lokasi posko. Rutinitas kembali ke rumah harus dipendam karena air yang belum jua surut.
Salah satu pengungsi yakni Ida menjelaskan, anaknya yang baru berumur 3 tahun mulai tidak betah dengan kondisi banjir. Wanita berusia 28 tahun tersebut berusaha kuat menghibur buah hatinya agar tidak rewel.
Baca Juga: Jari Manis Bengkak, Pria di Tuban Minta Tolong Damkar Potong Cincin
“Gabut anaknya, jadi gampang rewel. Apalagi belum ada tanda-tanda surut. Kasihan mau main sama temen-temen jadi ndak bisa,” bebernya, Jumat (13/12/2024).
Terpisah, tenaga medis yang bertugas di posko, Uswatun Hasanah mengatakan, anak-anak korban banjir butuh penanganan khusus.
“Khusus anak-anak butuh pendampingan sebenarnya. Tapi karena keterbatasan kami mencoba berusaha maksimal sesuai kemampuan,” ujarnya.
Uswatun berharap adanya bantuan berupa trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Sebab diakui bahwa tim khusus trauma healing korban banjir belum ada.
Baca Juga: Cara Meminimalisasi Bencana Banjir, Begini Solusi dari Pakar Sumber Daya Air Unmuh Jember
“Kami butuh (tim trauma healing) itu. Harapan besar kami tentu ada (tim trauma healing),” ujarnya.
Berbagai keterbatasan dirasakan oleh pihak-pihak yang berada di posko. Selain benar-benar membutuhkan trauma healing, kebutuhan penunjang kesehatan juga begitu mendesak.
“Kebutuhan bayi terutama seperti seperti popok, susu, pokoknya kebutuhan tentang bayi,” papar Uswatun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








