MOJOKERTO, Tugujatim.id — Di tengah denyut kehidupan modern Mojokerto, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang seolah menantang waktu. Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani No 1 ini bukan sekadar tempat ibadah. Gereja tertua Mojokerto ini penjaga warisan, saksi perjalanan panjang kota, dan cermin dari zaman kolonial Belanda yang masih menyisakan keanggunannya.
Didirikan pada 1843, gereja tertua Mojokerto ini awalnya melayani komunitas Belanda yang tinggal dan menetap pada masa kolonial. Bangunan ini menyimpan nilai historis tinggi karena menjadi pusat spiritual warga Eropa pada zamannya.
Baca Juga: Menelusuri 5 Gereja Mojokerto yang Sarat Sejarah dan Pesona Arsitektur
Arsitekturnya menggabungkan keanggunan neoklasik Eropa dengan adaptasi tropis yang cerdas: dinding tebal untuk meredam panas, langit-langit tinggi yang menciptakan sirkulasi udara alami, dan jendela besar yang memaksimalkan pencahayaan. Pilar-pilar besar dan struktur simetrisnya menunjukkan karakteristik gaya kolonial yang kuat sekaligus menjadi penanda visual khas di antara bangunan modern sekitarnya.
Interior gereja memancarkan kesederhanaan yang elegan. Nuansa masa lalu tetap terjaga melalui detail-detail autentik seperti bangku kayu panjang yang masih digunakan hingga sekarang, mimbar kayu berornamen klasik, serta sebuah organ pipa tua yang menjadi saksi bisu iringan pujian dari generasi ke generasi. Lantainya dilapisi tegel klasik, dan lampu-lampu gantung antik memperkuat kesan historis yang terpancar dalam ruang ibadah tersebut. Setiap sudutnya menyimpan cerita; setiap ukiran, setiap retakan, menjadi bagian dari narasi panjang yang membentuk identitas gereja ini.
Selain arsitektur dan interiornya yang memukau, halaman gereja tertua Mojokerto ini juga memegang nilai tersendiri. Taman kecil yang asri dengan pepohonan rindang dan bangku-bangku tua, menjadi tempat refleksi yang tenang bagi siapa pun yang berkunjung. Di area samping, ada lonceng gereja kuno yang konon masih dibunyikan saat ibadah besar berlangsung. Keberadaan lonceng ini menambah dimensi sejarah yang dapat dirasakan secara nyata dan simbolik.
GPIB Immanuel tidak hanya menjadi rumah rohani bagi jemaatnya, tetapi juga telah menjelma menjadi landmark budaya dan sejarah kota Mojokerto. Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, menjadikan gereja ini sebagai salah satu destinasi utama dalam menjelajahi jejak kolonial kota.
Kegiatan wisata sejarah yang terorganisasi seringkali menjadikan gereja ini sebagai titik awal untuk memahami perkembangan Mojokerto sejak masa penjajahan. Tidak sedikit pula pelajar dan peneliti yang datang untuk mendokumentasikan arsitektur dan kisah di balik bangunan ini, menjadikannya sebagai sumber edukasi sejarah yang berharga.
Peran Gereja Immanuel
Lebih dari sekadar destinasi, gereja ini memainkan peran aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Kegiatan pelayanan sosial seperti pembagian sembako, bakti sosial lintas agama, dan program pendidikan bagi anak-anak sekitar menjadi bagian dari komitmen gereja dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan. Perayaan hari-hari besar keagamaan pun dilakukan dengan penuh kebersamaan, menciptakan suasana harmonis antar umat beragama di wilayah sekitarnya. Lingkungan sekitar gereja pun menjadi bagian dari kehidupan komunitas yang inklusif dan dinamis.
Secara simbolik, GPIB Immanuel adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Bangunan ini berdiri sebagai monumen hidup yang menyampaikan pesan tentang pentingnya merawat sejarah, bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk dijadikan pelajaran.
Dalam keteguhan dinding-dindingnya, tersimpan narasi tentang keuletan, harapan, dan iman yang tetap menyala meski zaman telah berganti. Di tengah perubahan yang cepat dan arus modernisasi yang tidak terbendung, kehadiran gereja ini menjadi penyeimbang, pengingat bahwa akar budaya dan spiritualitas harus tetap dijaga.
Keberadaannya yang telah lebih dari 180 tahun menunjukkan bahwa bangunan tua tidak harus menjadi beban sejarah, melainkan bisa menjadi sumber inspirasi dan identitas. GPIB Immanuel adalah salah satu bukti bahwa arsitektur dan spiritualitas dapat berpadu menciptakan ruang yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bermakna secara mendalam. Ini adalah representasi dari bagaimana sejarah dapat hidup berdampingan dengan masa kini, memberi warna pada kehidupan masyarakat urban.
Bagi warga Mojokerto, gereja ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan lambang kesinambungan nilai-nilai luhur. Di balik keheningan ruang ibadahnya, tersimpan kekayaan kisah dan semangat zaman yang terus bergema.
Dengan perawatan dan pelestarian yang konsisten, GPIB Immanuel diyakini akan terus berdiri tegak, melayani, dan menginspirasi, jauh melampaui usianya yang telah menua. Ini bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga cahaya yang menerangi arah masa depan kota ini — simbol keberlangsungan nilai, iman, dan harmoni yang tak lekang oleh waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fawwaz Ravi Akbar/Magang
Editor: Dwi Lindawati








