• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Gereja Tertua Mojokerto.

GPIB Immanuel, gereja tertua Mojokerto, menjadi simbol jembatan antara masa lalu dan masa kini. (Foto: Google Review/Darrent Tse)

GPIB Immanuel, Jejak Gereja Tertua Mojokerto Simpan Sejarah Kolonial Berusia 180 Tahunan

Dwi Linda by Dwi Linda
1 year ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

MOJOKERTO, Tugujatim.id — Di tengah denyut kehidupan modern Mojokerto, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang seolah menantang waktu. Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani No 1 ini bukan sekadar tempat ibadah. Gereja tertua Mojokerto ini penjaga warisan, saksi perjalanan panjang kota, dan cermin dari zaman kolonial Belanda yang masih menyisakan keanggunannya.

Didirikan pada 1843, gereja tertua Mojokerto ini awalnya melayani komunitas Belanda yang tinggal dan menetap pada masa kolonial. Bangunan ini menyimpan nilai historis tinggi karena menjadi pusat spiritual warga Eropa pada zamannya.

You might also like

Bayi Laki-laki

Penemuan Bayi Laki-laki Dalam Tas Gegerkan Warga Rengel Tuban

04/06/2026 3:30 PM
Event tahunan di Banyuwangi.

Alasan Tak Pernah Sepi Wisatawan, 7 Event Tahunan di Banyuwangi Ini Selalu Jadi Magnet Pengunjung

04/06/2026 1:57 PM

Baca Juga: Menelusuri 5 Gereja Mojokerto yang Sarat Sejarah dan Pesona Arsitektur

Arsitekturnya menggabungkan keanggunan neoklasik Eropa dengan adaptasi tropis yang cerdas: dinding tebal untuk meredam panas, langit-langit tinggi yang menciptakan sirkulasi udara alami, dan jendela besar yang memaksimalkan pencahayaan. Pilar-pilar besar dan struktur simetrisnya menunjukkan karakteristik gaya kolonial yang kuat sekaligus menjadi penanda visual khas di antara bangunan modern sekitarnya.

Interior gereja memancarkan kesederhanaan yang elegan. Nuansa masa lalu tetap terjaga melalui detail-detail autentik seperti bangku kayu panjang yang masih digunakan hingga sekarang, mimbar kayu berornamen klasik, serta sebuah organ pipa tua yang menjadi saksi bisu iringan pujian dari generasi ke generasi. Lantainya dilapisi tegel klasik, dan lampu-lampu gantung antik memperkuat kesan historis yang terpancar dalam ruang ibadah tersebut. Setiap sudutnya menyimpan cerita; setiap ukiran, setiap retakan, menjadi bagian dari narasi panjang yang membentuk identitas gereja ini.

Selain arsitektur dan interiornya yang memukau, halaman gereja tertua Mojokerto ini juga memegang nilai tersendiri. Taman kecil yang asri dengan pepohonan rindang dan bangku-bangku tua, menjadi tempat refleksi yang tenang bagi siapa pun yang berkunjung. Di area samping, ada lonceng gereja kuno yang konon masih dibunyikan saat ibadah besar berlangsung. Keberadaan lonceng ini menambah dimensi sejarah yang dapat dirasakan secara nyata dan simbolik.

GPIB Immanuel tidak hanya menjadi rumah rohani bagi jemaatnya, tetapi juga telah menjelma menjadi landmark budaya dan sejarah kota Mojokerto. Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, menjadikan gereja ini sebagai salah satu destinasi utama dalam menjelajahi jejak kolonial kota.

Kegiatan wisata sejarah yang terorganisasi seringkali menjadikan gereja ini sebagai titik awal untuk memahami perkembangan Mojokerto sejak masa penjajahan. Tidak sedikit pula pelajar dan peneliti yang datang untuk mendokumentasikan arsitektur dan kisah di balik bangunan ini, menjadikannya sebagai sumber edukasi sejarah yang berharga.

