JEMBER, Tugujatim.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan spesies baru cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) yang diberi nama C. pecelmadiun. Nama cicak Pecel Madiun diambil dari kuliner khas Jawa Timur “pecel Madiun” sesuai dengan lokasi penemuannya di sekitar wilayah Madiun, tepatnya di Maospati dan Mojokerto.
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Awal Riyanto menjelaskan, spesies baru ini ditemukan di lingkungan perkotaan seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun di area pemukiman desa.
Baca Juga: Di Balik Kelezatan Nasi Pecel Madiun, Konon Ada sejak Zaman Sunan Kalijaga
“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” dikutip Tugujatim.id pada Rabu (19/03/2025).
Karakteristik morfologi C. pecelmadiun menunjukkan warna dasar cokelat kehitaman dengan panjang tubuh (Snout-Vent Length/SVL) mencapai 67,2 mm pada jantan dewasa dan 59,0 mm pada betina.
Ciri-Ciri Cicak Spesies Baru
Spesies cicak Pecel Madiun ini memiliki 18–20 baris tuberkular dorsal tidak teratur di bagian tengah tubuh, 26–28 baris tuberkular antara ketiak dan selangkangan, serta 28–34 baris sisik perut. Pada cecak jantan terdapat ceruk precloacal dengan 32–37 pori precloacofemoral, sementara bagian subkaudal tidak memiliki sisik lebar.
“C. pecelmadiun cenderung sebagai spesies generalis dalam hal habitat. Spesies ini ditemukan tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah, di berbagai lingkungan yang dekat dengan aktivitas manusia,” imbuhnya.
Cecak jarilengkung Jawa atau Cyrtodactylus marmoratus adalah spesies pertama yang dideskripsi oleh Gray pada 1831, berdasarkan spesimen yang dikumpulkan oleh Heinrich Kuhl dan Johan Conrad van Hasselt.
Spesimen tersebut kini disimpan di Museum Naturalis, Belanda. Setelah lebih dari delapan dekade, de Rooij (1915) melaporkan keberadaan C. fumosus yang dideskripsi oleh Müller (1895) dan dikonfirmasi oleh Brongersma (1934).
.
Analisis filogenetik menunjukkan bahwa C. pecelmadiun berkerabat dekat dengan C. petani, dengan jarak genetik 0,1–1,6%. Spesies ini menjadi bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa setelah C. petani, grup yang melimpah di kawasan Sunda Kecil.
Secara keseluruhan, Cyrtodactylus di Jawa terbagi dalam dua kelompok besar: grup darmandvillei dan marmoratus, yang keduanya merupakan kompleks spesies.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada edisi 16 Januari 2025 dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
“Penemuan ini mendorong kita untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut guna mengungkap keragaman tersembunyi dari Cyrtodactylus di Jawa, mengingat masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








