TUBAN, Tugujatim.id – Aroma minyak cendana dan asap kemenyan menyeruak dari sebuah sudut. Ratusan pusaka dari berbagai masa disucikan oleh para anggota Paguyuban Megalamat Tuban. Prosesi tradisi sunyi Jamasan Pusaka ini rutin digelar pada bulan Sura.
Tetapi tradisi ini bukan sekadar ritual rutin. Bagi Paguyuban Megalamat Tuban, jamasan adalah wujud cinta terhadap sejarah dan penghormatan kepada para pendahulu. Tahun ini, sekitar 300 pusaka, mulai dari keris, tombak, hingga alat pertanian kuno disucikan dengan proses khidmat dan sakral.
“Jamasan ini rutin kami gelar setiap bulan Sura sejak 2017. Awalnya memang khusus untuk anggota, tapi masyarakat umum pun boleh ikut, gratis tanpa dipungut biaya,” ujar Ketua Paguyuban Megalamat Tuban, M. Khoirul Muttaqin, saat ditemui disela kegiatan jamasan Tosan Aji, Minggu (29/06/2025).
Ritual dimulai sejak pagi. Prosesi pembukaan, doa, hingga pengambilan air dilakukan sebelum satu per satu pusaka dibuka dari warangkanya. Air yang digunakan bukan air biasa. Dikenal sebagai air empat jipat, air ini diambil dari empat penjuru mata angin dan lima sumber berbeda, kemudian dicampur dengan bunga dan air kelapa. Untuk mengangkat karat membandel, perasan jeruk nipis jadi pilihan.
“Jeruk itu membantu mempercepat proses pengelupasan karatnya,” terang Khoirul.

Setelah dibersihkan, pusaka ‘ditarang’ yakni diasapi dengan bara api yang dicampur kemenyan agar logamnya lebih awet dan tidak keropos. Minyak khusus seperti minyak singer pun dioleskan sebagai pelindung tambahan agar pusaka tetap kuat meski disimpan dalam warangka bertahun-tahun.
Berbeda dari anggapan umum, jamasan ini bukan ritual mistik. Tidak ada embel-embel pesugihan, tuah, atau semacamnya.
“Tujuan utamanya cuma satu yakni merawat warisan budaya. Ini bentuk tanggung jawab kita menjaga apa yang diwariskan leluhur,” tegasnya.

Pusaka-pusaka yang dibersihkan pun tidak hanya berasal dari masa Majapahit atau Mataram. Beberapa bahkan diperkirakan berasal dari era Kabudan, yang menurut para sesepuh merupakan periode tertua. Ada juga dari masa Kamardikan, sebutan untuk masa setelah kemerdekaan.
Tak hanya benda-benda pusaka seperti keris dan tombak, alat-alat kerja sehari-hari seperti arit hingga gong pun ikut dijamaskan. Dalam istilah mereka, itu disebut wasi-wasi, yakni benda berbahan logam atau kayu yang digunakan untuk mencari nafkah.
BACA JUGA: Sandur Tuban Bakal Tampil di Panggung Museum Tantular, Angkat Budaya Jadi Daya Tarik Wisata
Meski zaman terus berubah, Paguyuban Megalamat Tuban berkomitmen menjaga tradisi ini tetap hidup. Bukan karena ingin mengulang masa lalu, tapi karena ingin belajar dan memberi makna pada sejarah.
“Kalau kita enggak rawat sekarang, siapa lagi? Pusaka ini bukan cuma benda, tapi saksi perjalanan hidup leluhur kita,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