Peran Gereja Immanuel

Lebih dari sekadar destinasi, gereja ini memainkan peran aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Kegiatan pelayanan sosial seperti pembagian sembako, bakti sosial lintas agama, dan program pendidikan bagi anak-anak sekitar menjadi bagian dari komitmen gereja dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan. Perayaan hari-hari besar keagamaan pun dilakukan dengan penuh kebersamaan, menciptakan suasana harmonis antar umat beragama di wilayah sekitarnya. Lingkungan sekitar gereja pun menjadi bagian dari kehidupan komunitas yang inklusif dan dinamis.

Secara simbolik, GPIB Immanuel adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Bangunan ini berdiri sebagai monumen hidup yang menyampaikan pesan tentang pentingnya merawat sejarah, bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk dijadikan pelajaran.

Dalam keteguhan dinding-dindingnya, tersimpan narasi tentang keuletan, harapan, dan iman yang tetap menyala meski zaman telah berganti. Di tengah perubahan yang cepat dan arus modernisasi yang tidak terbendung, kehadiran gereja ini menjadi penyeimbang, pengingat bahwa akar budaya dan spiritualitas harus tetap dijaga.

Keberadaannya yang telah lebih dari 180 tahun menunjukkan bahwa bangunan tua tidak harus menjadi beban sejarah, melainkan bisa menjadi sumber inspirasi dan identitas. GPIB Immanuel adalah salah satu bukti bahwa arsitektur dan spiritualitas dapat berpadu menciptakan ruang yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bermakna secara mendalam. Ini adalah representasi dari bagaimana sejarah dapat hidup berdampingan dengan masa kini, memberi warna pada kehidupan masyarakat urban.

Bagi warga Mojokerto, gereja ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan lambang kesinambungan nilai-nilai luhur. Di balik keheningan ruang ibadahnya, tersimpan kekayaan kisah dan semangat zaman yang terus bergema.

Dengan perawatan dan pelestarian yang konsisten, GPIB Immanuel diyakini akan terus berdiri tegak, melayani, dan menginspirasi, jauh melampaui usianya yang telah menua. Ini bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga cahaya yang menerangi arah masa depan kota ini — simbol keberlangsungan nilai, iman, dan harmoni yang tak lekang oleh waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: Fawwaz Ravi Akbar/Magang

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Berita Mojokerto hari iniGereja tertua di MojokertoGPIB Immanuel MojokertoMojokertoMojokerto hari iniSejarah GPIB Immanuel
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Bayi Laki-laki

Penemuan Bayi Laki-laki Dalam Tas Gegerkan Warga Rengel Tuban

by Mochamad Abdurrochim
04/06/2026 3:30 PM
0

TUBAN, Tugujatim.id – Warga Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban digegerkan dengan penemuan bayi laki-laki dalam kondisi meninggal dunia di...

Event tahunan di Banyuwangi.

Alasan Tak Pernah Sepi Wisatawan, 7 Event Tahunan di Banyuwangi Ini Selalu Jadi Magnet Pengunjung

by Dwi Linda
04/06/2026 1:57 PM
0

BANYUWANGI, Tugujatim.id – Event tahunan di Banyuwangi, Jatim, jadi salah satu magnet wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Selain memiliki...

Jemaah haji Kabupaten Malang.

Update 2 Jemaah Haji Kabupaten Malang Wafat di Makkah, Sakit Sempat Dirawat di RS

by Dwi Linda
04/06/2026 1:00 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabar duka datang dari dua jemaah haji Kabupaten Malang yang meninggal dunia di Makkah, Arab Saudi. Mereka...

Probolinggo.

Lukai Diri Sendiri, Perawat RS di Probolinggo Rekayasa Dibegal demi Tutupi Jual Motor sang Ayah

by Dwi Linda
04/06/2026 12:32 PM
0

PROBOLINGGO, Tugujatim.id - Kasus dugaan pembegalan yang sempat menghebohkan warga Kabupaten Probolinggo akhirnya terungkap. Seorang perawat RSUD Waluyo Jati Kraksaan...

Next Post
Tempat ibadah di Mojokerto.

Masjid hingga Pura, Tempat Ibadah di Mojokerto Simbol Kerukunan Umat Beragama

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID