MOJOKERTO, Tugujatim.id – Di tengah gemuruh perkembangan zaman, Mojokerto tetap teguh sebagai kota bersejarah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Bahkan, tempat ibadah di Mojokerto sebagai simbol kerukunan umat beragama.
Bukan hanya peninggalan Kerajaan Majapahit yang membanggakan, tetapi juga pemandangan harmonis dari beragam tempat ibadah yang berdiri berdampingan, menjadikan kota ini sebagai contoh hidup kerukunan antarumat beragama.
Baca Juga: GPIB Immanuel, Jejak Gereja Tertua Mojokerto Simpan Sejarah Kolonial Berusia 180 Tahunan
Di sepanjang Jalan Mojopahit, nuansa toleransi begitu terasa. Masjid Agung Al-Fattah berdiri megah, berdiri tidak jauh dari Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Mojokerto yang menyuarakan damai dari menaranya. Kebersamaan tercermin dalam berbagai kegiatan sosial bersama, terutama saat hari-hari besar keagamaan.
Momentum Ramadan dan Natal kerap menjadi ajang memperkuat solidaritas antar warga. Suasana damai tidak hanya terasa di kalangan jemaat dan jamaah, tetapi juga dirasakan oleh warga sekitar yang terbiasa melihat keragaman sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang selaras ini menciptakan atmosfer kota yang penuh kehangatan, saling menghargai, dan terbuka bagi siapa saja.
Tidak hanya itu, Vihara Majapahit dan Pura Agung Mojopahit turut memperkaya keragaman religi Mojokerto. Selain menjadi pusat spiritual bagi umat Buddha dan Hindu, keduanya juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh budaya dan ajaran lintas keyakinan.
Vihara dengan patung-patung yang tenang dan taman yang sejuk menawarkan suasana meditatif, sementara Pura yang dihiasi ornamen khas Bali menghadirkan nuansa mistik yang penuh makna. Kehadiran pelajar dan wisatawan dari berbagai daerah menjadikan tempat-tempat ini sebagai jendela keterbukaan, tempat bertemunya spiritualitas dan pendidikan budaya. Tidak jarang pula kegiatan lintas sekolah diadakan di area tempat ibadah tersebut sebagai bagian dari kurikulum pendidikan karakter.
Pemerintah Kota Mojokerto melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berperan aktif dalam menciptakan suasana damai dan saling menghormati. Forum ini rutin mengadakan dialog lintas agama, lokakarya, dan pelatihan toleransi bagi pemuda, tokoh masyarakat, serta pengurus tempat ibadah. Mereka bekerja sama dalam menciptakan sistem komunikasi yang terbuka sehingga potensi konflik dapat diredam sebelum berkembang menjadi permasalahan.
Bentuk nyata dari kerja sama ini terlihat dalam kegiatan bakti sosial, donor darah lintas agama, serta peringatan hari besar nasional yang melibatkan semua unsur keagamaan. Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini membuktikan bahwa keharmonisan tidak hanya bisa dicapai, tetapi juga dapat dirayakan bersama.
Keharmonisan yang dijaga dengan baik di Mojokerto bukan hanya menjadi aset sosial semata, melainkan juga sebuah warisan berharga yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kota ini telah membuktikan bahwa harmoni tidak harus menjadi utopia, tetapi bisa menjadi kenyataan jika dijaga dengan kesadaran dan rasa saling memiliki. Setiap elemen masyarakat, dari pemerintah hingga komunitas kecil, memiliki peran dalam menjaga iklim inklusif yang memungkinkan setiap warga menjalankan keyakinannya dengan tenang dan penuh penghormatan.
Tempat Ibadah Berdampak pada Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Selain menjadi pusat ibadah dan kegiatan rohani, keberadaan tempat-tempat suci ini juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang untuk melihat langsung bagaimana keragaman agama dirayakan dalam kesatuan sosial. Ini membuka peluang usaha kecil, seperti kuliner halal dan vegetarian, toko oleh-oleh religi, hingga jasa pemandu wisata budaya yang memahami nilai-nilai lintas keyakinan. Pemerintah daerah juga mulai mengintegrasikan wisata religi ini ke dalam paket wisata kota, menciptakan sinergi antara promosi budaya dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Tempat ibadah di Mojokerto bukan sekadar bangunan suci, melainkan simbol kebersamaan dan kekuatan dalam keberagaman. Dari setiap lantunan doa yang berbeda, bergema pesan yang sama: persatuan dalam damai. Mojokerto telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan jembatan untuk saling mengenal, memahami, dan bersatu demi masa depan yang harmonis. Kehadiran rumah-rumah ibadah yang saling berdampingan ini menjadi monumen hidup bahwa keberagaman bukan beban, melainkan berkah yang memperkaya kehidupan bersama.
Dengan semangat toleransi yang tumbuh dari akar budaya lokal dan diperkuat oleh kebijakan inklusif, Mojokerto siap melangkah maju sebagai kota modern yang tetap memelihara nilai-nilai kebersamaan. Kota ini mengajarkan bahwa kedamaian bukan hanya tujuan, tetapi perjalanan yang terus diupayakan oleh semua. Lewat harmoni yang terus terjaga, Mojokerto menginspirasi kota-kota lain untuk menjadikan toleransi sebagai pondasi utama dalam membangun peradaban yang damai dan berkeadilan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fawwaz Ravi Akbar/Magang
Editor: Dwi Lindawati







