Dalam pengertiannya, anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau. Sedangkan dysgeusia adalah hilanganya kemampuan mengecap. Dan kini, keduanya kerap kali menjadi gejala yang mengiringi pasien yang terinfeksi oleh virus corona atau COVID-19.
Mengapa hal itu terjadi pada pasien corona? Menurut dr. Rosydiah Rahmawati, Sp.THTKL, penyebab anosmia ini bervariasi. Mulai dari infeksi virus, bakteri, alergi, kelinan dari bentuk rongga hidung, hingga kelainan saraf tulang hidung.
Rosi mengungkapkan, di Italia misalnya, sebanyak 64 persen pasien yang terinfeksi COVID-19 mengalami anosmia, sementara di Korea sebanyak 30 persen pasien mengalami hal yang sama.
“Kalau di Surabaya sendiri kita lagi mengumpulkan datanya, jadi masih belum final. Kalau praktik pribadi, setiap hari kasus tersebut (anosmia) tambah banyak. Beberapa pasien saya yang mengalami gejala tersebut dan melakukan rapid tes, hasilnya juga menunjukkan reaktif,” ungkap Rosi ketika dihubungi Basra, partner Tugu Jatim, Selasa (29/9).
Staf medis THTKL RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menjelaskan virus COVID-19 dapat masuk melalui hidung dan tenggorokan. Dimana ketika virus tersebut bermukosa di hidung bagian atas dan cocok, maka virus dapat mengganggu indra penciuman.
Untuk mengatasi hal itu, Rosi menuturkan jika Kekuatan dari daya tahan menjadi salah satu obat mujarab agar dapat sehat kembali.
“Kalau imunitas baik, banyak minum vitamin, bisa menjaga diri dan bisa isolasi mandiri biasanya cepat sembuh. Kalau tidak ya bisa ke dokter THT agar diberikan obat semprot hidung untuk mengurangi inflamasi virus di mukosa,” ucapnya.
Sementara untuk mengatasi dysgeusia atau hilanganya kemampuan indra pengecap seseorang untuk merasakan sesuatu, biasanya para dokter akan memberikan vitamin untuk mengembalikan daya imun tubuh.
“Karena kemungkinan ada infeksi virus. Biasanya kita kasih vitamin, kalau ada gejala lain baru kita kasih anti virus,” kata Rosi.
Tak lupa, selain mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan, Rosi juga membagikan tips agar terhindar dari anosmia dan dysgeusia.
“Saya menyarankan orang-orang yang beraktivitas di luar untuk mencuci hidung. Misal setelah keluar rumah, masuk ke dalam rumah lepas masker kalau bisa cuci hidunya. Dengan cuci hidung virus itu bisa kalah,” pungkasnya. (Basra/gg)
Sumber Artikel: Berita Anak Surabaya (Basra)








