MALAYSIA, Tugujatim.id – Tim KKN internasional dan Pengabdian Masyarakat Internasional yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) berupaya mendukung pendidikan dan pemenuhan hak pada anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Mahasiswa Fakultas Psikologi UM beranggotakan Roni Setiawan, Nur Hafif, Laila Nur Indahyati, dan Frisca Aulia Permata Sanjaya, di bawah bimbingan Jati Fatmawiyati, Retno Sulistiyaningsih, serta Ninik Setiyowati.
Mahasiswa Fakultas Psikologi UM melaksanakan program inovatif yang sekaligus membuka solusi sebagai gerbang bagi mereka dalam mengejar cita dengan psikoedukasi. Pengabdian ini menjadikan titik terang baru bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan formal di Malaysia.
Di Negeri Jiran itu diketahui bahwa pemerintah dan sebagian masyarakatnya memprakarsai Community Learning Center (CLC) yang secara khusus mendapatkan support dari perusahaan perkebunan sawit dan masyarakat lokal di Sabah-Sarawak.
Baca Juga: Konfercab Rampung, Aminuddin Wartawan JTV Terpilih Jadi Ketua PWI Mojokerto Periode 2024-2027
Hingga kini, CLC telah didukung dan dibina oleh Pemerintah Indonesia. Meski demikian, anak pekerja migran tetap memiliki hambatan terhadap implementasi pendidikan yang berkualitas dengan kurikulum yang terstandar.
Di samping banyaknya tantangan yang dihadapi oleh anak pekerja migran, akses pendidikan yang terbatas memiliki pengaruh besar terhadap kurangnya literasi. Artinya, wawasan anak pekerja migran akan cenderung rendah dan membatasi peluang mereka untuk berkembang secara optimal di masa depan hingga menyebabkan kurangnya rasa percaya diri.
Kesiapan dalam menghadapi masa depan dan cita-cita mereka perlu adanya literasi karir sebagai langkah awal untuk membantu mereka merencanakan jalur pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik sehingga dapat mencapai potensi penuh, memiliki kontribusi positif bagi masyarakat, dan menebas stigma negatif anak pekerja migran.

Menurut Shohenuddin, pengelola SB Sentul, anak-anak sering merasa kesepian karena dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan karena kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.
“Anak-anak ini sering merasa terkucilkan, baik karena stigma masyarakat maupun kondisi ekonomi yang sulit,” ujarnya.
Meski hidup jauh dari tanah air, mereka tidak berhenti untuk terus bermimpi. Sanggar Bimbingan Sentul (SBS) merupakan tempat sederhana yang menjadi harapan bagi anak-anak pekerja migran dengan akses pendidikan terbatas.
Menghidupkan Cita-Cita dengan Psikoedukasi
Program psikoedukasi yang berlangsung pada Agustus 2024 ini hadir sebagai lembaran baru. Dengan tajuk “Jelajah Profesi Sedari Kini”, program ini dirancang untuk memperkenalkan berbagai jenis pekerjaan kepada anak-anak sekaligus menginspirasi mereka untuk melihat masa depan dengan lebih optimis.
Program ini berhasil mengedukasi anak-anak tentang ragam profesi melalui pendekatan interaktif, dimulai dengan pemanfaatan media visual seperti video dan modul untuk memberikan pemahaman dasar, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan roleplay yang melibatkan anak-anak secara langsung.

Pendekatan ini tidak hanya memperkenalkan profesi secara informatif tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan membangun rasa percaya diri.
Salah satu peserta, Siti, mengungkapkan kegemarannya terhadap permainan tebak profesi. Dia juga menyampaikan aspirasinya untuk menjadi seorang perawat guna memberikan bantuan kepada orang-orang yang sedang sakit.
“Saya suka waktu main tebak profesi. Saya ingin jadi perawat supaya bisa membantu orang yang sakit,” ungkapnya.
Pohon Cita-Cita: Ruang Impianku
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika anak-anak diajak menuliskan impian mereka di Pohon Cita-Cita. Sebuah karton besar dengan gambar pohon yang ditempatkan di tengah ruangan, dan anak-anak menempelkan origami berbentuk daun yang bertuliskan impian mereka.
Sambil menempelkan daun ke pohon cita-cita, Marissa, siswa kelas 6, menyampaikan keinginannya untuk merancang pakaian yang indah bagi semua.

“Saya ingin menjadi desainer yang membuat pakaian indah untuk semua orang,” katanya.
Keberhasilan dalam memberikan ruang aspirasi impian mereka terbukti dengan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, yang dimana salah satu siswa dan sohibnya merekam kegiatan menggambar dari mereka yang sebelumnya menuliskan impiannya untuk menjadi content creator.
Literasi Karir Dini Bangun Masa Depan
Pendekatan program ini tidak hanya memperkenalkan anak-anak pada berbagai profesi, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan sosial dan emosional. Dengan pengetahuan tentang dunia kerja, mereka diajarkan untuk merancang langkah-langkah kecil menuju cita-cita besar.

Shohenuddin menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya fokus pada profesi, tetapi juga bertujuan untuk menanamkan keyakinan pada anak-anak bahwa impian mereka bisa menjadi kenyataan.
“Ini bukan hanya tentang profesi, tetapi bagaimana mereka bisa percaya bahwa impian mereka mungkin untuk dicapai,” jelas pengelola SBS itu.
Melalui program ini, anak-anak pekerja migran di SB Sentul kini memiliki harapan baru. Mereka melihat bahwa pendidikan, meski terbatas, tetap menjadi jalan untuk membuka pintu masa depan.

Di balik kegiatan ini, ada harapan besar bahwa langkah kecil ini dapat menjadi gerakan besar di masa depan. Seperti Putri, satu peserta itu mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang guru agar dapat mengajar anak-anak lain seperti dirinya.
“Saya ingin menjadi guru agar bisa mengajari anak-anak lain seperti saya,” tuturnya.
Dari SBS untuk Dunia
Program ini telah memberikan gambaran nyata bagaimana komunitas pekerja migran dapat dibantu melalui pendekatan yang kreatif dan inklusif. Harapannya, model ini dapat diadopsi di tempat-tempat lain dengan populasi anak pekerja migran yang tinggi.
Roni Setiawan menambahkan pesan, agar anak-anak tidak hanya bermimpi, tetapi juga memiliki keberanian untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Baca Juga: Soroti Penangguhan SK Oknum GTT, DPRD Jember Singgung Telusuri Dugaan Pungli di Lingkungan PPPK
Di tengah segala keterbatasan, program ini menjadi pengingat bahwa harapan tak pernah benar-benar hilang. Dari sebuah sanggar kecil di Sentul, Kuala Lumpur, anak-anak ini kini melihat dunia dengan optimisme baru, melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.
“Kami ingin teman-teman ini tidak hanya bermimpi, tetapi juga memiliki keberanian untuk mewujudkannya,” tambah Roni Setiawan dengan penuh semangat. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








