• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Majalah SNO

Majalah SNO koleksi Komunitas Pegon Banyuwangi (dok Ayung)

Menilik Sejarah Ikhbar Ramadan Pada Masa Awal Berdiri Nahdlatul Ulama

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
1 year ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Lembaga khusus Falakiyah atau Bidang Astronomi awalnya tidak dimiliki oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada awal-awal berdiri. Meski demikian, upaya ikhbar Ramadan (pengumuan Ramadan) telah dilakukan di antaranya lewat majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO).

Founder Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro mengatakan, majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) nomor 6 tahun I, Rabiul Awal 1346 Hijriah yang memuat jadwal imsakiyah Ramadan 1346 Hijriah dan diawali dengan penjelasan seputar hasil rukyatul hilal.

You might also like

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

29/05/2026 7:00 AM
Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

27/05/2026 8:08 PM
BACA JUGA: Sekilas Tentang KH Nawawi, Sosok Kiai Heroik Asal Mojokerto

Dari hasil rukyah yang dilakukan pada 29 Syaban 1346 Hijriah atau 21 Februari 1928 Masehi, hilal dinyatakan tidak tampak. Oleh sebab itu, bulan Sya’ban kemudian disempurnakan menjadi 30 hari dan puasa dimulai hari Kamis yang bertepatan dengan tanggal 23 Februari.

“Begitu pula ikhbar akhir Ramadan 1346 Hijriah juga diumumkan dalam Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) nomor 8 tahun I, Rajab 1346 Hijriah. Setelah dilakukan rukyatul hilal, awal Syawal jatuh pada 23 Maret 1928 Masehi. Puasa hanya berlangsung selama 29 hari seperti telah diprediksi (hisab) pada pengumuman yang awal di edisi sebelumnya,” terang Ayung, Selasa (04/03/2025).

Hisab dan Rukyah Dilakukan Riyadlatut Thalabah Jombang

Namun, dua ikhbar tersebut ternyata tidak dilakukan langsung oleh Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO/sebutan PBNU pada masa kolonial). Upaya ikhbar tersebut merupakan hasil hisab dan rukyah yang dilakukan oleh organisasi bernama Riyadlatut Thalabah Jombang.

Riyadlatut Thalabah merupakan organisasi (jam’iyah) yang berada di Seblak, Kwaron, Jombang. Dalam majalah SNO nomor 2 tahun I, Safar 1346 Hijriah, dikabarkan tentang pendirian jam’iyah tersebut.

“Kantor Swara Nahdlatoel Oelama terami khabar ing Kwaron, Jombang kawontenaken perkempalanipun para murid-murid pondok. Perlu hangerembak pinten-pinten masail kang perlu kerembak. Wahu perkempalan dipun namini Riyadlatut Thalabah,” sambung Ayung yang mengutip dari sumber aslinya.

BACA JUGA: KH Achyat Halimi, Sosok Kiai Mojokerto Peduli Pendidikan dan Kesehatan

Perkumpulan tersebut awalnya berisikan 18 orang dengan KH. Maksum bin Ali, Seblak, Kwaron, Jombang selaku ketua. Sementara, Abdullah Syathari sebagai wakil ketua dibantu oleh sejumlah pengurus yakni, Ahmad Dawam, Ahmad Sahal, Haji Mahfudz dan Abdul Jalil. Selain itu, terdapat nama Ahmad bin Bajuri selaku Rais Lajnah al-Iftirahat.

Anggota jam’iyah tersebut yang tercatat adalah Ahmad Wildan bin Hasan, Abdul Karim bin Musthafa, Thahir bin Muhammad Rawi, Shulhan bin Ramli, Ustman bin Isa, Yasin bin Umar, Haji Thohir bin Nawawi, Syamsul Huda bin Haji Imam, Haji Jazuli bin Ustman, Hasbullah bin Salim, dan Haji Abdurrahman bin Syansuri.

BACA JUGA: Pencipta Sholawat Badar KH Ali Manshur Shiddiq Terima Anugerah Tanda Kehormatan dari Presiden Joko Widodo

KH Maksum bin Ali sendiri merupakan anak menantu dari KH Hasyim Asy’ari. Kiai Maksum sendiri dikenal sebagai salah seorang ahli falak (astronomi). Hal ini bisa dilihat dari karya dua buah kitab tentang ilmu falak dari tangan KH Maksum.

“Kitab Ad-Durusu-l-Falakiyah pertama kali diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya pada 1375 Hijriah dalam tiga jilid. Ada pula kitab Badiatu-l-Mitsal yang khusus membahas tentang penentuan awal bulan dengan berbagai sistem kalender dan perhitungannya,” ungkap Ayung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Penulis : Hanif Nanda Zakaria

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Nahdlatul UlamaNURamadanRamadan 2025Sejarah NU
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Biya Agus.

Biya Agus, Magister Fisika yang Viral di TikTok Berkat Pembahasan soal Rezeki bersama Chatour Travel

by Dwi Linda
19/05/2026 4:41 PM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Senin malam (18/05/2026), H Agus Rahman MPd atau yang populer dengan nama Biya Agus Chatour Gresik, sesenggukan...

Mie Cendana.

Atika C. Larasati, Owner Mie Cendana Viral di Malang Kolaborasi Unik bareng Pelaku UMKM Lokal Perempuan

by Dwi Linda
01/05/2026 7:27 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Siapa sih yang nggak mengenal Mie Cendana sebagai salah satu kuliner viral dari Malang, Jawa Timur? Bahkan,...

Next Post
Egrang

Seru dan Penuh Nostalgia! 5 Permainan Jadul Bikin Ngabuburit Puasa Ramadan Makin Asyik

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID